'Spanduk fatwa fardhu ain pilih Khofifah delik pidana karena ada ujaran kebencian'

Minggu, 10 Juni 2018 20:55 Reporter : Nanang Ichwan
'Spanduk fatwa fardhu ain pilih Khofifah delik pidana karena ada ujaran kebencian' Spanduk fatwa fardhu ain pilih Khofifah di jalanan Kota Surabaya. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Sidoarjo telah menertibkan dua Spanduk fatwa memilih Khofifah-Emil yang terpasang di wilayah Sidoarjo. Spanduk itu dicopot sejak Sabtu (9/6) malam kemarin.

"Spanduk itu sudah diturunkan kemarin Sabtu malam," ucap Komisioner Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Sidoarjo, M Jamil, ketika dihubungi merdeka.com, Minggu (10/6).

Spanduk tersebut bergambar Khofifah-Emil dan KH Asep Saifuddin Chalim, bertuliskan fatwa untuk rakyat Jatim tidak memilih Khofifah-Emil khianati Allah SWT dan Rasul-Nya. Jamil menyebut, dua Spanduk itu terpasang di dua lokasi yaitu di Jalan Raya Ahmad Yani, Alun-alun Sidoarjo dan Buduran.

"Itu juga sudah dilaporkan Panwascam Sidoarjo dan Buduran," ucap dia.

Meski begitu, Jamil menegaskan Spanduk yang terpasang tersebut bukan Alat Praga Kampanye (APK) dan Bahan Kampanye (BK) yang difasilitasi KPU. "Pihak KPU tidak pernah mencetak Spanduk itu, artinya itu ilegal. Dalam tulisan spanduk juga mengandung ujaran kebencian dan hasutan. Itu masuk delik pidana pemilu," ungkap dia.

"Ini Kami sedang koordinasikan dengan pihak Gakkumdu (Sentra Penegakan Hukum Terpadu), karena itu menjadi ranah Sentra Gakkumdu," pungkas Komisioner Divisi SDM dan Organisasi itu.

Selain di Sidoarjo, Spanduk tersebut juga terpasang di sejumlah daerah di Jawa Timur. Belum tau pasti siapa yang memasang Spanduk tersebut.

Seperti banyak diberitakan, sejumlah kiai menggelar pertemuan di Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto, 3 Juni lalu, yang dihadiri Cagub Khofifah Indar Parawansa.

Pertemuan itu menghasilkan fatwa bernomor 1/SF-FA/6/2018 yang menyebut, mencoblos Khofifah-Emil Elestianto hukumnya Fardhu Ain alias wajib bagi setiap orang.

Hukum fardhu ain ini dalam Islam seperti ibadah salat dan puasa Ramadhan. Dalam Islam, meninggalkan aktivitas yang hukumnya fardu ain membuat pelakunya diganjar dosa oleh Allah.

Pengasuh Ponpes Amanatul Ummah, KH Asep Saifuddin Chalim selaku Tim 9 Khofifah-Emil mengatakan, orang yang memilih Gus Ipul, padahal ada yang lebih baik menurut KH Asep, yaitu Khofifah, maka orang itu mengkhianati Allah SWT dan Rasulullah. Fatwa itu kini menuai pro-kontra di masyarakat. [hhw]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini