Deru kereta melintas silih berganti dari atau ke Stasiun Pasar Senen tak pernah benar-benar menjadi gangguan berarti bagi warga yang tinggal di bantaran rel, antara Kecamatan Senen dan Johar Baru.
Suara 'jedag jedug' kereta sudah seperti musik sehari-hari yang mereka rasakan. Keterbatasan ekonomi, membuat mereka harus rela tinggal di bantaran rel, meski risiko terus membayanginya.
"Kalau kita udah buat dianggap musik. Kereta tuh jedug jedug jedug lewat, ya udah saja gitu. Sudah saja kita bikin enjoy saja," kata Cono (56) saat ditemui Liputan6.com, Jumat (27/3).
Dari bantaran rel tersebut, menyimpan sebuah cerita kehidupan ibukota yang jarang dilirik, bahkan termarginalkan.
Gubuk-gubuk mungkin terlihat rapuh dan reot, yang dibangun hanya terbuat dari kayu dan seng-seng bekas. Tapi bagi warga bantaran rel senen, gubuk tersebut seperti tempat multifungsi.
Tak ada batas antara tempat tidur dan bekerja. Gubuk-gubuk bukan hanya sekadar tempat berlindung dari panas dan hujan, melainkan titik awal dalam mengais rezeki.
"Hampir 32 tahun, cuma di sini kan kita ladang usaha," ujar Cono.
Mayoritas warga hidup dengan pekerjaan serabutan, ada yang memulung, mengamen, dan buruh proyek. Semua bisa dikerjakan, asal dapur ngebul. Bagi Cono dan warga sekitar, bantaran rel dan pasar merupakan ladang. Sampah-sampah maupun barang bekas mereka pilah-pilih, ada yang dijual, ada pula yang disimpan untuk keperluan sehari-hari.
Akses Air Bersih Terbatas
Cono mengatakan, sehari-hari dirinya dan keluarga harus membayar Rp6.000 untuk mendapat akses dua dirigen air bersih. Meski berat, ia terpaksa harus membayarnya demi mendapatkan air yang layak, untuk keperluan rumah tangga.
Sementara itu, untuk kebutuhan mandi dan buang air, warga bantaran rel masih bergantung pada fasilitas toilet di sekitar pasar. Masing-masing orang harus merogoh kocek Rp2.000 di WC umum.
Artinya, aktivitas harian seperti mandi atau ke toilet dilakukan di luar rumah.
"6.000 dua ember, toilet di sana di pasar," jelas Cono.
Kehidupan Penuh Risiko
Begi Cono, hidup dipinggiran rel bukan hal mudah, melainkan penuh akan risiko yang membayanginya. Salah satunya, penggusuran mendadak yang bisa terjadi kapanpun, seperti yang dirasakannya hari ini.
Sehari setelah kunjungan orang nomor satu di Indonesia, Cono harus menerima kenyataan pahit. Gubuk tempat tinggal dan berteduh harus rela dibongkar. Meskipun, ini bukanlah kejadian pertama baginya.
"Oh ya ada juga penertiban kayak begini, ntar bangun lagi," ucapnya.
Tak hanya menghadapi ancaman penggusuran yang datang tanpa aba-aba. Ada bahaya lain yang nyaris tak pernah pergi, yaitu kereta api melintas sejengkal dari depan gubuk.
Meski begitu, bagi warga yang sudah lama menetap, hapal betul dan paham kapan kereta itu datang. Suara gemuruh dan rel berdesing menjadi tanda kereta kian mendekat. Secara otomatis, aktivitas berhenti sejenak.
"Jadi orang sini udah paham, udah paham ya (tanda kereta melintas)," jelas Cono.
Kecemasan justru datang dari mereka yang tak terbiasa. Di tengah hiruk pikuk orang lalu lalang, tak jarang orang abai terhadap peringatan yang sudah diberikan oleh warga sekitar. Akibatnya, kecelakaan hadir kepada mereka yang bukan tinggal, melainkan yang hanya sekadar singgah.
Ladang Rezeki
Hal serupa dirasakan Sairin (35) dan Kuntoro (45) dua kakak beradik yang juga sudah puluhan tahun tinggal di bantaran rel Senen. Bagi mereka, bantaran rel senen adalah ladang mengais rezeki, meski pendapatan yang didapat tidak selalu pasti.
"Ada sebagian ngamen, pekerjaannya ngamen, ada mulung mungut, tukang kayu bakar," kata Sairin.
Suasana berbeda dirasakan oleh keduanya, yang tinggal di bantaran rel senen hari ini. Pasca datangnya Presiden Prabowo, petugas Satpol PP melakukan penggusuran terhadap warga.
Dengan nada datar, Sairin juga bercerita bahwa peristiwa ini bukanlah yang pertama, bahkan sudah beberapa kali terjadi bagi warga di bantaran. Meski begitu, ada kegelisahan yang tak benar-benar hilang dari pikirannya.
Ia memikirkan bagaimana caranya menyambung hidup dan memberi makan keluarga, jika tempatnya saat ini harus dibongkar. Baginya, ini bukan sekadar hilang tempat tinggal, tapi juga mata pencaharian bagi keluarga.
"Ada bongkaran begini nyari makannya susah, nggak bisa tidur," jelasnya.
Dua Janji Prabowo
Kehadiran Prabowo di bantaran rel senen disambut antusias oleh warga sekitar. Prabowo sempat berbincang dengan masyarakat. Presiden berencana memindahkan warga ke rumah susun (rusun). Hidup di rusun adalah impian bagi warga yang terbiasa terguncang ketika kereta datang.
Meski begitu, rencana tersebut tidak serta-merta disetujui oleh warga. Ada pula yang harus berpikir ulang pemindahan ke rusun, seperti Sairin. Bukan tanpa alasan, ia harus kembali beradaptasi dan menyesuaikan diri khususnya untuk bekerja apabila pindah ke rusun.
Apabila dipindahkan, ia harus menata kehidupan ulang, dengan ritme berbeda, lingkungan baru, hingga cara mengais rezeki yang mungkin berbeda dari biasanya.
Bagi Sairin, tempat tinggal saat ini adalah ladang mencari rezeki sehari-hari. Harapanya, jika memang harus dipindahlan, dipikirkan pula tempat untuknya menyimpan barang-barang mulung.
"Biasa untuk nyari makannya di sini sih ya jadi gimana lah," tutur Sairin.
Di tengah kecemasan warga melihat gubuk dibongkar, pemandangan lain justru berbeda. Sejumlah anak-anak masih tampak bermain riang, tertawa, dan berlari seolah tanpa beban.
Advertisement
Kedatangan Prabowo kemarin bukan sekadar memberikan harapan tempat tinggal baru, melainkan akses pendidikan bagi anak-anak yang tinggal di bantaran rel tersebut. Dari sinilah harapan datang kepadanya.
Ia mengaku, Prabowo berkomitmen untuk menyekolahkan anak-anak bantaran rel guna mendapatkan akses pendidikan, yang selama ini terasa jauh, sehingga bisa melihat masa depan yang lebih cerah.
"Kata Pak Prabowo kalau anak-anak yang belum sekolahan entar disekolahin," katanya.
Di antara bongkahan puing-puing yang tersisa, harapan dan kecemasan terus berjalan beriringan. Ada yang pasrah, ada pula yang optimis bahwa pemerintah hadir membawa perubahan bagi mereka.