Tiga Hari Lagi, Fakta Investigasi Kecelakaan Bus Bromo Akan Terungkap

Tim gabungan telah dikerahkan untuk melakukan analisis tempat kejadian perkara (TKP) menggunakan Traffic Accident Analysis (TAA).

Putu Merta Surya Putra
Oleh Putu Merta Surya Putra - Reporter
Tiga Hari Lagi, Fakta Investigasi Kecelakaan Bus Bromo Akan Terungkap
Kecelakaan Maut Bus di Lereng Gunung Bromo (Antaranews) (© 2025 Liputan6.com)

Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Jawa Timur, AKBP Septa Firmansyah, mengungkapkan bahwa tim gabungan telah dikerahkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) menggunakan Traffic Accident Analysis (TAA).

Langkah ini diambil untuk menyelidiki penyebab kecelakaan tragis yang terjadi di Jalan Raya Bromo, Kabupaten Probolinggo, pada hari Minggu.

Dalam insiden tersebut, delapan orang yang merupakan rombongan karyawan Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS) Jember dilaporkan meninggal dunia.

"Dengan TAA, kami dapat melacak kecepatan, posisi, serta detik-detik terakhir sebelum bus tersebut berhenti. Terdapat 10 titik analisis yang kami gunakan. Jika tidak ada kendala, hasilnya akan segera diketahui dalam waktu maksimal tiga hari," jelas Septa, seperti yang dilansir oleh Antara pada Minggu (14/9).

Kecelakaan tersebut bermula dari sebuah kendaraan bus Hino IND'S 88 dengan nomor polisi P-7221-UG yang mengangkut rombongan keluarga karyawan RSBS Jember.

Bus tersebut dikemudikan oleh Al Bahri dan dikawal oleh kernet bernama Mergi, serta mengangkut 52 orang penumpang yang sedang dalam perjalanan dari arah barat menuju timur.

Kejadian ini menjadi perhatian serius, mengingat banyaknya korban jiwa yang jatuh akibat kecelakaan tersebut.

Setelah tiba di lokasi kecelakaan di Jalan Raya Bromo, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, sebuah kendaraan mengalami masalah pada rem saat melewati jalan menurun yang berbelok ke kiri.

Akibatnya, kendaraan tersebut kehilangan kendali dan melaju ke kanan, menabrak pembatas jalan atau guardrail, sebelum akhirnya menabrak sepeda motor dengan nomor polisi N-2856-OE.

Kecelakaan ini mengakibatkan delapan orang kehilangan nyawa, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka, baik berat maupun ringan.

Mereka yang terluka segera dibawa ke beberapa rumah sakit, termasuk RSUD Dr Saleh, RSU Ar-Rozy, RSU Tongas, serta Puskesmas Sukapura, Lumbang, dan Wonomerto.

Sebanyak 15 orang yang terluka dan delapan jenazah dievakuasi menggunakan 23 unit ambulans menuju RSBS di Kabupaten Jember.

Namun, dua dari korban yang terluka masih dirawat di RSUD dr Moh. Saleh dan RSUD Tongas karena kondisi kesehatan mereka belum stabil.

Di antara delapan korban yang meninggal, terdapat tiga orang dari satu keluarga, yaitu Hendra Pratama, yang merupakan seorang karyawan RSBS, beserta istri dan anaknya.

Kejadian tragis ini menambah daftar panjang kecelakaan di daerah tersebut, yang sering kali disebabkan oleh kondisi jalan yang menantang dan kurangnya perhatian terhadap keselamatan berkendara.

Hasil sementara dari proses identifikasi menunjukkan bahwa terdapat beberapa korban yang telah meninggal dunia.

Di antara mereka adalah:

1. Hesty P, seorang ahli gizi dari RSBS;

2. Arti, seorang perawat HD di RSBS;

3. Hendra, yang juga merupakan bagian dari RSBS;

4. Istri Hendra yang juga terlibat di RSBS;

5. Anak Hendra; dan

6. Anak dari perawat Maria.

Selain itu, terdapat dua korban lainnya yang belum teridentifikasi.

Rekomendasi