Vidio resmi mengumumkan perilisan serial terbaru Vidio Original Series berjudul 'Bad Guys', sebuah adaptasi dari drama kriminal Korea Selatan yang sukses besar. Film ini diproduksi oleh BASE Entertainment yang merupakan kolaborasi dengan CJ ENM Hong Kong Limited.
Serial ini menawarkan pengalaman aksi yang intens, alur cerita menegangkan dan karakter kompleks yang akan membawa penonton ke dalam dunia kejahatan dengan pendekatan khas Indonesia.
Sederet aktor yang memainkan film ini yakni Okan Antara, Dwi Sasono, Randy Pangalila, Maudy Effrosing, dan Omara Esteghlal.
Series ini berkisah tentang Jaka diperankan Okan Antara, seorang perwira menangah kepolisian berpangkat Komisaris Besar yang tengah menyelidiki serangkaian pembunuhan berantai terkait dengan korupsi dalam sistem peradilan.
Namun, upaya Jaka menegakkan keadilan berubah menjadi tragedi ketika putrinya sendiri menjadi korban. Hal itu membuat Jaka terjerumus dalam penderitaan emosional yang mendalam.
Terbatas oleh birokrasi, Jaka memutuskan untuk bertindak di luar jalur dengan membentuk tim yang tak biasa, yaitu tiga kriminal yang pernah dijebloskannya ke penjara.
Mereka adalah seorang petarung yang juga merupakan tangan kanan kartel gembong narkoba yang mempunyai koneksi dunia bawah tanah bernama Anton diperankan Dwi Sasono, penipu ulung Hoidar diperankan Randy Pangalila dan hacker handal Elias diperankan Omara Esteghial.
Mereka bergabung dalam misi bersama Sekar diperankan Maudy Effrosina, seorang perwira polisi berdedikasi yang tak hanya mengawasi tim, tetapi juga menjadi partner penting, yang membantu mereka menyelesaikan tugas berbahaya ini.
Mereka bersama-sama menempuh jalur tak konvensional demi menegakkan keadilan yaitu 'Ketika Penjahat Tangkap Penjahat'.
Meskipun karya ini berasal dari Korea, tetapi film Bad Guys memiliki fleksibilitas dalam format dan tema, memungkinkan menjadi sebuah karya adaptasi yang terasa khas Indonesia.
"Bad Guys dalam versi Indonesianya menghadirkan adegan aksi yang Intens, kedalaman emosi yang kuat, serta sentuhan lokal yang khas, menggabungkan elemen ketegangan dan humor yang relevan bagi penonton Indonesia, baik melalui karakter, latar, maupun tema yang mencerminkan berbagai aspek masyarakat Indonesia," kata Executive Producer serial Ini sekaligus Partner & Chief Executive BASE Entertainment, Shanty Harmayn, Rabu (19/2).
Menurut Shanty, serial ini menyajikan perpaduan menarik antara aksi, drama, dan sentuhan humor. "Yang membuatnya semakin menarik adalah penggambaran karakter dengan kompleksitas moral yang beragam, menunjukkan bahwa batas antara yang benar dan salah tidak selalu hitam dan putih," sambung Shanty.
Shanty mengatakan, pendekatan dalam proses produksi film juga memberikan kedalaman cerita serta keterkaitan emosional yang kuat bagi penonton Indonesia.
Sementara itu, Chief of Content and Strategy Vidio, Mark Francis mengatakan, serial Bad Guys menandai langkah besar Vidio dalam menghadirkan konten Internasional dengan pendekatan lokal yang autentik.
Mark meyakini Bad Guys akan menjadi sesuatu yang fun dan fresh buat para pecinta film aksi dan kejahatan. Sekaligus dapat membuka jalan bagi Vidio untuk lebih banyak melakukan eksperimen di masa mendatang.
"Kami terus berinovasi untuk memberikan pengalaman menonton berkualitas bagi penonton Indonesia, salah satunya dengan mengambil inspirasi dari karya yang sudah terbukti kualitasnya di level internasional. Dengan tim kreatif dan para pemain terbaik," ujar Mark.
Sebagai proyek besar (tentpole) dengan 10 episode, yang melibatkan adegan action dan ensemble cast minimal 3-5 aktor dalam setiap adegan, maka Bad Guys ini digawangi oleh dua sutradara andal yaitu Ferry Pei Irawan dan William Chandra.
Keduanya dikenal banyak melahirkan karya film dan series yang mempunyai ciri khas masing-masing. Di samping itu, menyatukan dua gaya penyutradaraan dapat memberikan perspektif yang lebih kaya untuk serial ini dan saling melengkapi secara kreatif.
“Dari sisi penyutradaraan, pendekatan adegan aksi dan kriminal dalam series Bad Guys ini dilakukan secara lebih realistis dan brutal. Kami membayangkan 'bagaimana jika ini beneran terjadi?'. Contohnya kami lebih memilih menggunakan senjata tajam dibandingkan dengan senjata api karena di Indonesia lebih lazim dan kita lebih relate," jelas William.
"Adapun secara visual, kami menggunakan pendekatan yang kasar dan organik dengan harapan penonton dapat merasakan sebuah dunia para penjahat yang keras tetapi believable," tambahnya.
Sementara itu, Ferry menyampaikan, dari gaya penyutradaraannya, dia lebih banyak menekankan bagaimana menciptakan tensi pada shot yang dibuat.
“Saya memanfaatkan ruang geografis yang kami miliki dengan kalkulasi teknis yang tepat untuk membuat semuanya efisien namun cukup stulish. Dan tentunya tetap dengan pendekatan gaya street fighting yang melekat dengan masyarakat Indonesia," ungkap Ferry.
Selain itu, Oka Antara mengungkapkan, Bad Guys menajamkan lagi sisi ke aktorannya. Karena, dalam film ini dirinya mendapatkan peran yang kompleks.
"Menjadi seorang ayah yang kehilangan anak karena dibunuh, sekaligus polisi workaholic yang terobsesi dengan kasus-kasus rumit, adalah tantangan emosional yang berat, belum lagi tantangan fighting Choreography yang menuntut fisik," ujar Oka.
"Dalam banyak hal, saya dan Jaka punya kesamaan: obsesi, kegigihan dalam bekerja, dan kesulitan menerima aturan dari atasan, jadi stresnya sudah terasa sejak awal. Tetapi di balik semua itu, pengalaman dalam proyek Bad Guys ini tetap menyenangkan. Bapack-bapack jokes for life, pokoknya!," tambahnya.
Sedangkan, Dwi Sasono mengaku terlibat dalam Bad Guys ini karena merasa terpanggil. Dalam mengambil sebuah proyek, seperti biasa dirinya mengawalinya dengan membaca skrip terlebih dahulu .
"Dari hasil membaca sinopsisnya hingga mengetahui karakternya, proses yang menentukan adalah saya terpanggil atau tidak. Nah, untuk series Bad Guys ini saya merasa terpanggil. Apa yang mau disampaikan di dalam ceritanya sungguh menarik, di mana manusia akan mengalami fase yang ditampilkan di series Bad Guys ini,” ucap Dwi.
Adapun Randy Pangalila menyatakan, perannya di Bad Guys ini adalah lompatan baru baginya di dunia series, karena sebelumnya dia banyak berperan dalam genre non action.
“Persiapan proyek ini cukup lama, jadi kami benar-benar bisa mendalami karakternya. Bagaimana seorang Haidar itu bertindak dan apa yang mendasari perilakunya. Tantangan terbesar saat syuting adalah adegan penyiksaan di basement Kota Tua, dengan oksigen minim dan syuting semalaman hingga matahari terbit," papar Randy.
"Apalagi Haidar disiksa tanpa baju, membuat aspek keselamatan lebih menantang. Selain itu, menyeimbangkan aksi serius dengan karakter Haidar yang fun tapi punya sisi emosional mendalam juga bukan hal mudah. Saya bahkan membuat catatan kecil di naskah untuk memastikan setiap adegan tetap sesuai dengan karakternya,” sambungnya.
Sama halnya dengan Omara Esteghial, dia harus melakukan riset khusus karena peran yang dijalankan adalah sosok hacker yang jago mengoperasikan perangkat komputer.
"Memerankan Elias di Bad Guys adalah tantangan yang seru. Sebagai seorang hackerjenius, Elias punya cara berpikir yang unik dan selalu selangkah lebih maju. Saya banyak melakukan riset, menonton film-film bertema hacker, dan mendalami bagaimana mereka bekerja," kata Omara.
"Itu membantu saya memahami bukan hanya teknisnya, tapi juga mindset seorang hacker, seperti rasa ingin tahu yang besar, kecepatan berpikir, dan keberanian mengambil risiko. Semua itu yang membuat saya yakin untuk mengambil peran ini,” sambungnya.
Lalu, Maudy yang berperan sebagai Sekar, satu-satunya perempuan di antara para laki-laki, mengaku mempunyai perasaan campur aduk, antara senang tetapi juga deg-degan karena ada banyak aspek yang harus diperhatikan.
“Menjadi polisi wanita, saya harus menampilkan adegan aksi dan bersikap tegas, terutama terhadap atasan dan para kriminal, agar terlihat meyakinkan. Untuk mendalami karakter ini, saya banyak mengamati sosok-sosok dominan di lingkungan yang mayoritas laki-laki, baik di dunia nyata maupun dalam film, untuk memahami cara mereka menghadapi situasi," ungkap Maudy.
"Untungnya, proses dari persiapan hingga syuting berjalan lancar dan sangat menyenangkan, apalagi dengan lawan main yang suportif. Kami selalu berdiskusi sebelum adegan dimulai, sehingga saat take tidak ada kebingungan,” imbuhnya.
Diketahui, film yang akan tayang eksklusif di Vidio mulai 21 Februari 2025 dengan total 10 episode ini juga ada sejumlah nama lainnya yang totalitas memberikan kemampuan akting terbaiknya.
Sehingga tercipta relationship dan chemistry yang unik dan genuine di antara mereka. Mereka seperti Ibnu Jamil, Surya Saputra, Kenes Andari, Marcellino Lefrandt, Arfian Arisandy, Verdi Solaiman dan Nayla D Purnama.
Advertisement