Tiru China, Ridwan Kamil akan Buat Rusun Khusus Buruh

Kamis, 2 Mei 2019 01:33 Reporter : Aksara Bebey
Tiru China, Ridwan Kamil akan Buat Rusun Khusus Buruh Ridwan Kamil. ©2019 Merdeka.com/Aksara Bebey

Merdeka.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat berencana menyediakan rumah susun bagi buruh. Cara merealisasikannya adalah mewajibkan perusahaan membangun bangunan fisik di lahan pemerintah.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menghadiri peringatan hari buruh di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (1/5).

Ia mengatakan, nantinya, rumah susun atau apartemen itu dibangun di dekat pabrik. Artinya, para pekerja bisa berjalan ke tempat kerja, tidak lagi mengeluarkan biaya transportasi.

"Sehingga buruh bisa menabung dan kesejahteraan meningkat. Regulasinya sedang kami persiapkan," katanya.

Rencana itu merupakan langkah alternatif di samping menaikan upah. Dia mencontohkan, saat menjabat Wali Kota Bandung, dia menggratiskan buruh naik transportasi untuk memangkas pengeluaran.

Konsep ini ia sebut sudah dilakukan di China. Sehingga ada korelasi dan pengaruh kepada harga barangnya lebih murah karena ongkos produksi lebih murah.

"Kenapa buruh China murah? Kenapa barang China murah? Salah satunya mereka rata-rata pabriknya di sebelahnya ada perumahan buruh. Enggak ada ongkos transportasi, ongkos produksi kan murah," kata dia.

Pria yang akrab disapa Emil ini mengklaim terus mencari solusi dan inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pihaknya membuka selebar-lebarnya ruang komunikasi dengan para buruh.

Maka dari itu, pertemuan dengan para buruh tak hanya pada saat peringatan May Day saja, tetapi rutin berkomunikasi minimal tiga atau empat bulan sekali.

Pasalnya, dibutuhkan kerjasama dan pengertian dari kedua belah pihak untuk mencari solusi yang baik."Ini untuk memecahkan permasalahan secara bersama," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ridwan Kamil juga mengimbau buruh ikut berkontribusi menjaga kondusifitas usai pemilu 2019. Ia pun mengingatkan agar tidak terprovokasi dengan pemberitaan yang provokatif di media sosial.

"Saya titip bisa menahan diri. Tidak usah ribut komentar di WA (WhatsApp) saling ejek di Facebook. Urusan Pilpres itu mah pilihan masing-masing. Jangan sampai perbedaan menyebabkan bertengkar," ujarnya.

Menurutnya, sebuah negara bisa dikatakan maju ketika kondusivitas keamanan dan kerukunan antarmasyarakat terjaga.

"Afghanistan sampai sekarang masih perang. Suriah Allah tunjukan, sama Islam tapi tak bisa menjaga kerukunan. Yugoslavia sekarang sudah enggak ada," katanya. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini