Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

'Siskamling' di media sosial buat deteksi penyebaran paham radikal

'Siskamling' di media sosial buat deteksi penyebaran paham radikal Ilustrasi Media Sosial. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Kelompok radikal menyusup di tengah-tengah masyarakat sebelum melakukan aksi teror. Gerak-gerik mereka kerap mencurigakan. Namun warga sering kali bersikap cuek tidak melaporkan hal tersebut.

Staf Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Somomoeljono mengingatkan jika menemukan kejanggalan langsung melapor ke aparat. Penyerangan Gereja St. Lidwina, Sleman, pelaku Suliono sempat menginap di masjid dan musala selama lima hari.

"Sebagai antisipasi aksi teror, cara paling efektif aktifkan kembali sistem Siskamling. Bangun pos-pos penjagaan di setiap wilayah RT-RW dengan dilengkapi CCTV. Selain Siskamling konvensional, tidak bisa ditawar lagi harus dilakukan 'Siskamling' di media sosial (medsos)," ujar Suhardi dalam keterangannya, Jumat (16/2).

'Siskamling' medsos, lanjut Suhardi, bisa dilakukan dengan membentuk grup di setiap RT dan RW. Nantinya dari informasi itu diharapkan bisa terdeteksi berbagai hal yang terjadi di lingkungan, terutama bila ada warga yang bertingkah aneh.

"Ingat tahun 2018-2019 adalah tahun politik. Menjadi tugas kita semuauntuk bersatu padu menyatukan warga untuk selalu waspada dengan berbagai gangguan yang mungkin terjadi, khususnya radikalisme dan terorisme," imbuh Suhardi.

Ia menilai, peristiwa teror bisa saja dilakukan atas kesadaran sendiri disebabkan persepsi yang terbentuk secara inklusif pada diri seseorang. Sebaliknya bisa juga disebabkan karena dorongan dari pihak lain yang motifnya sangat variatif.

"Aksi teror di Gereja St Lidwina adalah contoh kongkret ada manusia secara pribadi melakukan tindakan sendiri dengan cara menyerang melukai umat yang notabene tengah beribadah. Radikalisme adalah perbuatan keji," terang pria yang juga pakar deradikalisasi.

Menghadapi adanya dua kemungkinan sebagai faktor penyebab itu, ia mengimbau pihak penegak hukum jangan sampai kehilangan sumber informasi dari pelaku tersebut. Selain itu, dalam menggali informasi dari pelaku, idealnya dari awal penyidik melibatkan peneliti dan psikologi sehingga dalam melihat sosok pelaku secara utuh.

"Semua harus digali, baik psikologi pelaku maupun sejarah kenapa pelaku bisa teradikalisasi. Apalagi bisa menggali jaringan pelaku. Itu akan sangat efektif untuk mengantisipasi dan memetakan sel-sel radikalisme di Indonesia," tandasnya. (mdk/did)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP