Video viral di media sosial (medsos) memperlihatkan ribuan ikan mati di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng).
Kabar yang diunggah dalam akun Instagram @infopanturademak menyebut bahwa fenomena matinya ribuan ikan di daerah pesisir Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak sudah terjadi berkali-kali, dan hal itu terjadi bukan karena faktor pencemaran air.
"Itu sudah berkali-kali mati di situ. Mungkin sekitar tiga bulan lalu, banyak ikan juga mati di sekitar Sayung," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Endi Faiz Effendi, Sabtu (29/11).
Dia menyebut bahwa, area di sekitar tempat ditemukannya ribuan ikan mati memang dikelilingi pabrik-pabrik. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan petugas bahwa tidak ada pencemaran lingkungan oleh pelaku industri di daerah tersebut.
Advertisement
"Saya kira tidak ada pencemaran di sana. Cuma memang kondisi airnya jelek sekali di sana. Kondisi oksigen terlarutnya kurang, rendah sekali," ungkapnya.
Saat ini, pihak DKP Provinsi Jateng sebelumnya sudah pernah menerjunkan tim untuk memeriksa dan meneliti penyebab matinya ribuan ikan secara mendadak pesisir Desa Bedono, Sayung, Kabupaten Demak.
"Lab-lab kesehatan ikan, kami minta untuk mengecek kondisi bangkai ikan dan perairan di sana, dan tidak ada ditemui pencemaran seperti logam-logam berat," ujarnya.
Ribuan ikan yang mati sebelumnya maupun terbaru, merupakan ikan yang dibudidayakan di tambak.
Advertisement
"Banyak kolam-kolam tambak yang idle, kemudian oleh penduduk dimanfaatkan untuk ditebar ikan-ikan, seperti nila atau bandeng," jelasnya.
Daerah pesisir Desa Bedono memang kurang layak dijadikan lokasi atau tambak budi daya. Selain berdekatan dengan pabrik-pabrik, daerah tersebut juga kerap terimbas rob.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Demak, Sudarwanto membenarkan informasi tersebut. Ribuan ikan di Sayung dilaporkan mati mengambang pada Jumat 28 November 2025 dini hari. Namun, ada dugaan ikan-ikan itu mati karena proyek tol Semarang-Demak.
"Ini tol Semarang-Demak, karena terjebak pada perbedaan kadar garam. Sehingga ikan tidak mampu adaptasi,” pungkasnya.