Sosok Gus Sholah di Mata Para Tokoh

Senin, 3 Februari 2020 15:50 Reporter : Purnomo Edi
Sosok Gus Sholah di Mata Para Tokoh Ribuan Santri Sambut Kedatangan Jenazah Gus Sholah. ©2020 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - KH Sholahudin Wahid menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke-77, Minggu (2/2). Gus Sholah demikian dia biasa disapa meninggal dunia saat menjalani perawatan di RS Jantung Harapan Kita.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Gus Sholah. Haedar menyebut sempat datang menjenguk Gus Sholah di RS pada Jumat (31/1) yang lalu.

Sayangnya Haedar tak bisa bertemu langsung dengan Gus Sholah yang saat itu sedang menjalani operasi. Haedar hanya bertemu dengan istri Gus Sholah dan adik iparnya, mantan Menag, Lukman Hakim Saifuddin.

Haedar mengenang terakhir kali dia berkomunikasi langsung dengan Gus Sholah pada 12 Januari 2020 yang lalu. Saat itu keduanya sempat berbincang tentang film 'Jejak 2 Ulama'.

Film itu bercerita tentang kisah pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari dan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Film itu salah satu inisiatornya adalah Gus Sholah dan dikerjakan secara kolaborasi antara Ponpes Tebu Ireng dengan Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Muhammadiyah.

"Tanggal 12 Januari itu beliau (Gus Sholah) masih kontak saya untuk bagaimana agar film ini bisa dilaunching dan menghadirkan Presiden (Joko Widodo). Bahkan, kami sudah menandatangani surat kepada Pak Presiden pada tanggal 22 Januari, karena rencananya film akan dilauching pada 2 Februari," ujar Haedar di kediamannya, Senin (3/2).

"Tapi Allah menghendaki lain. Bahwa tanggal 2 Februari kita belum bisa mewujudkan launching bersama Presiden, tetapi Gus Sholah dipanggil Allah SWT," imbuh Haedar.

Haedar menerangkan jika dalam percakapan itu dirinya sempat berdiskusi dengan Gus Sholah tentang film 'Jejak 2 Ulama'. Harapannya agar generasi muda mengikuti semangat dan meneladani ketokohan dua ulama itu.

"Waktu-waktu terakhir kami (Haedar dan Gus Sholah) berjumpa dan berdiskusi adalah tetap bagaimana semangatnya generasi bangsa tahu jejak para tokoh umat dan bangsa yang harus jadi contoh teladan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tegas Haedar.

Haedar menambahkan jika sosok Gus Sholah adalah sosok ulama yang memiliki andil mengembangkan Islam moderat di Indonesia. Jejak yang ditinggalkan Gus Sholah ini diharapkan Haedar mampu diteruskan dan dijaga oleh generasi muda.

"Yang tidak kalah pentingnya, jejak kebaikan dan kiprahnya (Gus Sholah) untuk umat dan bangsa, bahkan untuk kemanusiaan semesta untuk diikuti keluarga anak cucu dan sekaligus keluarga Nahdiyin, umat dan bangsa agar ada keberlangsungan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan yang moderat dan membangun untuk semua," ungkap Haedar.

1 dari 3 halaman

Sohibul Iman: Kita Berharap Muncul Gus Solah Yang Lain

Duka Mendalam Juga Dirasakan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman atas berpulangnya Gus Sholah. Sohibul Iman melihat sosok Gus Sholah sebagai tokoh bangsa dan panutan umat.

"Kita sebagai bagian dari negeri ini merasa kehilangan tokoh bangsa, tokoh panutan bagi umat," kata Sohibul di kediaman Gus Sholah, Jakarta Selatan, Senin (3/2).

Dia berharap agar ada sosok atau orang lain seperti Gus Sholah. Terlebih, ia melihat banyak kader Nahdatul Ulama yang memiliki kualifikasi seperti Gus Sholah.

"Insya Allah, kita ingin bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat bersama membangun tokoh bangsa seperti Gus Sholah ini," ujarnya.

Selain itu, meninggalnya Gus Sholah dinilai telah memberikan banyak pesan-pesan kebangsaan. "Ya beliau selalu menegaskan tidak ada dilema antara keIndonesiaan dengan keIslaman. Karena itu, negeri ini yang mayoritasnya umat Islam tidak ada tempatnya untuk kita mengadakan dikotomi sehingga berhadap-hadapan. Justru Islam dan nasionalis itu harus menyatu," ungkapnya.

Tak hanya itu, Gus Sholah juga dianggap sebagai orang yang mempunyai wawasan kemasyarakatan yang luar biasa. Karena, apa yang disampaikan oleh Gus Sholah memberikan pesan yang baik.

"Saya kebetulan dua bulan lalu ke sini, ngobrol dengan beliau, memang beliau ini seorang yang memiliki pemahaman agama yang mendalam, termasuk wawasan kemasyarakatan yang luar biasa," jelasnya.

"Sehingga apa yang keluar dari beliau itu merupakan sesuatu yang memberikan hikmah yang besar buat kami, kami merasakan ini sebagai pelita di dalam perjalanan kami," pungkasnya.

2 dari 3 halaman

Din Syamsuddin: Gus Sholah Pergi Saat Umat Memerlukannya

Sementara Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin mengatakan, kepergian Gus Sholah di saat umat sedang memerlukannya. Menurutnya, bukan hanya sebagai pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Gus Sholah juga merupakan seorang negarawan yang dapat mempersatukan.

"Gus Sholah adalah seorang kiyai, pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng. Selain itu beliau adalah seorang negarawan, figur nan penuh dengan kearifan dan kebijaksanaan, serta cenderung mempersatukan. Gus Solah memiliki itu semua," ujar Din.

Salah satu cara untuk mempersatukan yakni dengan cara mempertemukan para tokoh Islam untuk menyatukan pikiran dalam menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan.

"Beberapa kali beliau mengajak untuk mempertemukan para tokoh Islam guna menyatukan pikiran terhadap masalah-masalah kebangsaan, dan menghadapi gejala pemecahbelahan umat oleh umat sendiri," ucapnya.

"Beberapa kali almarhum mengajak untuk adanya pertemuan para tokoh, namun belum menjadi kenyataan hingga beliau dipanggil pulang ke hadirat Ilahi. Semoga niat baik itu ada yang meneruskannya dan arwah Almarhum dari balik barzakh ikut berbahagia menyaksikannya," sambungnya.

Selain itu, Gus Sholah juga merupakan orang yang sangat peduli dan prihatin jika melihat adanya keterpecahan umat maupun suatu organisasi.

"Saya dengar langsung kala mampir di Jombang maupun dalam berbagai kesempatan, begitu besar keprihatinan almarhum terhadap keterpecahan umat dan rendahnya qiyadah merekatkan ukhuwah Islamiyah baik antar organisasi maupun dalam satu organisasi. Menurut Almarhum, banyak yang terjebak pada hubbud dunya (pragmatisme dan materialisme)," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Ketua KPK: Indonesia Telah Kehilangan Satu Putra Terbaik

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri turut menyampaikan duka cita atas wafatnya Salahuddin Wahid atau Gus Sholah. Firli menyampaikan, Gus Sholah merupakan salah satu tokoh terbaik bangsa. Kepergiannya memberikan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia.

"Dengan berpulangnya ke Rahmatullah Gus Sholah, bangsa Indonesia telah kehilangan satu putra terbaiknya, kita sebagai generasi penerus bangsa memiliki kewajiban untuk melanjutkan perjuangan beliau," jelas dia.

Firli berharap, perjuangan beliau akan terus tertanam dalam diri setiap generasi bangsa. Khususnya dalam mewujudkan Indonesia yang bersatu dalam ikatan toleransi kuat.

"Smoga kita dapat mewujudkan harapan beliau mewujudkan Indonesia yang toleran, Indonesia yang adil, Indonesia yang cerdas, dan Indonesia yang sejahtera untuk semua anak bangsa. Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu anhu. Kita semua berdoa, semoga almarhum husnul khotimah. Amin," Firli menandaskan.

Reporter: Nanda Perdana Putra [gil]

Baca juga:
Haedar Nashir: Gus Sholah Sosok Kiai Moderat yang Peduli HAM
Ribuan Santri Ponpes Tebuireng Jombang Sambut Kedatangan Jenazah Gus Sholah
Cerita Hotman Paris Diberi Gelar 'Gus' oleh Gus Sholah
Suasana Rumah Duka Gus Sholah
Para Tokoh Melayat Almarhum Gus Sholah
Hidayat Nur Wahid Pimpin Doa Pelepasan Jenazah Gus Sholah ke Jombang
Karangan Bunga Berderet di Rumah Duka Gus Sholah

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini