Status Rel Tua Sukalila Cirebon Belum Cagar Budaya, Disbudpar Koordinasi Penyelamatan

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon menyatakan status rel tua Sukalila Cirebon peninggalan Belanda belum terdaftar sebagai cagar budaya, memicu koordinasi penyelamatan material.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Status Rel Tua Sukalila Cirebon Belum Cagar Budaya, Disbudpar Koordinasi Penyelamatan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon menyatakan status rel tua Sukalila Cirebon peninggalan Belanda belum terdaftar sebagai cagar budaya, memicu koordinasi penyelamatan material. (AntaraNews)

Status rel tua di kawasan Sungai Sukalila Cirebon masih menjadi sorotan publik dan perbincangan hangat. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon menegaskan bahwa peninggalan masa kolonial Belanda ini belum terdaftar sebagai cagar budaya resmi. Pernyataan ini disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, pada Jumat lalu, menanggapi kondisi rel yang ada.

Rel tersebut merupakan bagian penting dari sistem transportasi zaman dahulu yang menghubungkan kawasan pelabuhan. Jalur ini berperan vital dalam aktivitas ekonomi dan sosial berbagai wilayah di Cirebon pada masanya. Kondisi ini menjadi latar belakang utama koordinasi intensif antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi 3 Cirebon.

Koordinasi tersebut bertujuan untuk menyelamatkan sebagian material rel yang masih tersisa sebagai bagian dari sejarah kota. Upaya ini dilakukan di tengah rencana besar penataan kawasan Sungai Sukalila yang sedang berjalan. Pembongkaran rel juga mempertimbangkan faktor lingkungan yang rentan terhadap kerusakan dan dampak negatif lainnya.

Status dan Upaya Penyelamatan Rel Tua Sukalila Cirebon

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, menjelaskan secara rinci bahwa rel di Sukalila belum tercatat dalam register bangunan cagar budaya. Bahkan, rel tersebut juga belum masuk dalam kategori objek diduga cagar budaya, yang merupakan tahap awal identifikasi. Kondisi ini menjadi dasar bagi pemerintah kota untuk mengambil langkah strategis dalam penanganannya.

Untuk mengatasi hal ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon kini aktif berkoordinasi dengan PT KAI Daop 3 Cirebon. Tujuannya adalah untuk mengamankan material rel yang masih tersisa dari pembongkaran. Potongan rel, bantalan, serta ornamen lain akan diselamatkan untuk kemudian ditampilkan kepada publik sebagai artefak sejarah.

Lokasi untuk display material rel tua ini masih dalam tahap opsi dan belum final. Beberapa pilihan mencakup kawasan Sukalila itu sendiri, museum kota, Balai Kota Cirebon, atau area milik PT KAI yang strategis. Konsep display nantinya akan dilengkapi dengan dokumentasi foto serta narasi sejarah yang komprehensif. Ini bertujuan agar masyarakat dapat memahami fungsi dan sejarah penting rel tersebut di masa lalu.

Alasan Pembongkaran dan Pertimbangan Lingkungan

Pembongkaran rel tua Sukalila Cirebon tidak dilakukan tanpa alasan yang kuat dan pertimbangan matang. Agus Sukmanjaya menyebutkan bahwa faktor lingkungan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam keputusan ini. Rel yang berada di aliran sungai secara alami rentan terkikis oleh air, terutama saat musim hujan.

Selain itu, keberadaan rel dapat menjadi hambatan serius bagi aliran air saat debit sungai meningkat. Hal ini berpotensi menyebabkan genangan air, banjir, atau masalah lingkungan lainnya yang dapat merugikan masyarakat sekitar. Pembongkaran ini juga merupakan bagian integral dari proyek penataan kawasan Sungai Sukalila yang melibatkan pemerintah daerah dan PT KAI sebagai pemilik aset.

Namun demikian, perlu ditekankan bahwa tidak seluruh material rel akan dipertahankan atau dibongkar habis-habisan. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kaidah pelestarian yang berlaku serta kondisi teknis di lapangan yang spesifik. Ini menunjukkan pendekatan yang seimbang antara kebutuhan pembangunan, pelestarian sejarah, dan mitigasi risiko lingkungan.

Sorotan Pemerhati Cagar Budaya Terhadap Rel Tua Sukalila Cirebon

Rencana pembongkaran rel tua ini menuai tanggapan beragam, termasuk dari pemerhati cagar budaya. Elang Iyan Ariffudin, pemerhati cagar budaya dari Keraton Kacirebonan, secara terbuka menyayangkan langkah tersebut. Ia menilai pembongkaran berpotensi menghilangkan jejak sejarah yang sangat penting bagi identitas kota.

Meskipun demikian, Elang Iyan Ariffudin menyatakan dukungannya terhadap penataan kawasan secara keseluruhan. Namun, ia berpendapat bahwa peninggalan bersejarah seperti rel ini seharusnya dapat dilestarikan dan dimanfaatkan secara optimal. Rel ini bisa menjadi sarana edukasi yang efektif bagi generasi muda tentang sejarah transportasi Cirebon. Kawasan Sukalila sendiri memiliki catatan sejarah panjang yang kaya sejak era kolonial.

Pada awal abad ke-19, Sukalila tercatat sebagai bagian dari sub-division di wilayah Cheribon, menunjukkan signifikansi historisnya. Jalur rel di kawasan tersebut menjadi penghubung penting yang vital. Ini menghubungkan permukiman padat seperti Kesenden, Kebon Benteng, Kemlaten, hingga Kebonbaru pada awal abad ke-20, memperkuat peran strategisnya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi