Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Selama 23 Hari, Terjadi 12 Kali Awan Panas Guguran di Gunung Merapi

Selama 23 Hari, Terjadi 12 Kali Awan Panas Guguran di Gunung Merapi Gunung Merapi. ©2014 merdeka.com/yulistyo pratomo

Merdeka.com - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida menuturkan, sejak 29 Januari 2019 aktivitas Gunung Merapi telah memasuki fase pembentukan guguran lava dan awan panas guguran. Pernyataan ini disampaikan saat jumpa pers tentang perkembangan Gunung Merapi di Kantor BPPTKG.

Hanik mengungkapkan sejak 29 Januari hingga 21 Februari 2019 telah terjadi 12 kali awan panas guguran di Gunung Merapi. Awan panas guguran pertama terjadi 29 Januari 2019. Di tanggal itu terjadi tiga kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal 1.400 meter.

"Tanggal 7 Februari terjadi satu kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter. Di tanggal 11 Februari terjadi 1 kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal 400 meter. Tanggal 18 Februari terjadi rentetan awanpanas guguran sebanyak 11 kali. Awan panas guguran ini memiliki jarak luncur maksimal 1.000 meter," ungkap Hanik.

Hanik menyebut saat ini jarak luncuran awan panas guguran tersebut maksimal mencapai 2.000 meter. Namun tak menutup kemungkinan jarak luncuran ini bisa mencapai 3.000 meter.

"Jarak luncur guguran lava dan awan panas guguran saat ini maksimal 2 km dan masih berpotensi terjadi dengan jarak luncur kurang dari 3 km. Kondisi ini belum mengancam keselamatan penduduk di pemukiman yang berjarak paling dekat 4,5 km dari puncak Merapi," ujar Hanik.

Dia meminta masyarakat, khususnya yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Hanik juga meminta masyarakat agar selalu mengikuti informasi aktivitas Merapi.

"Radius 3 km dari puncak agar dikosongkan dari aktivitas penduduk. Masyarakat dan pemerintah daerah dimohon mempersiapkan prosedur penanganan kondisi darurat terhadap aktivitas masyarakat atau wisatawan di alur Kali Gendol dan sekitarnya, serta masyarakat diimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik," tutup Hanik.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP