Ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 11 Bungo Tanjuang di Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, menunjukkan semangat luar biasa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Mereka harus beradaptasi dengan kondisi darurat di tenda-tenda yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Situasi ini muncul setelah sebagian dinding pembatas sekolah ambruk dan mengancam keselamatan siswa serta guru.
Kegiatan belajar di tenda darurat telah berlangsung sejak awal Januari 2026, menyusul insiden ambruknya dinding pembatas sekolah pada akhir November 2025. Pihak kepolisian bahkan telah memasang garis pengaman di area sekolah untuk mencegah akses ke bagian yang berbahaya. Kondisi ini menyebabkan beberapa ruang kelas tidak dapat digunakan secara normal, memaksa siswa untuk berpindah ke fasilitas sementara.
Meskipun menghadapi tantangan seperti cuaca panas terik pada siang hari dan fasilitas yang terbatas, para siswa SDN 11 Bungo Tanjuang tetap menunjukkan antusiasme tinggi dalam belajar. Mereka berharap pemerintah segera mengambil tindakan perbaikan yang cepat dan komprehensif. Hal ini penting demi memastikan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa dan guru di sekolah tersebut.
Advertisement
Advertisement
“Belajar di tenda darurat tetap seru dan asyik,” ujar Flodia, seorang siswi kelas empat, pada Jumat. Pernyataan ini mencerminkan semangat pantang menyerah para siswa SDN 11 Bungo Tanjuang meskipun harus belajar dalam kondisi yang jauh dari ideal. Dukungan penuh dari para guru menjadi salah satu faktor utama yang menjaga motivasi belajar mereka tetap tinggi di tengah keterbatasan.
Flodia menambahkan bahwa meskipun terik matahari seringkali menyengat pada siang hari, hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk menimba ilmu. Ia dan teman-temannya telah menjalani pembelajaran di tenda selama dua bulan. Kondisi ini menuntut adaptasi ekstra dari seluruh komunitas sekolah, termasuk penyesuaian jadwal belajar.
Para siswa sangat berharap agar pemerintah segera memperbaiki kerusakan dinding sekolah. Beberapa ruang kelas kini tidak dapat digunakan, sehingga mengganggu proses belajar mengajar. Flodia juga menyebutkan bahwa fasilitas MCK sekolah ikut ambruk akibat hujan deras pada akhir November 2025 lalu, menambah daftar kerusakan yang harus segera ditangani.
Advertisement
Advertisement
Guru Herna Permata Sari menjelaskan bahwa ada enam ruang kelas yang saat ini terancam ambruk dan tidak aman untuk digunakan. Akibatnya, seluruh kegiatan belajar mengajar terpaksa dialihkan ke tenda darurat. Situasi ini berdampak pada jadwal pelajaran yang harus diatur ulang secara bergantian demi mengakomodasi semua siswa.
Sari merinci bahwa dua kelas harus bergantian mengikuti pelajaran setiap harinya, dengan jam belajar yang disesuaikan. Kelas dimulai pukul 07.00 pagi dan berakhir pukul 10.00 pagi, setelah itu pelajaran dilanjutkan di ruang kelas yang masih kosong dan dianggap aman. Penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan semua siswa tetap mendapatkan hak pendidikan mereka meskipun dalam kondisi darurat.
Ia mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan perbaikan demi menjamin kondisi belajar yang lebih aman. Penundaan lebih lanjut dikhawatirkan dapat memperburuk situasi dan membahayakan keselamatan siswa. “Pada siang hari, matahari menjadi sangat terik dan anak-anak merasa kepanasan,” tambahnya, menggambarkan salah satu tantangan utama belajar di tenda.
Advertisement
Advertisement
Pihak kepolisian telah dua kali memasang garis pengaman di sekitar area sekolah menyusul insiden ambruknya dinding secara berturut-turut. Insiden terakhir terjadi di sisi kanan sekolah, yang menyebabkan keretakan pada beberapa bangunan. Tindakan ini merupakan langkah preventif penting untuk melindungi siswa dan guru dari potensi bahaya yang mengintai.
Pemasangan garis pengaman ini menunjukkan tingkat risiko yang serius di lingkungan sekolah, menandakan bahwa kondisi infrastruktur yang rapuh memerlukan perhatian segera dari pihak berwenang. Keselamatan dan kenyamanan siswa dalam belajar harus menjadi prioritas utama dalam penanganan masalah ini. Situasi ini juga menyoroti pentingnya pemeliharaan rutin fasilitas pendidikan.
Perbaikan yang cepat dan komprehensif sangat dibutuhkan agar siswa dapat kembali belajar di lingkungan yang layak dan permanen. Pemerintah daerah dan pusat diharapkan dapat berkoordinasi untuk mempercepat proses rehabilitasi. Hal ini krusial untuk mencegah terganggunya proses pendidikan jangka panjang di SDN 11 Bungo Tanjuang dan memastikan masa depan pendidikan anak-anak tidak terancam.
Advertisement
Sumber: AntaraNews