Sampaikan nota pembelaan, Setya Novanto bacakan puisi 'Di Kolong Meja'

Jumat, 13 April 2018 15:15 Reporter : Yunita Amalia
Sidang Setya Novanto. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Setya Novanto membacakan puisi dalam sidang pembelaan dirinya sebagai terdakwa korupsi proyek e-KTP. Puisi dengan judul "Di Kolong Meja" dibuat oleh penulis Linda Djalil. Puisi tersebut menggambarkan tentang peran di balik sebuah kolong meja. Pada baris pertama dan kedua menceritakan bagaimana sekumpulan debu bersembunyi di kolong meja. "Di kolong meja tersimpan cerita seorang anak manusia menggapai hidup, gigih dari hari ke hari," ujar Novanto di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat (13/4). Syair ketiga dan keempat, puisi tersebut menceritakan perjuangan seseorang bagaimana bertahan hidup untuk meraih keberhasilan. Hingga usaha pun membuahkan hasil baik. "Di kolong meja muncul cerita sukses anak manusia yang semula bersahaja akhirnya bisa diikuti siapa saja karena cerdas caranya bekerja," sambungnya. Selanjutnya, dalam puisi itu menyindir debu di kolong meja yang tak kunjung dibersihkan, hanya sekadar menyaksikan segala peristiwa sebagai tontonan. Berikut isi lengkap puisi di Kolong Meja: Di kolong meja ada debu yang belum tersapu

karena pembantu sering pura pura tak tahu Di kolong meja ada biangnya debu

yang memang sengaja tak disapu

bersembunyi berlama-lama

karena takut dakwaan seru

melintas membebani bahu Di kolong meja tersimpan cerita

seorang anak manusia menggapai hidup

gigih dari hari ke hari

meraih ilmu dalam keterbatasan

untuk cita-cita kelak yang bukan semu

tanpa lelah dan malu

bersama debu menghirup udara kelabu Di kolong meja muncul cerita sukses anak manusia yang semula bersahaja

akhirnya bisa diikuti siapa saja

karena cerdas caranya bekerja Di kolong meja ada lantai yang mulus tanpa cela

ada pula yang terjal bergelombang siap menganga

menghadang segala cita-cita

apabila ada kesalahan membahana

kolong meja siap membelah

menerkam tanpa bertanya

bahwa sesungguhnya ada berbagai sosok yang sepatutnya jadi sasaran Di kolong meja

ada pecundang

yang bersembunyi

sembari cuci tangan

cuci kaki

cuci muka

cuci warisan kesalahan Apakah mereka akan senantiasa di sana dengan mental banci berlumur keringat ketakutan

Dan sesekali terbahak melihat teman sebagai korban menjadi tontonan.< [dan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini