Usut Laporan, Polisi Bakal Panggil Anji dan Hadi Pranoto

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengungkapkan, pihaknya sedang menelaah laporan tersebut.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Usut Laporan, Polisi Bakal Panggil Anji dan Hadi Pranoto
Hadi Pranoto. ©2020 Istimewa

Polda Metro Jaya segera mengusut dugaan penyebaran berita bohong atau hoaks yang dilakukan oleh Hadi Pranoto dan musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji atas klaim penemuan obat Covid-19.

Polisi menyelidiki kasus ini setelah menerima laporan Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidi.

Dalam laporan tersebut, Muannas mengatakan, wawancara yang tayang di akun Youtube Anji pada Sabtu, 1 Agustus 2020 banyak ditentang terutama akademisi, ilmuwan, ikatan dokter Indonesia (IDI), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Sehingga, Muannas Alaidi meminta bantuan pihak kepolisian untuk membuktikan kebenaran pernyataan yang disampaikan Hadi Pranoto. Salah satunya mengenai penemuan obat Covid-19.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus mengungkapkan, pihaknya sedang menelaah laporan tersebut.

"Laporan sudah kita terima nanti akan diteliti dulu, baru nanti penyelidikan," katanya saat dihubungi, Selasa (4/8).

Dia menyebut sejumlah orang akan dimintai keterangan sebagai saksi. Dua diantaranya adalah Hadi Pranoto dan musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji.

"Rencana akan kita klarifikasi dulu pelapor dan saksi-saksi dengan membawa bukti-bukti yang ada. Termasuk terlapor Hadi Pranoto sama pemilik akun youtube dunia manji akan kita panggil. Kita undang untuk klarifikasi. Kemudian setelah itu nnti ada beberapa saksi-saksi ahli," ujarnya.

Sebelumnya, Muannas menyampaikan pernyataan Hadi Pranoto dapat memunculkan persepsi negatif terhadap tenaga medis yang selama ini berjuang mengobati dan menekan angka Covid-19 di Indonesia. Dia pun membeberkan beberapa pertanyaan yang dianggap bisa bikin gaduh di tengah-tengah masyarakat.

"Pertama adalah menyangkut tentang swab dan rapid test, dikatakan di situ dia punya metode dan uji yang jauh lebih efektif dengan yang dia namakan dengan digital teknologi itu biayanya cukup Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. Nah ini kan sangat merugikan pihak rumah sakit yang mana sebagaimana kita ketahui bahwa rapid da swab itu bisa menyentuh angka ratusan ribu bahkan jutaan," papar dia.

"Jangan sampai ini dipercaya sama publik dan publik beranggapan berarti selama ini masyarakat diperas dibodohi bahwa ada pihak yang kemudian mengambil keuntungan. Nah ini kan berbahaya," sambung dia.

Belum lagi, pernyataan Hadi Pranoto terkait telah menemukan obat Covid-19. Menurut dia, banyak pihak yang meragukan terutama dari Ikatan Dokter Indonesia.

"IDI sendiri sudah melakukan bantahan bahwa kalau obat harus dilakukan uji klinik. Bahkan Menkes menegaskan bahwa penemuan itu dianggap tidak jelas," ucap dia.

Muannas khawatir, jika konten itu dibiarkan apalagi dipercaya dapat mengubah pada perilaku yang selama ini sudah menaati protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

"Nah ini artinya sudah menyebarkan berita bohong yang kemudian bisa menimbulkan keresahan dan sangat kontraproduktif, jangan sampe masyarakat percaya bahwa obatnya sudah dianggap ketemu, kemudian orang tidak menggunakan masker, tidak physical distancing," ucap dia.

Reporter: Ady Anugrahadi
Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi