Sidang Kasus Investasi Bodong, Hakim Perintahkan Jaksa Awasi Kesehatan Terdakwa

Rabu, 5 Januari 2022 23:16 Reporter : Abdullah Sani
Sidang Kasus Investasi Bodong, Hakim Perintahkan Jaksa Awasi Kesehatan Terdakwa Persidangan kasus investasi bodong PT Fikasa Grup di PN Pekanbaru. ©2021 Merdeka.com/abdullah sani

Merdeka.com - Ketua Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Provinsi Riau, DR Dahlan memerintahkan supaya jaksa mengawasi Komisaris Utama Fikasa Group Agung Salim selama menjalani masa pembantaran di rumah sakit. Hal ini lantaran terdakwa kasus investasi bodong dengan kerugian nasabah mencapai Rp8,9 miliar itu sering tidak hadir dalam persidangan, disebabkan mengaku sakit.

"Kita bantarkan terdakwa Agung Salim. Dia dirawat di RS Madani. Awasi dia dengan ketat. Jangan sampai dia mengkonsumsi makanan yang bisa menambahkan naiknya gula darah. Kalau tidak diawasi ya tidak turun-turun," kata Dahlan, Pekanbaru, Rabu (5/1).

Dalam proses pengawasan, jaksa meminta bantuan empat polisi. Permintaan jaksa ini lantas dikabulkan hakim.

Sidang berlangsung singkat karena terdakwa Agung tidak bisa mengikuti proses persidangan kareng mengaku sakit. Belum lama proses persidangan, hakim menyatakan sidang ditunda. Hakim memutuskan untuk terdakwa dibantarkan dengan pengawasan ketat.

Saat sidang yang dilakukan secar virual, Agung yang berada di rumah sakit terlihat tertidur saat proses persidangan. Pihak dokter yang menangani menyatakan Agung punya sakit diabetes atau gula. [cob]

Baca juga:
Kasus Penipuan Investasi Bodong, Tersangka Sebut Murni Jual Beli Kripto
Polri: 6 dari 18 Perkara Investasi dan Asuransi Bodong Sudah P21

Dokter pembanding dari RSUD Madani, Rama Fadila mengatakan terdakwa menolak untuk dilakukan penurunan kadar gula. Hal ini karena gula darah pasien di atas 500.

"Penggunaan obat-obatan sudah tidak efektif lagi, karena nanti fungsi pankreasnya bisa rusak. Satu-satunya langkah adalah suntik insulin. Tapi yang bersangkutan tidak mau disuntik insulin," tutur Rama kepada hakim Dahlan.

Ditundanya kembali sidang bermula saat hakim menghadirkan dokter dari RSUD Arifin Achmad dan dari RSUD Madani yang menangani terdakwa Agung. Dahlan mencecar kedua dokter.

Dalam penjelasannya, Rama menuturkan kondisi Agung Salim bisa mengikuti sidang. Namun terdakwa mengatakan pusing kalau duduk atau berdiri.

Setelah mendengarkan keterangan dokter Rama, hakim pun memanggil lima saksi korban. Sementara lima terdakwa juga mengikuti sidang secara virtual dari Rutan Sialang Bungkuk Pekanbaru dan Lapas Wanita Pekanbaru.

Mereka adalah Christian Salim, Agung Salim dan Cristian Salim. Sementara dua terdakwa lain di Rutan Wanita Pekanbaru adalah Elly Salim dan Maryani.

A Napitupu korban investasi bodong menjadi saksi pertama untuk dimintai keterangan. Hakim menanyakan apa yang menjadi alasan korban tertarik dengan ajakan Maryani dan Agung Salim sehingga mau mengeluarkan uang yang cukup besar.

A Napitupulu ini pun menjawab karena tergiur dengan bunga yang ditawarkan. Korban pun meminta terdakwa benar benar diawasi karena dia curiga terdakwa pura pura sakit untuk mengulur ulur waktu.

Setelah beberapa sidang berjalan hakim melihat ke arah Agung Salim yang terlihat seperti tertidur saat proses persidangan. Hakim pun mempertanyakan ke jaksa Herlina Samosir Lastarida dan Rendy Panalosa terkait sikap Agung Salim.

"Ini gimana kalau sidang terdakwa tertidur seperti itu JPU. Gimana kita mau menanyakan sementara dia tidak mengikuti jalannya persidangan," ketus Dahlan.

Hakim dan jaksa akhirnya bersepakat untuk melakukan pembataran terhadap terdakwa Agung Salim. Namun hakim tetap mencurigai terdakwa sengaja menunda persidangan. Ini karena massa penahanan hanya dua bulan, sehingga hakim harus segera menyelesaikan perkara sesuai waktu.

Baca juga:
Kasus Penipuan Investasi Bodong, Tersangka Sebut Murni Jual Beli Kripto
Polri: 6 dari 18 Perkara Investasi dan Asuransi Bodong Sudah P21

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Investasi Bodong
  3. Pekanbaru
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini