Upacara HUT RI di Lahan Terbakar Riau, Bendera Merah Putih Diikat Kayu

Minggu, 18 Agustus 2019 01:03 Reporter : Abdullah Sani
Upacara HUT RI di Lahan Terbakar Riau, Bendera Merah Putih Diikat Kayu Upacara HUT RI di lahan terbakar Riau. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Puluhan tim gabungan Polres Pelalawan dan Pegawai Balai Taman Nasional Tesso Nilo melaksanakan upacara memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-74, Sabtu (17/8) di lokasi bekas lahan terbakar. Meski lahan itu masih dilakukan pendinginan, tetapi mereka tetap semangat demi mengibarkan bendera merah putih.

"Mereka sudah beberapa hari bermalam di sana. Karena hari ini bertepatan HUT RI ke 74, ada yang membawa bendera ke lokasi. Lalu petugas melaksanakan upacara bendera," ujar Kapolres Pelalawan AKBP Kaswandi Irwan kepada merdeka.com.

Kaswandi menjelaskan, lokasi upacara di lahan terbakar flaying scoad TNTN Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Lahan di sana sudah terbakar sejak beberapa hari, dan saat ini sedang pendinginan agar api tidak merembet.

©2019 Merdeka.com

Kasat Narkoba Polres Pelalawan Iptu Romi Irwansyah bertindak sebagai inspektur upacara. Dari kepolisian, ada 14 personel, pegawai Balai TNTN 14 orang.

"Di lokasi lahan yang terbakar itu tinggal pendinginan, tetap dilaksanakan setelah upacara. Jadi, tugas tetap tugas, upacara dilaksanakan juga karena wajib," tegas Kaswandi.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengaku telah mengantongi data cukong atau perambah lahan Taman Nasional Tesso Nilo, yang menguasai lahan di kawasan konservasi itu hingga ribuan hektare.

"Siapa yang punya tiga hektare dan siapa yang punya 3.000 hektare, kita sudah ada petanya, datanya," ujar Menteri LHK Siti Nurbaya saat kunjungan ke Pelalawan.

Kondisi TNTN yang seharusnya bebas dari kebun-kebun sangat memprihatikan. Kebakaran tersebut sangat tidak mungkin akibat ketidaksengajaan, sebab menurut dia ada kelompok tertentu yang telah membuat zonasi di areal konservasi itu.

Taman Nasional Tesso Nilo adalah kawasan konservasi, yang salah satunya berfungsi sebagai habitat asli satwa endemik gajah sumatera (elephas maximus sumatranus).

Awalnya, luas TN Tesso Nilo adalah 38.576 hektare (ha) berdasarkan surat keputusan menhut No.255/Menhut-II/2004. Kemudian kawasan konservasi itu diperluas menjadi 83.068 ha dengan memasukkan areal hutan produksi terbatas yang berada di sisinya, berdasarkan SK No.663/Menhut-II/2009. Namun, kerusakan yang terjadi di kawasan itu akibat perambahan sudah sangat massif yang mengubah bentang alam hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini