Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Siasat Pencari Suaka di Indonesia Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Corona

Siasat Pencari Suaka di Indonesia Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Corona Imigran Pencari Suaka Terlantar di Indonesia. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Banyaknya pencari suaka yang menjadi pengungsi di Indonesia saat ini, membuat pemerintah provinsi setempat, sulit melakukan pendataan. Terlebih, aturan hukum Indonesia yang tidak mewadahi mereka secara legal untuk dapat tinggal untuk bisa bekerja dan mendapat hak hidup yang terjamin.

Celakanya, pandemi Covid-19 makin membuat hidup mereka sulit karena terus digantung ketidakpastian kapan mendapat negara tujuan oleh UNHCR.

Lalu bagaimana mereka bertahan selama lebih kurang tiga bulan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB)?

Nimo, salah satu pengungsi yang merangkul komunitas pencari suaka di Indonesia bernama Sisterhood, mengatakan hidup selama PSBB bergantung dari bantuan orang lain.

"Contohnya saat Ramadan, kami yang hidup dekat masjid mendapat bantuan sedekah dari pihak masjid, mereka menyalurkan," tutur dia saat Webinar bersama LBH Jakarta, Jumat (19/6).

Menurut dia, pembagian sembako yang dilakukan pemerintah provinsi setempat, tidak dapat menjangkau mereka yang memang di luar data pencatatan.

"Padahal saya sudah empat tahun tinggal di lingkungan itu tapi karena tidak ada kartu keluarga syarat, karena kartu kami kan pengungsi dari UNHCR dan itu tidak bisa," jelas dia.

Pengalaman yang sama juga dituturkan Sikandar Ali, Manager Refugee Learning Center, mengaku bahwa bantuan komunitas menjadi kunci pengungsi bertahan selama PSBB.

"Seperti IOM (International Organization for Migration) membantu kami dalam menyuplai kebutuhan pokok, kebutuhan kesehatan untuk tetap bertahan," jelas dia.

Lalu Bagaimana Jika Ada Pengungsi Terduga Covid?

Ziko dari Komunitas Suaka, mengatakan sempat mendengar bahwa ada seorang pengungsi di Makassar yang diduga terpapar. Kendati hal tersebut sudah ditangani oleh UNHCR dengan bekerjasama dengan IOM.

"Saya mendengar sempat ada, tapi sudah membaik mendapat bantuan UNHCR dan IOM," jelas dia dalam kesempatan webinar yang sama.

Ziko menambahkan, jika para pengungsi diyakini sudah benar menerapkan protokol kesehatan berlaku. Seperti jaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker.

"Kita dari komunitas sudah membuat kampanye dan layanan edukasi via daring, visual yang menginfokan protokol kesehatan agar dapat dijalani dengan baik teman-teman pengungsi dan saya rasa sudah berjalan," Ziko menandasi.

Reporter: Muhammad Radityo Priyasmono

(mdk/gil)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP