Setiap Tahun, 300 Ribu Orang di Indonesia Menderita Katarak

Minggu, 21 Juli 2019 23:47 Reporter : Fikri Faqih
Setiap Tahun, 300 Ribu Orang di Indonesia Menderita Katarak Bakti sosial operasi katarak di RS EMC Sentul. ©Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Jumlah penderita katarak di Indonesia mencapai 1,4 persen dari jumlah penduduk. Artinya saat ini ada sekitar 4 juta warga Indonesia yang menderita katarak. Belum lagi pertumbuhan penderita katarak setiap tahunnya mencapai sekitar 300 ribu orang.

Melihat jumlah tersebut, sebagai rumah sakit mata di Indonesia, Sumatera Eye Center (SMEC) membantu mengurangi penderita penyakit katarak.

CEO SMEC Group, Imsyah Satari mengatakan, bertambahnya penderita katarak di Indonesia menjadi masalah yang sangat besar. Belum lagi pertumbuhan tersebut tidak sebanding dengan kemampuan dokter mata di Indonesia dalam melakukan katarak hanya sekitar 250 ribu setiap tahunnya. Sehingga terjadi backlog atau penumpukan jumlah pasien yang harus ditandatangani.

"Penumpukan jumlah pasien ini terjadi karena jumlah dokter mata yang masih terbatas serta teknologi operasi katarak yang masih konvensional," katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/2).

Dunia melalui WHO juga mencanangkan bebas buta katarak tahun 2020 termasuk pemerintah Indonesia.

"Sementara kemampuan dan SDM kita terbatas. Sehingga ini akan sulit dicapai. Atas dasar itu, Kota Kudus kami pilih menjadi lokasi baksos karena potensi Kudus yang luar biasa dari segi ekonomi dan juga pertumbuhan penduduk. Potensi ini menjadi sangat penting dikarenakan tidak banyak rumah sakit dan klinik mata yang berada di sini," ujar Imsyah.

Seringkali masyarakat harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam ke Semarang demi mendapatkan pelayanan mata berstandar internasional. "Ini juga lah yang membuat SMEC menetapkan niatnya untuk membangun klinik spesialis mata di Kota Kudus ini," ujarnya.

Teknik operasi katarak yang akan digunakan adalah Phacoemulsifikasi, ini merupakan operasi katarak yang sangat modern, tanpa jahitan dan tidak perlu menunggu lama atau menunggu katarak menjadi matang sebelum dilakukan operasi.

Presdir PT. ERELA, Lily Handojo menyebutkan, pihaknya mempunyai tanggung jawab untuk mengurangi tingginya angka katarak di Indonesia. Meskipun operasi katarak ditanggung BPJS, namun pihaknya berharap peran mereka dapat mempercepat penanganan penderita katarak.

"Dengan operasi katarak ini semoga SMEC dan ERELA dapat memberikan manfaat bukan hanya kepada penderitanya melainkan juga dapat bermanfaat untuk memberikan peningkatan kesehatan di masyarakat Kudus dan sekitarnya," tutupnya. [fik]

Topik berita Terkait:
  1. Katarak
  2. Operasi Katarak
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini