Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sejak Covid-19 Mewabah di Timika, Siswa Taruna Papua Isolasi di Sekolah

Sejak Covid-19 Mewabah di Timika, Siswa Taruna Papua Isolasi di Sekolah Aktivitas belajar mengajar di Sekolah Taruna Papua. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Seluruh siswa, guru serta pembina di asrama Taruna Papua mengisolasi diri di sekolah yang terletak di Kelurahan Wonosari Jaya Kabupaten Timika. Mereka tidak diizinkan keluar dari area kompleks sekolah dan asrama sejak Covid-19 menjangkiti wilayah Timika pada akhir Maret.

Direktur Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) Vebian Magal di Timika Kamis mengatakan kebijakan isolasi sekolah dan asrama Taruna Papua dilakukan semata-mata untuk menghindari penularan wabah Covid-19 ke kompleks persekolahan yang seluruhnya menampung siswa asli Papua asal Suku Amungme, Kamoro dan beberapa suku Papua lainnya.

"Sejak awal kasus Covid-19 masuk ke Timika, kami memang melakukan karantina wilayah khusus di kompleks sekolah dan asrama Taruna Papua. Guru, siswa, pembina asrama, tukang masak dan karyawan lain tidak boleh keluar dari kompleks itu karena situasi di Timika sekarang ini sudah terjadi transmisi lokal," kata Vebian, Kamis (11/6).

Sejauh ini terdapat 712 siswa mulai tingkat SD hingga SMP yang bersekolah di Sekolah Asrama Taruna Papua. Sementara jumlah seluruh karyawan (termasuk guru, pembina asrama) yang mengelola sekolah tersebut sebanyak 154 orang.

Sekolah dan Asrama Taruna Papua dibangun oleh YPMAK (sebelumnya bernama LPMAK), lembaga yang mengelola dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia untuk pemberdayaan masyarakat lokal Suku Amungme dan Kamoro serta lima suku kekerabatan lain di Kabupaten Mimika.

Saat ini pengelolaan Sekolah dan Asrama Taruna Papua dipercayakan kepada Lembaga Pendidikan Lokon yang berpusat di Tomohon, Sulawesi Utara.

"Mereka tidak diperbolehkan keluar dari lingkungan sekolah. Pada saat liburan seperti sekarang ini anak-anak juga tidak diperbolehkan pulang kembali ke rumah orang tua mereka baik yang ada di Timika maupun yang ada di kampung-kampung pedalaman. Mereka tidak diperbolehkan kontak dengan orang luar, semua wajib tinggal di dalam asrama dan sekolah," jelasnya.

Adapun guru-guru dan pembina asrama diberikan pilihan.

Jika tidak menghendaki untuk tinggal di sekolah dan asrama atau memilih tinggal di luar kompleks sekolah, maka mereka tidak diperkenankan untuk bertemu dengan para siswa dan rekan-rekan guru yang lain.

"Kalau mereka tidak mau tinggal di dalam atau memilih tetap tinggal di luar, silahkan saja, tapi mereka tidak boleh masuk ke sekolah untuk sementara waktu. Gaji mereka tetap dibayarkan (gaji pokok), tetapi tunjangan yang lain-lain mereka tidak terima," kata Vebian.

Hingga saat ini, katanya, ribuan peserta program beasiswa YPMAK yang berada di berbagai kota studi di luar Mimika terus dipantau kondisi kesehatannya dan belum ada laporan ada yang terpapar Covid-19.

Pekan lalu salah seorang peserta beasiswa YPMAK meninggal dunia di Semarang lantaran terserang penyakit lain bukan kasus Covid-19.

"Sampai sekarang anak-anak itu sehat-sehat saja. Sejak awal kami tegaskan bahwa biaya asrama, kontrakan rumah dan lain-lain tetap ditanggung penuh oleh YPMAK sekalipun sekarang ini mereka bersekolah atau kuliah secara online. Kami tetap berkoordinasi dengan lembaga mitra untuk memantau dan mengawasi anak-anak peserta program beasiswa di berbagai kota studi," ujar Vebian. Seperti diberitakan Antara.

(mdk/rhm)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP