KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Tewasnya si kembar murah senyum korban plonco STIP Cilincing

Rabu, 11 Januari 2017 20:02 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Ilustrasi Penganiayaan. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Duka tengah menyelimuti keluarga Amirulloh Adityas Putra (19) yang tinggal di sebuah rumah di bilangan Warakas, Jakarta Utara. Taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) itu tewas karena diduga menjadi korban plonco para seniornya. Tak ada lagi senyum ramah dari Amirulloh menghiasi lingkungannya.

Amir, biasa korban disapa para keluarga dan kerabat, memang dikenal ramah. Murah senyum dan tidak segan menyapa, menjadi kebiasaan pemuda ini saban harinya. Begitulah kenangan Aliyah (50), mengingat sosok Amir.

"Orangnya ramah banget, dikit-dikit kalau ketemu tetangga pasti senyum," ungkap Aliyah, Rabu (11/1). Bahkan, kata dia, Amir juga tidak pernah berbuat macam-macam di lingkungannya Jalan Warakas III Gg. 16 Nomor 14 RT 7 RW 14, Kelurahan Warakas.

Bukan hanya ramah, Amir juga dikenal aktif di lingkungan. Itu ditunjukkan dengan mengikuti Karang Taruna dengan para pemuda lainnya.

Halimah, tetangga Amir lainnya, juga merasa kehilangan. Apalagi Amir ini dikenal mempunyai saudara kembar bernama Amarullah Adityas Putra. Namun, sosok Amir begitu membekas bagi Halimah.

Halimah mengaku terakhir melihat Amir pada Sabtu pekan lalu. Ketika itu kekasih Amir tengah berkunjung. "Amir waktu hari Sabtu kalau gak salah pacarnya datang ke rumah," terang Halimah.

Amir diketahui tewas setelah mengalami penganiayaan usai latihan drum band, Selasa (10/1) kemarin, sekitar pukul 17.00 Wib. Sebagai taruna tingkat I, dia bersama enam rekannya dikumpulkan para pelaku di lantai 2 kamar M-205. Selanjutnya, satu per satu taruna tingkat 1 dianiaya para pelaku dengan cara dipukul ke arah perut, dada dan ulu hati dengan menggunakan tangan kosong.

Saat Amirulloh dipukul salah seorang pelaku bernama Willy, tiba-tiba korban ambruk. Kemudian korban pingsan dan diangkat bersama-sama para pelaku ke tempat tidur. Melihat korban pingsan, sontak para pelaku panik dan menghubungi senior tingkat 4 kemudian ke pembina dan piket medis.

Korban dinyatakan sudah meninggal setelah diperiksa oleh dokter piket STIP. Selanjutnya peristiwa tersebut dilaporkan ke Polsek Cilincing. Sejumlah barang bukti pun disita yakni, satu botol minyak tawon, minyak telon, satu buah gayung dan gelas juga 2 puntung rokok.

Para pelaku sendiri dijerat Pasal 170 subsider 351 ayat 3 KUHP. Dengan ancaman hukuman diatas 20 tahun penjara. Kasus tewasnya taruna di STIP ini merupakan kali ketiga. Kejadian serupa pernah terjadi di tahun 2012 dan 2013 silam. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Penganiayaan Taruna STIP
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.