Rekan Indonesia Desak Evaluasi Pelayanan Kesehatan Jayapura Pasca Kematian Ibu Hamil

Kematian tragis seorang ibu hamil di Jayapura memicu desakan Rekan Indonesia untuk Evaluasi Pelayanan Kesehatan Jayapura secara menyeluruh, menyoroti masalah sistemik di fasilitas rujukan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Rekan Indonesia Desak Evaluasi Pelayanan Kesehatan Jayapura Pasca Kematian Ibu Hamil
Jelang HUT TNI ke-80, Kodam XVII Cendrawasih menggelar bakti sosial pengobatan massal, donor darah, dan pembagian sembako di Mall Jayapura. Simak detail Bakti Sosial Kodam Cendrawasih ini! (Merdeka.com)

Kematian tragis seorang ibu hamil, Irene Sokoy, di Jayapura pada 19 November 2025 menjadi sorotan tajam. Insiden ini memicu Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia untuk mendesak pemerintah melakukan evaluasi mendalam. Mereka menyoroti adanya masalah sistemik dalam pelayanan kesehatan ibu di wilayah tersebut.

Irene Sokoy, yang berasal dari Kampung Hobong, meninggal dunia dalam perjalanan menuju RS Dok II Jayapura setelah sebelumnya ditolak di beberapa rumah sakit rujukan. Penolakan berulang terhadap pasien gawat darurat seperti ini tidak dapat dibenarkan. Hal ini menunjukkan adanya celah serius dalam penanganan kasus maternal.

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, menegaskan bahwa kasus ini merupakan indikator serius. Ia meminta pemerintah segera melakukan evaluasi pelayanan kesehatan Jayapura secara menyeluruh, khususnya terhadap fasilitas rujukan di Abepura dan Jayapura.

Kronologi Tragis Penolakan Pasien

Berdasarkan informasi yang dihimpun Rekan Indonesia, Irene Sokoy dibawa dari Kampung Kensio menuju RS Yowari pada dini hari sekitar pukul 03.00 WIT untuk persalinan. Namun, dari RS Yowari, pasien kemudian dirujuk ke RS Abepura. Sayangnya, di RS Abepura, pasien tidak mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan.

Keluarga pasien kemudian berupaya membawa Irene ke RS Dian Harapan, tetapi rumah sakit tersebut juga tidak menerimanya. Perjalanan pencarian pertolongan medis berlanjut ke RS Bhayangkara. Di sana, keluarga dihadapkan pada permintaan biaya operasi sebesar Rp8 juta yang tidak mampu mereka penuhi.

Karena keterbatasan biaya, keluarga memutuskan untuk membawa Irene ke RS Dok II Jayapura. Namun, takdir berkata lain, pasien meninggal dunia dalam perjalanan sebelum sempat mendapatkan penanganan medis yang krusial. Peristiwa ini menggarisbawahi urgensi evaluasi pelayanan kesehatan Jayapura secara komprehensif.

Angka Kematian Ibu di Papua: Masalah Sistemik

Agung Nugroho menjelaskan bahwa kematian Irene Sokoy bukan sekadar insiden biasa, melainkan cerminan dari masalah yang lebih besar. Data resmi menunjukkan bahwa Papua memiliki angka kematian ibu (AKI) yang sangat tinggi. AKI di Papua mencapai 565 per 100.000 kelahiran hidup, jauh di atas rata-rata nasional dan merupakan yang tertinggi di Indonesia.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan kematian ibu di Papua adalah masalah sistemik yang telah berlangsung lama dan memerlukan perhatian serius. Berbagai penelitian juga telah menyoroti adanya kendala dalam proses rujukan dan layanan kegawatdaruratan maternal. Kendala tersebut meliputi keterlambatan pengambilan keputusan, stabilisasi pasien yang belum optimal, serta kapasitas tenaga medis yang belum merata.

"Jika di pusat kota saja penanganan ibu hamil dalam kondisi darurat sangat lambat, bagaimana kondisi di wilayah pedalaman? Ini situasi yang mengkhawatirkan," ujar Agung. Pernyataan ini menekankan pentingnya evaluasi pelayanan kesehatan Jayapura dan sekitarnya.

Desakan Rekan Indonesia untuk Perbaikan Sistem

Menyikapi insiden tragis ini, Rekan Indonesia mendesak pemerintah daerah dan pusat untuk segera bertindak. Mereka menuntut evaluasi pelayanan kesehatan Jayapura secara menyeluruh terhadap rumah sakit rujukan yang diduga menolak pasien. Selain itu, penegakan aturan pelayanan gawat darurat yang melarang permintaan uang muka juga harus diperketat.

Organisasi ini juga menyerukan peningkatan kompetensi tenaga medis, khususnya dalam penanganan kasus kegawatdaruratan maternal. Penyediaan skema pembiayaan darurat bagi keluarga tidak mampu juga dianggap krusial untuk mencegah terulangnya kasus serupa. Ini adalah langkah penting dalam memastikan akses layanan kesehatan yang adil.

"Di kota dengan akses rumah sakit yang banyak, seorang ibu tidak boleh meninggal hanya karena birokrasi atau penolakan layanan. Ini tidak boleh terulang. Pemerintah harus segera bertindak," kata Agung. Rekan Indonesia berharap peristiwa ini menjadi momentum berharga untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan ibu dan bayi di seluruh Papua.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi