Tendangan Si Madun untuk kebuntuan sepakbola nasional
Merdeka.com - Cerita tentang sepakbola tidak harus selalu disajikan dalam bentuk film. Kisah si kulit bundar juga bisa lebih ringan disampaikan lewat sinema elektronik (sinetron).
Tendangan Si Madun barangkali sinetron sepakbola yang paling fenomenal di Indonesia. Mengikuti kesuksesan sinetron ‘Islam KTP’, dan ‘Sampeyan Muslim?’, sutradara muda, Syaiful Drajat menunjukkan kemahirannya dalam Tendangan si Madun.
Sinetron ini bercerita tentang kehidupan seorang anak berusia 11 tahun bernama Muhammadun (Madun) yang terus berjuang untuk menjadi pesepakbola terkenal. Madun adalah anak dari seorang ustadz atau guru ngaji bernama Syafei (40 tahun) asal Medan, yang tidak ingin anaknya menjadi pemain bola sehingga selalu menghalangi cita-cita anaknya. Syafei menginginkan anaknya menjadi seorang kyai atau ustadz. Sedangkan ibunya, Kirana, yang keturunan Betawi menjadi serba salah menyikapi perbedaan pendapat dari dua orang yang dicintainya itu.
Sebagai istri yang baik, Kirana ingin patuh pada suaminya yang antibola. Namun di sisi lain, sebagai ibu dari anak yang dicintainya, ia tidak tega mengekang dan menghalangi Madun mewujudkan cita-citanya menjadi pesepakbola terkenal.
Dalam perjalanannya untuk mewujudkan cita-citanya itu, Si Madun harus bersaing dengan Martin (12 tahun), anak Udin Nganga (40 tahun) yang selalu menjadi penghalang bagi Madun. Berbeda dengan kondisi keluarga Madun, ayah Martin memberi dukungan penuh pada anaknya, dengan berusaha memberikan fasilitas memadai agar anaknya bisa mejadi pesepakbola tangguh. Bahkan, sang ayah rela mendatangkan pelatih asing khusus anaknya.
Unsur komedi dan sepakbola pada sinetron seri ini terasa begitu kental, karena ikut didukung oleh nama-nama tenar seperti Asrul Dahlan dan Udin Ngaga. Keduanya memiliki akting natural, yang tak jarang menggelitik para pemirsa.
Selain mereka, kehadiran Yusuf Mahardika (Madun), kapten timnas U-14 juga membawa warna tersendiri. Keahlian Yusuf dalam mengolah si kulit bundar memberi nilai lebih pada sinetron yang tayang perdana pada 9 Januari 2012 ini.
Perjalanan sinetron yang tayang di MNC TV ini rupanya cukup mendapat perhatian kalangan anak anak pecinta sepak bola. Terbukti, menurut Rating Nielsen (ALL) weekly periode, Tendangan Si Madun menempati posisi 2 dengan TVR 5,6 dan share 19,8. Sementara di hari Minggu, mampu meraup TVR 4,8 dan share 18, mengalahkan tayangan Indonesian Idol di RCTI dan beberapa acara lainnya.
Tidak hanya menguntungkan secara bisnis, pesan moral dari sinetron ini juga dinilai bermanfaat bagi anak-anak, yakni meraih cita-cita dibutuhkan perjuangan, kerja keras, dan pengorbanan. Sinetron ini juga dinilai cocok ditayangkan dalam situasi dan kondisi Indonesia saat ini, terutama saat kondisi persepakbolaan nasional yang masih terpuruk karena perpecahan dan perselisihan. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya