Unila Ungkap Hasil Investigasi Kematian Mahasiswa saat Diksar Mapala: Ada Kekerasan & Keterlibatan Senior
Tim juga menemukan tindakan tindak kooperatif organisasi mahapel saat investigasi dilakukan.
Universitas Lampung akhirnya buka suara soal dugaan kekerasan yang dialami mahasiswa saat mengikuti pendidikan dasar (diksar) Mahasiswa Ekonomi Pencinta Lingkungan (Mahepel) Universitas Lampung. Akibat kekerasan itu, satu orang mahasiswa Pratama Wijaya Kusuma meninggal dunia.
Hal ini disampaikan Wakil Rektor Bisang Kemahasiswaan dan Alumni Unila, Prof Sunyono saat ditemui di Unila Rabu (18/6).
Hasil investigasi yang dilakukan menemukan adanya kekerasan fisik dan psikis yang dialami para peserta diksar tersebut. Bentuk kekerasan yang dimaksud dengan mencelupkan kepala ke lumpur, pemukulan, pemaksaan aktivitas ekstrem dalam kondisi tidak aman, serta penghinaan verbal.
Temuan kedua, ada temuan keterlibatan aktif sejumlah alumni dan senior sebagai pelaku kekerasan atau membiarkan kekerasan terjadi yang bertentangan dengan prinsip keselamatan dan pembinaan dalam pendidikan.
"Lalu ditemukan adanya kelalaian struktural di tingkat fakultas, ditandai dengan lemahnya supervisi Wakil Dekan III, pembiaran oleh Dosen Pembina Lapangan (DPL) absennya verifikasi dan pengawasan kegiatan yang dilaksanakan di luar kampus," kata Sunyono.
Tim investigasi juga menemukan tindakan tindak kooperatif organisasi mahapel. Termasuk penolakan memberikan data, menghindar dari proses klarifikasi, serta tidak membuka akses atas dokumen kegiatan yang relevan.
“Berdasarkan regulasi-regulasi ini, setiap bentuk kekerasan, pembiaran terhadap pelanggaran, dan kegagalan dalam pengawasan kegiatan kemahasiswaan harus ditindaklanjuti secara tegas dan sistematis,” tegas Sunyono.
Sebelumnya diberitakan Pratama Wijaya Kusuma meninggal usai mengikuti kegiatan Diksat Mahapel di Gunung Betung, Pesawaran, Lampung pada 14-17 November 2024.
Dalam kegiatan diksar itu Pratama mendapatkan tindakan kekerasan. Tak hanya itu 5 peserta lainnya pun mendapat kekerasan yang sama, hingga satu peserta bernama Faris mengalami gangguan para telinga akibat tamparan yang diterima dan tak melanjutkan perkuliahan.