Penerbangan Palembang Sempat Kacau akibat Asap, Begini Kondisi Terkininya

Menurunnya visibility lantaran tertutup asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

irwanto
Oleh irwanto- Reporter
Penerbangan Palembang Sempat Kacau akibat Asap, Begini Kondisi Terkininya
Kabut asap membuat jadwal penerbangan dan ke Bandara Internasional SMB II Palembang tertunda (Liputan6.com / Nefri Inge)

Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang kembali terganggu akibat jarak pandang hanya 450 metar. Menurunnya visibility lantaran tertutup asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

Berdasarkan laporan, terdapat empat pesawat yang mengalami gangguan, baik kedatangan maupun penerbangan, Selasa (20/10). Pesawat yang gangguan terbang adalah Batik Air nomor penerbangan ID7054 Palembang-Jakarta yang seharusnya terbang pukul 09.00 WIB dan baru aktual terbang pada pukul 09.41 WIB.

Kemudian maskapai Super Air Jet nomor penerbangan IU302 Palembang-Pangkal Pinang yang seharusnya berangkat pukul 09.10 WIB dan baru bisa terbang pukul 09.33 WIB. Selanjutnya maskapai Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 107 Palembang-Jakarta. Sementara kedatangan pesawat yang mengalami gangguan adalah Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 102 Jakarta-Palembang.

"Ada tiga keberangan pesawat dan satu kedatangan pesawat yang terganggu karena visibility rendah, hanya 450 meter," ungkap General Manager Bandara SMB II Palembang Ahmad Syaugi Shahab, Selasa (20/10).

Seiring bertambahnya jarak pandang, aktivitas penerbangan di bandara itu berangsur normal. Namun pihaknya mengimbau pengguna jasa penerbangan untuk terus memantau kondisi terkini melalui maskapai masing-masing.

"Untuk saat ini per jam 11.31 WIB, visibility sudah baik di 1500 meter," kata dia.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan, kembali menurunnya kualitas udara di Palembang disebabkan oleh lapisan inversi atau suhu udara yang lebih hangat di atas lapisan udara yang lebih dingin dari permukaan bumi sehingga asap pun terperangkap ke bawah permukaan dan membuat kualitas udara kembali menurun.

“Parameter meteorologi hari ini lapisan inversi cukup rendah hanya 1 kilometer. Inilah yang memerangkap asap dekat permukaan,”kata Wandayantolis.

Dia menjelaskan, jika dilihat dari grafik PM2.5 sebelumnya, angkat PM2.5 tidak terlalu jauh. Hanya saja, jarak pandang masih bisa terlihat efek dari operasi dry ice. "Kalo dari grafik puncaknya tidak beda jauh dengan sebelum-sebelumnya kan ya. Ini lebih karena faktor meteorologi yang memerangkap asap," kata dia.

Rekomendasi