Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rizal Ramli Menunggu Capres Berani Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8 persen

Rizal Ramli Menunggu Capres Berani Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8 persen Rizal Ramli Laporkan Ketum Nasdem Surya Paloh. ©2018 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Pakar ekonomi Rizal Ramli menilai dua calon presiden (Capres) masih belum ada yang berani menargetkan dan menjanjikan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Jika ada, ia tidak akan ragu untuk memilih dan mendukungnya.

Menurutnya, angka realistis untuk mengubah Indonesia menjadi negara yang maju, karena bisa berimplikasi pada upah buruh pasti naik, lapangan kerja jauh lebih banyak. Salah satu cara untuk merealisasikannya adalah dengan mewujudkan kedaulatan pangan.

"Kita punya sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). Indonesia itu harus mampu berdaulat dalam sektor pangan, tidak lagi mengandalkan barang impor dari luar negeri," katanya ditemui di Jalan Dago, Bandung, Jumat (8/2).

Dia heran dengan kebijakan Indonesia yang selama empat tahun terakhir melakukan impor di berbagai komoditas dengan skala besar, seperti gula, beras dan jagung. Bahkan ia berani menyebut Presiden Jokowi yang tidak konsisten antara tujuan dengan strategi, kebijakan, dan personalnya.

Visi pemerintahan di bawah Jokowi yang tertuang dalam jargon "Kerja, kerja, kerja" disebut tidak cerdas. Alasannya, jargon itu menggiring bangsa kita hanya berkutat dalam tataran kerja fisik.

Kebijakan impor tidak memberikan nilai tambah bagi masyarakat Indonesia, tetapi menguntungkan rakyat negara tempat produk impor tersebut berasal. Ditambah, utang luar negeri Indonesia terus membesar dengan beban bunga pinjaman yang nilainya paling tinggi se-Asia.

"Para petani sudah bekerja keras, tapi ketika panen, impor, gulanya kebanyakan, impor berasnya kebanyakan, impor bawang kebanyakan. Kita cuma disuruh kerja jadi kuli doang karena pemimpin tidak bekerja untuk menyejahterakan kita. Dia malah menyejahterakan petani di Vietnam di Thailand, petani garam di Australia," ucapnya.

Disinggung mengenai Prabowo Subianto, Rizal Ramli mengaku telah berdiskusi terkait kebijakan impor pangan yang akan diambilnya jika terpilih sebagai presiden.

"Saya pernah tanya "Mas, seandainya mas menang bulan April, itu taipan-taipan kartel pangan pasti akan ketemu mas sama tim mas nyebar uang triliunan, Mas Prabowo mau terima enggak?" Dia bilang, "Mas Rizal, setelah saya enggak jadi tentara, saya jadi Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. Kalau sampai saya terima uang itu, sama saja saya nembak kaki saya sendiri,". Nah ini jawaban bagus," beber Rizal.

Pertanyaan yang sama, tambah Rizal, sempat juga dia ajukan kepada Presiden Jokowi, apakah mau mengubah kebijakannya yang dinilai merugikan petani atau mempertahankan sistem kartel ini. Namun, kata Rizal, hingga saat ini, dia belum menerima jawaban dari pertanyaannya itu.

"Masih ada waktu dua bulan lagi, tapi kalau sampai waktu dua bulan ini enggak jawab, saya akan anjurkan kepada rakyat Indonesia untuk tidak memilih mas Jokowi, karena tidak akan ada perubahan," tandasnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP