Viral Kontroversi Stand Up Pandji Kritik Politikus, Peneliti Bahasa: Humor Memang Selalu Politis

Penggunaan humor sebagai alat politik dapat ditemukan di berbagai kebudayaan dan era kekuasaan.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Viral Kontroversi Stand Up Pandji Kritik Politikus, Peneliti Bahasa: Humor Memang Selalu Politis
Viral Kontroversi Stand Up Pandji Kritik Politikus, Peneliti Bahasa: Humor Memang Selalu Politis (Merdeka.com)

Komika Pandji Pragiwaksono yang mengkritik sejumlah politisi termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam sebuah pertunjukan bertajuk Mens Rea di Jakarta menjadi kontroversi. Parodi yang dikemas standup komedi tersebut menjadi kontroversi karena dinilai politis.

Peneliti bahasa dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) Rahmat Petuguran mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukannya, linguis muda bahwa penggunaan humor sebagai alat politik dapat ditemukan di berbagai kebudayaan dan era kekuasaan.

"Humor bisa digunakan oleh penguasa untuk memperkuat dominasi dan hegemoni, tetapi juga bisa digunakan masyarakat tertindas untuk melakukan perlawanan. Bentunya bisa beragam, dari satir, parodi, sampai anekdot,” kata Rahmat Petuguran.

Menurutnya humor yang dibawakan oleh seorang stadup berangkat dari kegelisahan dan intensi penciptanya. Kegelisahan tersebut diekspresikan secara kreatif dengan skrip yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, dan kejutan.

"Humor biasanya ditulis dalam beberapa jenis skrip. Skrip tersebut dikembangkan dari asumsi, pengetahuan umum, dan kegelisahan bersama. Kalau tidak ada ketiga hal itu, humor tidak akan efektif karena tidak relate dengan penikmatnya,” ungkapnya.

Humor Selalu Politis

Adapun sifat politis humor ditemukan Rahmat dalam berbagai era humor di Indonesia, dari humor tradisi seperti ketoprak, lenong, dan ludruk, hingga humor modern dan digital berbentuk komedi tunggal (stand up comedy) dan sketsa.

"Jadi humor bersifat politis karena diciptakan dari latar belakang sosial-budaya yang juga politis," ujarnya.

Bahkan ketika digunakan dalam komunikasi antarpribadi, lanjut Rahmat, humor tetap bersifat politis.

Misalnya, ada humor etnik yang cenderung mendeskreditkan etnik tertentu, ada humor seksis yang menjadikan perempuan sebagai bahan lelucon, sampai humor politik yang menjadikan tokoh politik sebagai target.

"Humor tidak pernah hanya menjadi candaan. Justru ketika humor diklaim sebagai ‘sekadar candaan’, ‘hanya guyon’, atau ‘just kidding’, sifat politisnya justru makin tampak. Klaim itu sengaja dipakai supaya sifat politis humor tidak hanya satu arah. Sebagai salah satu genre wacana, selama ini humor digunakan oleh pihak yang berkuasa dan pihak pengkritik kekuasaan," jelasnya.

Pada tahun 2024, Rahmat pernah meneliti humor presiden dan menemukan bahwa presiden seperti Sukarno, Gus Dur, SBY, dan Jokowi sama-sama memberdayakan humor untuk mencapai tujuan komunikasinya.

"Dari penelitian itu ditemukan bahwa Jokowi adalah Presiden yang paling produktif menggunakan humor agresif," ujarnya.

Ia menilai wajar jika Pandji menggunakan humor sebagai bentuk kritik sosial. Selain punya keunggulan emosional, humor jadi alat kritik paling cerdas karena juga punya bobot estetik dan intelektual.

"Pilihan dan gaya humor merepresentasikan kecerdasan penggunanya. Di sisi lain, sikap dan respons penguasa terhadap humor akan membuktikan kecerdasan dan kedewasaan pemerintah sebagai target kritik,” pungkasnya.

Rekomendasi