Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tak dapat perhatian, anak korban bom Bali sempat ingin jadi teroris

Tak dapat perhatian, anak korban bom Bali sempat ingin jadi teroris Silaturahmi korban dan mantan napi terorisme. ©2018 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Chusnul Chotimah (44), korban bom bali satu, bersyukur bisa dipertemukan dengan para mantan pelaku terorisme. Keinginan yang muncul sejak lama, akhirnya difasilitasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Proses rekonsiliasi pun tercapai.

Tak hanya itu, BNPT pun memberikan bantuan uang tunai kepada korban pada Desember lalu. Hal itu yang sejak lama diabaikan pemerintah. Ibu yang mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya itu, bercerita minim bantuan dari pihak pemerintah Indonesia. Malah pertolongan medis yang dia terima berasal dari Palang Merah Indonesia dan Pemerintah Australia.

"Saya kena luka bakar 70 persen, Bu Yayu 50 persen, Bu Alita 90 persen dan WNI semua diterbangkan ke Australia, dan saat saya sampai sana langsung disambut oleh konsulat di sana," ujarnya kepada wartawan di Hotel Borobudur, Rabu (28/2).

Pihak pemerintah, lewat Pemkab Badung menyalurkan uang senilai Rp 5 juta. Namun, di tingkat provinsi malah melakukan penolakan. Bahkan kedatangan mereka ditolak mentah-mentah. Hanya itulah bantuan yang diterimanya sebelum BNPT membantu.

"Saat itu saya sama Bu Yayu ke rumah Pak Wagub, istrinya itu tidak mau menerima kita. Mungkin jijik atau gimana gitulah. Saya gak pernah ketemu sama Pemda," ucapnya.

Dia bercerita, Mensos Khofifah Indar Parawansa di media pernah menyatakan akan membantu para mantan narapidana terorisme ketika berkunjung ke Lamongan. Pernyataan itu menusuk keluarganya. Anaknya paling besar malah ingin menjadi anggota teroris mendengar pernyataan tersebut. Sebab, seakan pihak korban disudutkan dan diabaikan oleh pemerintah.

"Itu sempat anak saya yang besar itu sempat protes ke saya, dia tanya sampeyan punya-punya koneksi sama teroris. Kenapa kamu tanya gitu aku mau jadi teroris sampai dia ngomong begitu, biar apa, biar pemerintah nanti bisa memperhatikan nasib sampeyan mah, karena nggak begini terus terusan," ucapnya.

Ibu tiga anak ini mengatakan sejak peristiwa bom tersebut, menghancurkan bisnisnya. Dulu dia punya usaha sablon di Bali, tapi akhirnya luluh lantak bersama ledakan. Sekarang dia harus menghidupi keluarganya seorang diri setelah ditinggal oleh suaminya, dengan berjualan sayur di Surabaya.

Saat ini Chusnul mengaku telah berdamai dengan pelaku teror. Ketika dipertemukan dua hari lalu, dia langsung dipeluk pelaku teror JW Marriott. Meski masih terkenang sedih peristiwa Bali itu, dengan rekonsiliasi ini dendam pun sudah tak ada dipikirannya.

"Kalau diingat-ingat lagi, saya punya anak kecil ya gimana, kalau kemarin jengkel sekarang sudah enggak," kata dia.

(mdk/fik)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP