Tingkatkan kompetensi, PRT di Malang punya sekolah khusus
Merdeka.com - Guna menghasilkan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) berkualitas, sebuah sekolah khusus dibangun di Malang, Jawa Timur. Cukup dua kali dalam seminggu selama enam bulan, mereka akan diberi banyak materi hingga bertukar ide kreatif dalam menjalani pekerjaannya ke depan.
Para peserta merupakan PRT di sejumlah perumahan di Kabupaten dan Kota Malang. Dalam sekolah ini, para peserta juga memakai seragam. Bahkan mereka juga memakai pin bertuliskan, "PRT bukan Pembantu, Kerja Layak untuk PRT."
Meski hanya dua hari dalam seminggu, mereka benar-benar menjalani serius. Hari dipilih kelas ini Sabtu dan Minggu. Pada hari Sabtu, kelas PRT berlangsung di rumah salah seorang peserta secara bergiliran. Seorang instruktur akan datang ke lokasi pertemuan dan rata-rata diikuti sepuluh orang peserta.
Kemudian pada hari Minggu, kelas praktik dilakukan pada sebuah hotel. Sesuai kelas dan materi, mereka akan praktik bersama kelompoknya.
"Memang harus berlatih berulang-ulang, hasilnya masih belum memuaskan," kata Jarwati, salah seorang peserta kelas PRT, Minggu (9/10) kemarin.

Jarwati merupakan PRT asal Desa Tunjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Sehari-hari bekerja di Perumahan Karanglo Indah Kota Malang. Selain menghias kue dan penyajian, kelompok lain sedang praktek laundry (mencuci) dan menata kamar tidur. Sesuai kelompok, masing-masing berbagi pekerjaan.
Peserta lainnya, Badriyah (45), mengaku dalam kelas ini banyak hal baru ditemukan. Sehingga mereka menyadari bahwa selama ini banyak cara kurang tepat dan tidak efektif selama menjalani pekerjaannya selama ini.
Salah satunya, cara membersihkan kaca rumah. Menurut dia, seharusnya tidak dengan pola naik turun, tetapi menyerupai huruf S atau ular. Sehingga tidak akan ada ruang tertinggal.
"Sebelumnya ya tidak tahu, ternyata begini yang benar, memang lebih cepat dan tidak mengulang-ulang," kata Badriyah.
Perempuan itu tinggal di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang dan sehari-hari sebagai PRT lepas. Pagi berangkat dan sore harinya pulang, dengan majikan berganti-ganti.
Peserta tergabung dalam Sekolah PRT akan mendapat waktu pelatihan selama 200 jam mata pelajaran. Materi berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Kurikulum digunakan juga dibuat untuk lebih meningkatkan kompetensi dan skill masing-masing pekerja.
"Rata-rata peserta antusias, seperti merasa mendapat sesuatu yang baru," Erly Prastika, salah seorang instruktur.
Sekolah PRT merupakan pilot proyek Lembaga Pengkajian dan Kemasyarakatan Pembangunan (LPKP) dan Jaringan Penanggulangan Pekerja Anak (Jarak). Program tersebut didukung International Labur Organization (ILO), organisasi perburuhan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sekolah PRT digelar di empat provinsi yakni DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Lampung. Malang dipilih sebagai representasi Jawa Timur. "Tujuannya untuk meningkatkan keterampilan PRT agar memiliki posisi tawar lebih. Selain itu juga salah satunya untuk memangkas adanya PRT Anak, yang memang sesuai undang-undang dilarang," kata Abdul Syukur, pendamping LPKP.
Kata Syukur, banyak persoalan menyangkut PRT, di antaranya persoalan upah, jam kerja dan keselamatan selama bekerja kerja. Apalagi hingga sekarang memang tidak ada sandaran hukum atau undang-undang yang melindunginya. Selain itu, persoalan keselamatan kerja PRT kerap tidak diindahkan.
"Lewat komunikasi yang dijalin dengan majikan dan sesama pekerja suasana saling memantau akan berjalan dengan sendirinya," terangnya.
Peserta Sekolah PRT berasal dari Desa atau kelurahan di Kabupaten Malang dan Kota Malang. Beberapa wilayah yang menjadi pengirim PRT seperti Kecamatan Singosari, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dan Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. (mdk/ang)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya