Sidang Hasto Ungkap Aliran Uang Suap Harun Masiku, Wahyu Setiawan Terima 19.000 Dolar Singapura di Toilet Mal Pejaten Village

Aliran uang itu diungkapkan eks anggota Bawaslu Agustiani Tio saat bersaksi di sidang Hasto Kristianto.

Rahmat Baihaqi
Oleh Rahmat Baihaqi - Reporter
Sidang Hasto Ungkap Aliran Uang Suap Harun Masiku, Wahyu Setiawan Terima 19.000 Dolar Singapura di Toilet Mal Pejaten Village
Sidang Hasto Ungkap Aliran Uang Suap Harun Masiku, Wahyu Setiawan Terima 19.000 Dolar Singapura di Toilet Mal Pejaten Village (Merdeka.com)

Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan menerima uang suap dari tersangka Harun Masiku sebanyak 19.000 dolar Singapura. Uang itu diterima Wahyu dari mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio di toilet salah satu mal daerah Pejaten Village, Jakarta Selatan.

Ikhwal pemberian uang suap tersebut diungkapkan Tio saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan perkara suap Pergantian Antarwaktu (PAW) dan perintangan penyidikan Harun Masiku untuk terdakwa Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (24/4).

Tio menuturkan, awalnya saat itu dihubungi kader PDI Perjuangan Saeful Bahri yang menyatakan ingin menyerahkan uang 20.000 dolar Singapura. Uang tersebut sebagai bentuk Down Payment atau uang muka kepada Wahyu untuk memuluskan jalan Harun Masiku sebagai anggota parlemen melalui PAW.

"Waktu itu saya memang mau jalan ke plaza Indonesia, saya bilang 'Saya sudah di Plaza Indonesia' 'Oh ya sudah nanti sopir ku yang ketemu sama mbak, untuk antar yang 200 itu' sudah saya ketemu, itu saya ambil saya kalau enggak salah saya WhatsApp sama Wahyu 'mas ini 200 ada sama saya DP 200' 'iya mbak'" cerita Tio di ruang sidang, Kamis (24/4).

Keterangan Saksi

Uang itu akhirnya diterima Tio dalam amplop melalui sopir Saeful bernama Ilham. Hanya saja, Tio mengatakan Saeful pada saat itu sempat berpesan jika isi uang di balik amlop tersebut kelebihan. Tapi pada akhirnya Tio belum sempat membuka uang tersebut.

Tio lanjut menceritakan setibanya di Mal Pejaten village, sudah melihat Saeful dengan Wahyu yang sudah bertemu terlebih dahulu. Tidak lama berselang, Saeful mengajak Tio untuk melipir terlebih dahulu.

"Sudah ngobrol dengan saudara Wahyu saya enggak tahu percakapannya apa, baru kemudian saudara Saeful ngajak saya untuk agak menyingkir. Jadi yang membuka itu dia dan kemudian, nah di situ saya tahu saya menyaksikan karena dia mengambil 1.000 1 lembar," ujar Tio.

"Pecahan?" Tanya Jaksa.

"Dolar Singapura, baru kemudian dikasih ke saya yang amplop yang sudah dibuka," kata Tio.

Setelah itu Tio baru bertemu dengan Wahyu dan menyerahkan uang berisikan dolar Singapura tersebut.

"Setelah mereka selesai bicara, baru terus saya jalan menuju toilet, karena Wahyu akan ke toilet saya serahkan di situ di dekat toilet," ujar Tio.

Tidak hanya itu saja, Tio juga mengaku kecipratan dari uang panas tersebut. Wahyu menyerahkan 3 lembar pecahan 1.000 dolar Singapura kepadanya.

Kepada Tio, Wahyu mengaku menyerahkan uang tersebut sebagai uang berbelasungkawa karena orangtua Tio sebelumnya telah wafat.

"Dia kasih ke saya itu 3 lembar 1.000 dolar dia bilang mau kasih pertama untuk anak-anak kedua karena mertua saya sehabis meninggal jadi untuk bantu tahlilannya dia bilang gitu," kata Tio.

"Berarti yang diterima oleh pak Wahyu ke saudara asumsikan dari uang itu 19.000 dikurang 3 lembar ya?" Tanya Jaksa.

"Iya asumsi saya gitu," ucap Tio.

"Jadi 16.000 yang diterima oleh Wahyu?" Tanya Jaksa.

"Asumsi saya begitu," singkat Tio.

Rekomendasi