Warga Huntara Lewotobi: Keluhan Air Bersih dan Akses Sekolah di Pengungsian Jadi Sorotan

Warga Huntara Lewotobi, korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan air bersih dan akses pendidikan. Bagaimana respons pemerintah daerah?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Warga Huntara Lewotobi: Keluhan Air Bersih dan Akses Sekolah di Pengungsian Jadi Sorotan
Warga Huntara Lewotobi, korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, menghadapi tantangan serius terkait ketersediaan air bersih dan akses pendidikan. Bagaimana respons pemerintah daerah? (Merdeka.com)

Ratusan kepala keluarga yang menjadi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur kini menempati hunian sementara (huntara). Mereka bermukim di Dusun Kampung Baru, tepatnya di huntara 1 dan 2 Desa Konga, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Kehidupan di pengungsian ini tidak lepas dari berbagai kendala mendasar yang sangat mempengaruhi kualitas hidup mereka sehari-hari.

Dalam sebuah dialog langsung dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, warga menyampaikan keluhan mereka. Kepala Dusun Kampung Baru, Yohanes Fandi Benediktus, menjadi juru bicara yang mengutarakan berbagai permasalahan. Kunjungan Gubernur ini menjadi momen penting bagi warga untuk menyuarakan aspirasi mereka secara langsung kepada pihak berwenang.

Permasalahan utama yang diungkapkan meliputi keterbatasan akses air bersih, jauhnya jarak menuju sekolah menengah, serta kondisi lingkungan yang sering dilanda banjir. Selain itu, pelayanan kesehatan yang masih minim juga menjadi sorotan. Semua keluhan ini menggambarkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi para Warga Huntara Lewotobi dalam upaya mereka untuk bangkit kembali.

Kondisi di huntara Konga, yang menampung sekitar 400 kepala keluarga, memang jauh dari ideal. Yohanes Fandi Benediktus menjelaskan bahwa ketersediaan air bersih sangat terbatas, memaksa warga untuk berhemat atau mencari sumber air dari lokasi yang lebih jauh. Akses pendidikan juga menjadi isu krusial, di mana sekolah menengah berada pada jarak yang cukup jauh, menyulitkan anak-anak untuk menempuh pendidikan secara rutin.

Tidak hanya itu, lingkungan huntara juga rentan terhadap bencana alam lain seperti banjir, yang sering terjadi dan mengganggu aktivitas warga. Pelayanan kesehatan yang belum memadai menambah daftar panjang kesulitan yang dihadapi. Warga Huntara Lewotobi juga mengeluhkan keterbatasan benih dan pupuk, yang sangat penting bagi mereka yang mayoritas adalah petani. Hilangnya lahan garapan akibat erupsi semakin memperparah kondisi ekonomi mereka.

Bantuan beras yang diterima juga dianggap belum mencukupi kebutuhan sehari-hari seluruh anggota keluarga. Meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan, semangat kemandirian tetap terpancar dari Warga Huntara Lewotobi. Mereka berinisiatif membentuk kelompok tani antar desa dan menggarap lahan bersama dengan sumber daya yang ada, menunjukkan ketangguhan mereka dalam menghadapi situasi sulit.

Warga sangat berharap pemerintah dapat segera merealisasikan pembangunan hunian tetap (huntap) sebagai solusi jangka panjang. Beberapa lokasi, seperti Nobeleto, telah dipertimbangkan sebagai lahan potensial untuk pembangunan huntap, yang akan memungkinkan pengungsi memiliki tempat tinggal permanen dan memulai hidup baru. Kunjungan Gubernur Melki Laka Lena dinilai sebagai bentuk perhatian nyata pemerintah provinsi terhadap kondisi para pengungsi korban erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Dalam kunjungannya, Gubernur Melki tidak hanya mendengarkan keluhan, tetapi juga menyalurkan bantuan makanan dan mengecek langsung kebutuhan sehari-hari warga. Ini termasuk memastikan ketersediaan air bersih, kondisi sanitasi, dan akses pendidikan bagi anak-anak. Respon cepat dari pemerintah provinsi diharapkan dapat meringankan beban Warga Huntara Lewotobi.

Menanggapi keluhan tersebut, Gubernur Melki menegaskan bahwa pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten akan bekerja sama menyiapkan solusi komprehensif. Solusi ini mencakup kebutuhan jangka pendek di huntara dan rencana pembangunan hunian tetap. Khusus untuk bidang pendidikan, Gubernur meminta warga mendata nama anak-anak sekolah dasar hingga menengah pertama untuk diserahkan ke bupati, sementara data siswa SMA dan SMK akan diserahkan ke pemerintah provinsi.

Bagi mahasiswa, Gubernur berkomitmen untuk mengupayakan beasiswa atau keringanan biaya melalui koordinasi dengan LLDIKTI Wilayah NTT dan pimpinan perguruan tinggi di provinsi. "Nama-nama anak kuliah serahkan ke kami. Saya akan minta Kepala LLDIKTI wilayah NTT membicarakannya dengan pimpinan kampus agar bisa dapat beasiswa atau keringanan biaya," ujar Gubernur Melki, menutup dialog yang penuh harapan tersebut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi