Apa Itu Kabut Adveksi yang Selimuti Tabanan Bali? Ini Penjelasan BMKG

Sebagian warganet bahkan menduga kabut tersebut merupakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Moh Kadafi
Oleh Moh Kadafi- Reporter
Apa Itu Kabut Adveksi yang Selimuti Tabanan Bali? Ini Penjelasan BMKG
Tangkapan layar video yang memperlihatkan kabut di Jalan Bypass Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali

Kabut putih tebal menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Tabanan, Bali, pada Rabu (21/10). Fenomena yang terekam dalam video dan viral di media sosial itu memicu pertanyaan warga. Sebagian warganet bahkan menduga kabut tersebut merupakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kabut adveksi, yakni kabut yang terbentuk akibat perpindahan massa udara hangat dan lembap ke wilayah dengan kondisi suhu yang berbeda.

Lantas, apa itu kabut adveksi, bagaimana proses terbentuknya, dan mengapa fenomena ini bisa menyelimuti wilayah pesisir Tabanan?

Apa yang menyebabkan kabut tebal di Tabanan?

Kepala Stasiun Klimatologi Bali Aminudin Al Roniri mengatakan, berdasarkan analisis terhadap video yang beredar, kabut putih tebal di Tabanan merupakan fenomena cuaca yang dikenal sebagai kabut adveksi.

Fenomena ini dapat terjadi ketika angin membawa massa udara hangat dan lembap dari permukaan laut atau wilayah lain menuju area dengan suhu yang lebih dingin. Perbedaan suhu tersebut membuat uap air di udara mengalami pengembunan di dekat permukaan bumi hingga membentuk lapisan kabut.

“Perbedaan suhu yang terjadi tersebut menyebabkan uap air di udara langsung mengembun di dekat permukaan, sehingga menciptakan lapisan kabut tebal,” kata Aminudin saat dikonfirmasi, Kamis (22/10).

Kabut yang terbentuk dapat menyelimuti wilayah dataran rendah maupun kawasan dekat pantai, sehingga jarak pandang di sekitarnya berpotensi berkurang.

Tangkapan layar video yang memperlihatkan kabut di Jalan Bypass Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali
Tangkapan layar video yang memperlihatkan kabut di Jalan Bypass Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali.

Apa itu kabut adveksi?

Kabut adveksi adalah kabut yang terbentuk ketika massa udara lembap bergerak secara horizontal ke wilayah dengan suhu permukaan yang lebih rendah, sehingga udara tersebut mendingin dan uap air di dalamnya mengembun.

Berbeda dengan kabut yang terbentuk terutama akibat pendinginan permukaan tanah pada malam hari, kabut adveksi berkaitan erat dengan pergerakan angin yang membawa udara lembap.

Proses pembentukannya secara sederhana dapat dijelaskan melalui tiga tahap:

-Angin membawa udara lembap. Massa udara yang mengandung banyak uap air bergerak dari laut atau wilayah lain menuju daratan.-Udara mengalami pendinginan. Ketika melewati permukaan yang lebih dingin, suhu massa udara turun hingga mendekati titik embunnya.-Uap air mengembun. Uap air berubah menjadi butiran air berukuran sangat kecil yang melayang di udara dan terlihat sebagai kabut putih.

Ketebalan dan luas sebaran kabut bergantung pada kondisi suhu, kelembapan, angin, serta keadaan atmosfer di setiap wilayah.

Benarkah kabut di Tabanan merupakan asap karhutla dari Kalimantan?

BMKG memastikan kabut yang terlihat dalam video tersebut bukan merupakan asap karhutla dari Kalimantan.

Aminudin menjelaskan, kesimpulan itu didasarkan pada analisis fenomena cuaca dan citra satelit yang menunjukkan arah sebaran asap karhutla di Kalimantan menuju barat, barat laut, dan utara. Berdasarkan citra tersebut, Bali tidak termasuk wilayah yang terdampak sebaran asap tersebut.

Dengan demikian, kemunculan kabut putih di Tabanan dijelaskan sebagai fenomena meteorologis, bukan akibat asap kebakaran hutan dan lahan.

Meski sama-sama dapat terlihat sebagai lapisan putih atau kelabu di udara, kabut dan asap memiliki sumber pembentukan yang berbeda. Kabut terbentuk dari butiran air hasil pengembunan uap air, sedangkan asap karhutla berasal dari partikel dan gas hasil pembakaran vegetasi atau material lainnya.

 

Apa ciri-ciri kabut adveksi?

Menurut Aminudin, kabut adveksi umumnya tidak berbau. Kehadirannya juga dapat membuat udara di sekitar terasa lebih lembap, meskipun kondisi udara belum tentu terasa lebih segar.

Kabut jenis ini dapat menutupi area yang cukup luas, terutama ketika angin membawa udara lembap menuju wilayah dengan kondisi suhu yang mendukung terjadinya pengembunan.

Namun, kabut adveksi tidak selalu muncul di seluruh wilayah yang memiliki karakteristik geografis serupa. Kemunculannya bergantung pada kondisi atmosfer setempat, termasuk perbedaan suhu, tingkat kelembapan, serta pola pergerakan angin.

 

Mengapa kabut bisa muncul di wilayah pesisir Bali?

Kabut adveksi umumnya dapat terjadi ketika kondisi udara lembap bertemu dengan permukaan yang lebih dingin. Fenomena ini juga dapat muncul pada musim kemarau ketika suhu udara di daratan relatif tinggi, bergantung pada kondisi atmosfer di masing-masing lokasi.

Aminudin menjelaskan bahwa fenomena kabut di Tabanan tidak serta-merta akan terjadi di semua wilayah dataran rendah atau kawasan pesisir Bali.

Hal ini karena setiap daerah memiliki kondisi cuaca dan atmosfer yang berbeda. Perbedaan suhu antara massa udara dan permukaan yang dilaluinya, kelembapan udara, serta pergerakan angin turut menentukan apakah kabut akan terbentuk.

Kabut yang terlihat di Jalan Bypass Kediri serta kawasan Gubug dan Yeh Gangga, Kecamatan Kerambitan, karena itu perlu dipahami berdasarkan kondisi meteorologis setempat.

Apakah kabut adveksi berbahaya?

Kabut adveksi merupakan fenomena cuaca yang terbentuk secara alami. Namun, keberadaannya tetap perlu diwaspadai ketika mengurangi jarak pandang, khususnya di jalan raya.

Pengendara yang melintasi wilayah berkabut sebaiknya mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan, menyalakan lampu kendaraan sesuai kondisi, serta menghindari manuver mendadak.

Masyarakat juga sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa kabut putih yang muncul di suatu wilayah merupakan asap kebakaran hanya berdasarkan tampilan visual. Informasi cuaca dan analisis sebaran asap dari instansi berwenang dapat membantu menjelaskan penyebab fenomena tersebut.

BMKG menegaskan, kabut tebal yang terlihat di sejumlah wilayah Tabanan merupakan kabut adveksi. Fenomena ini berkaitan dengan proses pengembunan uap air di dekat permukaan, sementara citra satelit yang dianalisis menunjukkan Bali tidak termasuk wilayah sebaran asap karhutla dari Kalimantan.

Rekomendasi