Ketua Tim Satuan Tugas (Satgas) atau Task Force DPP Partai Hanura, Patrice Rio Capella, menyatakan partainya mengusulkan perubahan sistem Pemilu Legislatif menjadi sistem kombinasi antara proporsional tertutup dan terbuka.
Menurut Rio, sistem proporsional terbuka yang selama ini diterapkan berpotensi membuat kader yang aktif membesarkan partai tersingkir oleh calon legislatif (caleg) yang memiliki kekuatan finansial lebih besar.
"Pemilu itu seharusnya setiap masanya meningkatkan kualitas dari isi Pemilu itu sendiri. Kita berharap pada Pemilu 2029 ini kualitas DPR, DPRD tingkat I dan tingkat II juga mulai meningkat," kata Rio saat ditemui dalam kegiatan konsolidasi Partai Hanura di Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/8/2026).
Rio menilai sistem proporsional terbuka selama ini membuat kontestasi Pemilu cenderung menyerupai pasar bebas. Kondisi tersebut dinilai dapat mengabaikan proses kaderisasi dan kontribusi seseorang dalam membesarkan partai.
"Orang yang bagus, nomor satu, aktivis di partai, mungkin bawahannya oke, hanya kalah pada modal atau kapital. Sehingga tersingkir dan dimenangkan oleh orang yang tidak mengikuti proses berpartai dan mengembangkan partainya sama sekali," urai Rio.
Atas kondisi tersebut, Rio menilai perlu ada ruang bagi partai politik untuk menentukan caleg yang dianggap memiliki kualitas. Namun, mekanisme tersebut tetap harus memberikan kesempatan kepada caleg untuk memperoleh kursi berdasarkan perolehan suara.
Hanura, kata Rio, mendukung sistem kombinasi atau setengah terbuka. Dalam skema ini, partai memiliki kewenangan menempatkan kader unggulan pada nomor urut tertentu. Sementara itu, perolehan suara tetap menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan caleg yang memperoleh kursi berikutnya.
"Kalau misalnya satu partai mendapatkan dua kursi, maka kursi pertama diserahkan kepada urutan nomor satu, kursi berikutnya ditentukan oleh suara terbanyak," jelasnya.
Menurut Rio, sistem tersebut dapat memberikan penghargaan terhadap peran partai sekaligus mempertahankan ruang kompetisi bagi para caleg untuk meraih suara.
"Kalau cuma dapat satu kursi, maka diserahkan kepada orang yang diusulkan oleh partainya pada urutan nomor satu. Sehingga, ada penghargaan dan membudayakan agar orang itu menjadi caleg dengan cara membesarkan partainya dulu," tambah Wakil Ketua Umum Hanura itu.
Dia menilai sistem kombinasi juga dapat mendorong kader untuk konsisten membangun partai. Dengan demikian, kader tidak sekadar berpindah dari satu partai ke partai lain karena memiliki modal finansial yang besar.
"Jangan kemudian dia bisa pindah-pindah antarpartai politik hanya dengan mengandalkan uang yang banyak. Saya pikir itu juga bikin demokrasi kita kurang sehat," tegasnya.
Rio menjelaskan sistem yang ditawarkan Hanura pada dasarnya menyerupai sistem proporsional tertutup, tetapi tetap memberikan ruang bagi caleg dengan perolehan suara terbanyak.
Ia mencontohkan, apabila sebuah partai memperoleh satu kursi, kursi tersebut diberikan kepada caleg dengan nomor urut pertama. Namun, jika partai mendapatkan dua kursi, kursi kedua dapat diberikan kepada caleg dengan perolehan suara terbanyak.
"Belum tentu nomor dua itu mendapatkan kursi kedua kalau memang suaranya tidak mengungguli caleg yang lain. Sehingga, kombinasi ini diharapkan ada peran partai dan ada peran dari para calegnya untuk membesarkan partai," tuturnya.
Rio mengatakan Hanura akan memperjuangkan gagasan sistem Pemilu kombinasi bersama partai-partai nonparlemen. Menurutnya, usulan tersebut menjadi bagian dari sikap Hanura untuk mendorong perbaikan sistem Pemilu.
"Selain parliamentary threshold atau ambang batas parlemen yang kita percayakan kepada MK, kami juga menyampaikan sikap soal bagaimana caranya supaya partai punya peran penting dalam penyusunan caleg," sebut Rio.
Rio juga menyambut positif wacana di DPR terkait penerapan sistem Pemilu kombinasi. Hanura, kata dia, siap mendukung apabila gagasan tersebut dibahas lebih lanjut dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak.
"Kami menerima informasi bahwa ada beberapa usulan yang masuk ke DPR soal sistem setengah terbuka dan setengah tertutup alias kombinasi. Karena itu kami mendukung untuk meningkatkan kualitas anggota DPR," pungkas Rio.