Satgas Sebut Penerapan Prokes Modal Hidup Berdampingan dengan Covid-19

Jumat, 27 Agustus 2021 09:22 Reporter : Supriatin
Satgas Sebut Penerapan Prokes Modal Hidup Berdampingan dengan Covid-19 MRT Jakarta turut siaga virus corona. ©Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Covid-19 diprediksi akan hidup berdampingan dengan masyarakat di berbagai negara belahan dunia cukup lama. Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan fase itu tentu tidak mudah dilalui.

Namun, bukan tidak mungkin masyarakat hidup berdampingan dengan Covid-19. Asalkan semua elemen masyarakat mau berkomitmen menjalankan protokol kesehatan di setiap aspek kehidupan. Termasuk dalam rumah, di perjalanan, atau saat beraktivitas di luar rumah.

"Masyarakat perlu mengetahui bahwa sistem ini (protokol kesehatan) adalah modal kita untuk tetap hidup sehat dan produktif walaupun Covid-19 masih berdampingan dengan kita," katanya, Jumat (27/8).

Selain masyarakat, setiap institusi maupun pengelola fasilitas publik juga perlu melakukan pengawasan dan bertanggung jawab atas penerapan protokol kesehatan di tempatnya masing-masing.

Wiku mengingatkan selama Covid-19 masih berevolusi, masyarakat juga harus ikut berevolusi. Artinya tindakan pencegahan seperti memakai masker dan menjaga jarak harus terus dilaksanakan.

Di saat yang sama, pemerintah harus terus mempercepat dan memperluas cakupan vaksinasi Covid-19.

"Selama Covid-19 terus beredar dan bermutasi secara global, masih akan terjadi lonjakan infeksi secara berkala. Tetapi jika virus ini berperilaku seperti virus serupa lainnya, lonjakan ini akan mengecil seiring waktu, karena sebagian besar populasi akan memiliki kekebalan, baik melalui vaksinasi atau infeksi sebelumnya, setiap kali ada gelombang baru," pungkas Wiku.

Sebelumnya, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Ganip Warsito, mengatakan pemerintah akan mengubah penanganan menjadi pengendalian Covid-19. Perubahan strategi ini bertujuan untuk menjadikan pandemi sebagai endemi Covid-19.

"Jadi arahnya itu mengubah pandemi menjadi endemi," katanya dalam Rapat Koordinasi Penguatan Penanganan Covid-19 di Bali yang disiarkan melalui YouTube BNPB Indonesia, Kamis (19/8).

Ganip menjelaskan, keputusan pemerintah ingin mengubah penanganan menjadi pengendalian karena Covid-19 tak bisa dipastikan kapan berakhir. Justru, kasus Covid-19 terus bertambah diikuti dengan varian barunya.

"Kita tidak akan bisa sepenuhnya menghapus Covid-19 dalam waktu singkat, karena tidak ada satu ahli pun yang bisa menjamin kapan Covid-19 ini berakhir," ujarnya.

Jika pemerintah mengubah penanganan menjadi pengendalian Covid-19, masyarakat bisa lebih produktif dan aman. Meskipun masyarakat harus hidup berdampingan dengan Covid-19.

Ganip menyebut, menuju endemi Covid-19, ada tiga hal yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat. Pertama memperketat penerapan 3M (Menggunakan masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan pakai sabun).

"Jadi protokol kesehatan khususnya menggunakan masker ini menjadi proteksi paling mudah dan bisa dilakukan setiap orang, hanya butuh pendekatan sosialisasi dan edukasi untuk itu," tuturnya.

Kedua, meningkatkan 3T (Testing, Tracing, dan Treatment). Ketiga, mempercepat dan memperluas vaksinasi Covid-19.

"Dengan tiga (hal) ini, kita bisa mengendalikan pandemi," tutupnya. [lia]

Ingat #PesanIbu

Jangan lupa Selalu Mencuci Tangan, Memakai Masker dan Menjaga Jarak Mari Bersama Cegah Penyebaran Virus Corona

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini