Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tangkuban Parahu, legenda anak ingin mengawini ibu kandung

Tangkuban Parahu, legenda anak ingin mengawini ibu kandung tangkuban perahu. shutterstock

Merdeka.com - Di zaman Tatar Parahyangan dahulu berdiri sebuah kerajaan yang gemah ripah. Di situ lah lahir seorang prabu gagah, yang selalu ditemani seekor anjing bernama Tumang. Lantaran senang berburu, Prabu dan Tumang menemukan bayi cantik yang kemudian dibesarkan dengan nama Dayang Sumbi.

Alkisah, Dayang Sumbi beranjak dewasa hingga pada akhirnya dipersunting oleh seorang pria. Hasil dari kisah cinta mereka, lahirlah seorang pria bernama Sangkuriang. Ketika Sangkuriang beranjak dewasa, suami Dayang Sumbi tidak berumur panjang.

Sangkuriang semasa hidupnya memiliki kegemaran sama seperti sang prabu. Sehingga pada suatu ketika Sangkuriang bersama Tumang hendak mengadakan perburuan dengan maksud ingin membahagiakan sang ibu. Namun perburuan tidak berbuah hasil. Tumang pun jadi Tumbal. Tanpa pikir panjang, Tumang dibunuh yang kemudian memberikan hati kepada ibunya.

Mengetahui hati tersebut yang tiada lain adalah hati Tumang, si anjing kesayangannya, Dayang Sumbi murka. Dengan amarah, dia menghantamkan benda kepada Sangkuriang hingga membekas di kepalanya.

Sangkuriang menyesal. Dia pun pergi meninggalkan rumahnya dalam waktu yang cukup lama. Penyesalan pun lahir dari sang ibu, sehingga Dayang Sumbi berusaha mencarinya.

Ditengah pencariannya, Dayang Sumbi bertemu seorang pria tampan dan perkasa yang tak lain adalah Sangkuriang. Sangkuriang maupun Dayang Sumbi saat itu tidak mengetahui bahwa keduanya adalah ibu dan anak. Apalagi Dayang Sumbi kala itu tengah dikarunia awet muda oleh Hyang Tunggal.

Sangkuriang akhirnya melamar Dayang Sumbi untuk dipersunting menjadi istri. Tapi saat itu Dayang Sumbi dikagetkan dengan luka kepala di pria tampan itu. Akhirnya Dayang Sumbi sadar bahwa pria itu adalah anaknya.

Selama menjalin kasih, keduanya kadung saling mencintai. Namun Dayang Sumbi sadar bahwa ia tidak bisa menikahi anaknya. Sehingga lahirlah sebuah syarat yang diberlakukan untuk Sangkuriang jika ingin menikahinya.

Syarat pertama, Sangkuriang harus dapat membuat sebuah perahu yang besar. Syarat kedua, Sangkuriang harus dapat membuat danau untuk bisa dipakai berlayarnya perahu tersebut. Syarat itu harus dilakukan sebelum fajar menyingsing dan ayam berkokok.

Sangkuriang menyangupinya. Dengan bantuan makhluk halus, Sangkuriang yang sakti berusaha membangun perahu dan danau. Perahu selesai namun tidak dengan danau. Fajar tampak merekah, mahluk halus pun lari terbirit-birit.

Dengan penuh amarah, Sangkuriang murka. Ia menendang perahu hingga terbalik, dan berubah menjadi gunung.

Sebenarnya ditengah pekerjaan Sangkuriang, Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal untuk lebih mempercepat ayam berkokok dan fajar menyingsing. Hyang Tunggal pun mengakalinya dengan kain yang bersinar dan dibentangkan seakan-akan fajar sudah merekah.

Kini Legenda Sangkuriang dan Dayang Sumbi begitu melekat. Kisah ini juga yang menjadikan daya tarik wisata dari Gunung Tangkuban Parahu. Nama Tangkuban Parahu sendiri diambil dari gunung yang telungkup mirip parahu, seperti yang dikisahkan.

180 Derajat dari puncak Gedung Sate mengarah ke Utara Bandung, gunung ini terlihat jelas. Seakan kisah Sangkuriang terlanjur melekat dengan warga Jawa Barat, Tangkuban Parahu pun dijadikan lambang pemerintahan kota Bandung. (mdk/did)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP