TNI-Polri Berjibaku Bersihkan Lumpur di SDN 1 Kuala Simpang Aceh Tamiang Pasca Banjir
Personel gabungan TNI-Polri berjibaku membersihkan lumpur di SD Negeri 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang, pascabanjir demi mempercepat pemulihan sekolah. Upaya pembersihan lumpur di Aceh Tamiang ini dilakukan secara manual untuk mengembalikan aktivitas belaja
Personel gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berjibaku membersihkan lumpur yang mengendap di SD Negeri 1 Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Aksi ini dilakukan pascabanjir yang melanda wilayah tersebut, dengan tujuan utama mempercepat pemulihan sekolah agar kegiatan belajar mengajar dapat segera kembali normal.
Komandan Tim (Dantim) 1 SST 3 Yon Zipur 10/Jaladri Palaka Divisi 2/Infanteri Kostrad, Letda Cke Yudha Bahtiar, menjelaskan bahwa pihaknya diperbantukan dalam upaya penanganan pascabencana banjir. Bantuan ini difokuskan pada pembersihan sekolah sebagai bagian dari respons cepat terhadap dampak bencana.
Proses pembersihan telah berlangsung hampir 10 hari dan dilakukan secara manual menggunakan alat-alat sederhana seperti arco, cangkul, serta sekop. Keterbatasan akses untuk alat berat menjadi salah satu tantangan utama di lapangan.
Tantangan Pembersihan Manual di Bangunan Cagar Budaya
Pembersihan lumpur di SDN 1 Kuala Simpang menghadapi tantangan unik karena bangunan bagian depan sekolah merupakan cagar budaya. Letda Yudha Bahtiar menyampaikan bahwa informasi dari kepala sekolah dan guru mengindikasikan bangunan tersebut tidak boleh dibongkar. Kondisi ini menghalangi masuknya alat berat seperti ekskavator dan dump truck ke area sekolah, sehingga seluruh proses harus dilakukan secara manual.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat personel gabungan TNI-Polri yang diturunkan. Mereka tetap bekerja maksimal tanpa merusak bangunan, memilih jalur normal pembersihan, dan menggunakan peralatan yang telah disiapkan komando atas. Lumpur dikeluarkan secara bertahap, menunjukkan dedikasi tinggi para personel dalam tugas kemanusiaan ini.
Lebih dari 10 ruang kelas terdampak lumpur, dengan ketinggian yang bervariasi. Di luar ruangan, ketinggian lumpur mencapai selutut, sementara di dalam kelas tertentu bisa mencapai sepinggang orang dewasa. Perbedaan ketinggian ini disebabkan oleh kontur bangunan sekolah yang lebih rendah dari halaman, bukan karena amblas, sehingga lumpur tertahan dan harus diangkat secara manual.
Kendala Logistik dan Target Penyelesaian Pembersihan
Dalam operasi pembersihan ini, sekitar 35 personel TNI-Polri diterjunkan setiap hari. Selama dua hari terakhir, kekuatan personel diperkuat dengan bantuan 20 taruna Akademi Militer (Akmil) dan Akademi Kepolisian (Akpol), sehingga total mencapai 55 personel.
Kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah keterbatasan pasokan air untuk membersihkan lantai dan dinding. Mereka hanya mengandalkan tandon kecil serta suplai bergilir dari pemadam kebakaran, yang dirasa kurang memadai. Oleh karena itu, Letda Yudha berharap adanya dukungan sumur bor agar pembersihan dapat lebih efektif, terutama untuk mengatasi lumpur yang mengeras dan menempel kuat di keramik serta dinding ruang kelas.
Pembersihan dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga sore sekitar pukul 17.30 WIB, menyesuaikan cuaca dan kondisi keselamatan. Hujan deras berisiko menyebabkan personel terpeleset atau mengalami kecelakaan kerja, sehingga menjadi pertimbangan dalam jadwal kerja. Hingga saat ini, sekitar tujuh ruang kelas telah berhasil dibersihkan dan sebagian sudah layak digunakan, bahkan telah dimanfaatkan sebagai ruang belajar.
TNI-Polri menargetkan pembersihan lumpur di SDN 1 Kuala Simpang rampung dalam dua pekan ke depan. Setelah itu, personel akan berpindah untuk membantu sektor lain yang masih terdampak parah akibat banjir.
Sumber: AntaraNews