Setiap tanggal 1 Oktober, dunia memperingati Hari Lansia Internasional, sebuah momen penting yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meningkatkan kesadaran akan kesejahteraan para lansia. Tahun ini, PBB mengusung tema “Older Persons Driving Local and Global Action: Our Aspirations, Our Well-Being and Our Rights”, menekankan peran krusial lansia dalam membangun masyarakat yang tangguh dan adil.
Peringatan ini menjadi relevan mengingat peningkatan harapan hidup global yang berkorelasi langsung dengan bertambahnya populasi lansia di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, data menunjukkan adanya tren peningkatan harapan hidup yang signifikan, membawa implikasi besar bagi struktur demografi dan kebutuhan masyarakat.
Pemerintah Indonesia, melalui berbagai kementerian dan lembaga, telah mengambil langkah proaktif untuk merespons fenomena ini dengan meluncurkan berbagai program. Inisiatif-inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa para lansia dapat terus menjalani hidup dengan penuh makna, sehat, dan produktif, serta terhindar dari rasa kesepian.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan Harapan Hidup dan Tantangan Demografi
Peningkatan harapan hidup merupakan indikator positif kemajuan kesehatan dan kesejahteraan suatu negara, namun juga membawa tantangan demografi yang perlu dikelola dengan baik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa harapan hidup rata-rata di Indonesia telah meningkat dari 72,13 tahun menjadi 72,39 tahun.
Jika kategori lansia didefinisikan sebagai individu berusia 60 tahun ke atas, peningkatan harapan hidup ini secara langsung mengindikasikan bertambahnya jumlah populasi lansia di tanah air. Fenomena ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami lonjakan populasi lansia yang signifikan antara tahun 2035 hingga 2040. Kelompok usia ini diperkirakan akan mencapai sekitar 17 hingga 20 persen dari total populasi penduduk.
Advertisement
BRIN memperkirakan bahwa pada tahun 2035, jumlah lansia bisa mencapai dua kali lipat dari angka tahun 2020. Jika pada tahun 2020 terdapat 26 juta lansia, angka tersebut berpotensi melonjak hingga 52 juta jiwa dalam beberapa tahun mendatang. Lonjakan ini menuntut perencanaan dan pengelolaan yang matang.
Advertisement
Program Pemerintah untuk Lansia Berdaya
Menghadapi proyeksi peningkatan populasi lansia, pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program pemberdayaan untuk memastikan kesejahteraan mereka. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, misalnya, menginisiasi program Lansia Berdaya (Sidaya).
Program Sidaya dirancang sebagai solusi komprehensif untuk mempersiapkan lansia agar tetap sehat, produktif, dan terhindar dari kesepian. Tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan fisik dan mental lansia melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat.
Melalui program ini, pemerintah memfasilitasi lansia untuk mendapatkan edukasi, mengikuti kelompok pengajian, dan berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang menyenangkan. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya mendukung kesehatan fisik dan mental, tetapi juga membantu menjaga kesejahteraan sosial mereka.
Advertisement
Secara kolektif, ketiga aspek ini memungkinkan lansia untuk terus berpartisipasi aktif dalam keluarga, komunitas sekitar, bahkan negara. Dengan demikian, beban yang mungkin timbul akibat masalah kesehatan atau isolasi sosial dapat diminimalisir, menciptakan lingkungan yang mendukung lansia.
Advertisement
Peran Keluarga dan Kesiapan Mental
Ketika seorang lansia menghadapi masalah kesehatan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu tersebut, tetapi juga oleh keluarga dan komunitas. Penyakit dapat menghambat kemampuan lansia untuk tetap produktif secara ekonomi, sekaligus menuntut energi dan waktu dari anggota keluarga yang merawat.
Oleh karena itu, persiapan diri sebelum memasuki usia lanjut menjadi sangat vital dan perlu digalakkan sejak dini. Selain itu, dukungan dari keluarga memiliki peran krusial dalam membantu lansia menghadapi kerentanan terhadap kesepian.
Lansia seringkali rentan terhadap kesepian karena penurunan mobilitas fisik dan menyusutnya lingkaran sosial. Dalam hal ini, keluarga harus mempersiapkan diri secara mental dan emosional untuk mendampingi lansia agar dapat terus menjalani hidup dengan baik.
Advertisement
Yang tak kalah penting adalah persiapan mental bagi lansia itu sendiri untuk dapat menerima realitas hidup di usia senja. Psikolog dan tokoh agama memiliki peran kunci dalam mengedukasi calon lansia untuk senantiasa menumbuhkan rasa penerimaan dalam hati mereka, agar dapat mencapai kedamaian dan kebahagiaan.
Sumber: AntaraNews