Lapangan Banten menjadi pusat perayaan Imlek Festival 2577 yang digelar sejak 22 Februari hingga 1 Maret 2026. Sejumlah titik di Lapangan Banten dihiasi aneka ornamen Imlek, memeriahkan aneka acara yang dikemas dalam tajuk Harmoni Imlek Nasional, dengan mengusung tema Harmoni Imlek Nusantara – “Bhinneka Tunggal Ika: Berbeda-beda Tapi Tetap Satu”. Acara ini pun ini berhasil menarik perhatian masyarakat dari berbagai latar belakang.
Imlek Festival bukan sekadar perayaan satu komunitas, melainkan menjadi ruang temu kebangsaan. Tahun ini, festival digelar bertepatan dengan bulan Ramadan, menciptakan konsep perayaan yang toleran, inklusif, dan sarat pesan kebersamaan lintas budaya.
Di area festival, pengunjung dapat menjelajahi puluhan bazar UMKM kuliner. Semua makanan yang dijual ramah dikonsumsi siapapun. Lebih dari sekadar kuliner, festival ini juga menonjolkan semangat inklusivitas dan toleransi antarwarga, menjadikannya perayaan yang hangat dan menyatukan.
Dinda, warga Pulo Gadung, Jakarta Timur, menilai suasana festival sangat nyaman dan penuh toleransi. “Sebagai muslim, di sini toleransi banget. Kita pun nggak dibedakan, bebas membaur dengan siapa aja. Tempatnya luas, adem, nyaman banget,” ujarnya.
Ia juga tertarik mencoba beragam kuliner hits, mulai dari dimsum lezat, kopi yang menyegarkan, hingga jajanan favorit lainnya yang tersedia di ratusan bazar UMKM kuliner. Suasana festival yang ramai dan penuh warna membuat pengalaman mencicipi kuliner semakin menyenangkan bagi Dinda.Sementara itu, Binta lebih memperhatikan deretan booth fesyen dan aksesoris yang menarik.
“Sejauh ini booth-nya menarik-menarik ya. Kayak ada batik juga, ada kebaya banyak gitu. Menarik sih. Terus ada aksesoris juga, gelang gitu,” ujarnya. Ia berencana membeli kemeja santai untuk dipakai sehari-hari.
Sebagai seorang muslimah yang tengah menjalani ibadah puasa, Binta mengaku terkesan dengan suasana festival yang menurutnya sarat nilai toleransi. “Keren sih. Toleransinya dapet banget. Kita lagi puasa terus Imlekan juga. Keren sih,” tambahnya.
Lebih dari itu, Binta berharap semangat kebersamaan dalam perayaan lintas budaya seperti ini terus dijaga. “Tetap seperti ini, jangan sampai terpecah belah. NKRI nomor satu,” kata Binta.
Advertisement
Advertisement
Gieta Gerungan, Ketua Oiko Line Dance Maesa, melihat Imlek sebagai momentum kebersamaan lintas budaya yang semakin inklusif. Bukan lagi sekadar perayaan etnis Tionghoa, melainkan sudah menjadi ruang bersama seluruh masyarakat.
Ia merasa bangga melihat perayaan Imlek kini dirayakan secara lebih terbuka dan melibatkan banyak pihak. “Kita salut banget. Bangga dan salut dengan pemerintah. Jadi bukan hanya kalangan Chinese atau orang Tionghoa saja yang bisa merayakan, tapi semua bisa ikut merayakan dari berbagai suku, agama juga ikut di sini,” ujarnya.
Selama festival berlangsung, momen yang paling berkesan baginya adalah kesempatan tampil sekaligus menikmati suasana acara.
“Momennya ya kita dihibur gratis, kita tampil. Oiko Line Dance bisa tampil di sini luar biasa banget. Berterima kasih kepada panitia,” ucapnya. Bagi Gieta, Imlek tahun ini bukan hanya soal pertunjukan dan kemeriahan, tetapi tentang rasa bangga melihat keberagaman dirayakan secara terbuka dan penuh kebersamaan.
Pengunjung Asing Kagum dengan Semarak Festival
Mark, wisatawan asal Skotlandia, langsung merasakan kemeriahan begitu memasuki area festival. Musik dan aroma makanan menjadi kesan pertama yang menarik perhatiannya.
“Saya dengar musiknya. Kemudian saya masuk dan bisa merasakan semua makanan. Jadi saya ingin lihat-lihat gerai-gerai. Makanannya kelihatan bagus,” ungkapnya.
Dibandingkan perayaan Imlek di negaranya, Mark menilai Imlek di Indonesia lebih besar dan meriah. “Indonesia jauh lebih besar. Ini perayaan yang besar. Saya sangat menyukai semua lampu-lampu, dekorasi, musik, dan pertunjukan. Sangat bagus,” kata Mark.
Bagi Mark, keunikan festival ini ada pada perpaduan budaya dan latar belakang masyarakat yang hadir. “Festival ini sangat berbeda. Ada banyak pengaruh regional, ada orang Manado, ada orang Cina, ada orang Indonesia, dan ada orang asing seperti saya yang datang untuk mencoba budaya yang berbeda. Sangat bagus. Saya sangat menyukainya."
Advertisement
Bagi Novita, owner brand Goodthings, mengikuti festival yang memadukan perayaan Imlek dan suasana Ramadan menjadi pengalaman yang istimewa. Ia melihatnya sebagai simbol persatuan lintas agama dan suku.
“Ini luar biasa. Buat aku sih semangat banget, antusias banget. Karena ini salah satu faktor yang mempersatukan umat beragama dan berbagai suku. Mereka antusias melihat ornamen Imlek, kita juga antusias dengan tempatnya yang ada di jalanan. Jadi oke banget, ini benar-benar mempersatukan kita semua,” ujarnya.
Ia juga menangkap semangat pengunjung yang datang ke area tenant non-F&B. “Kelihatan banyak pengunjung yang masuk ke dalam tenant non-F&B ini semangat sih ngelihatnya, apalagi di sini meriah ya, warna-warni,” ucapnya.
Novita berharap festival selanjutnya bisa lebih maksimal, terutama dari sisi promosi agar penjualan tenant meningkat. “Harapannya ke depan lebih baik lagi. Promonya juga lebih baik,” pungkas Novita yang membawa beragam koleksi batik, mulai dari batik cap, printing, hingga dobby.
Selain bazar kuliner dan fashion, panitia juga menyediakan layanan kesehatan gratis: cek gula darah, kolesterol, pemeriksaan gigi, USG payudara, dan screening HPV DNA. Ada juga pemeriksaan melalui kuesioner. Layanan dibuka mulai jam 3 sore hingga 8 malam, dengan pendaftaran terakhir pukul 6 sore. Kuota harian sekitar 50–100 peserta, dilaksanakan bergantian oleh puskesmas wilayah DKI Jakarta.
Advertisement
Jelang Malam Puncak perayaan Imlek Nasional, Ketua Umum Panitia Imlek Nasional yang sekaligus Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar bersama Wakil Ketua Umum Panitia Imlek Nasional yang sekaligua Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan dan Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad menyapa pengunjung dan tenant UMKM. Mereka juga membeli sejumlah produk UMKM, termasuk karya buatan para penyandang disabilitas. Veronica Tan bahkan sempat menulis kaligrafi Tionghoa di lokasi.
Sebelum puncak acara, akan berlangsung Parade Imlek Nusantara 2026, menampilkan Naga Liong, Barongsai, Bedug, Wushu, Silat, Ondel-ondel, hingga Mobil Hias bersama Kabinet Merah Putih. Parade berlangsung dari Jalan Katedral menuju Lapangan Banteng, pukul 15.00–17.00 WIB, menebar warna, energi, dan harmoni budaya.
Acara dilanjutkan dengan Buka Puasa Bersama Bobon Santoso yang menyiapkan 5.000 porsi Ketupat Cap Go Meh. Tak sekadar sajikan panganan, tapi juga sajikan kebersamaan lintas budaya, dan semangat berbagi berpadu dalam pengalaman yang meriah dan penuh makna.
Puncak perayaan yang berlangsung Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 20.00 WIB, menampilkan atraksi barongsai dan liong massal, pertunjukan musik dan tari tradisional, penampilan seniman nasional, serta simbol harmoni dan persatuan bangsa.
Acara puncak juga disiarkan langsung melalui kanal YouTube: @ImlekFestival, @bakom_ri, dan @ekrafRI.