Di tengah ribuan mahasiswa baru Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun ini, ada satu sosok sukses mencuri perhatian para dosen dan teman-teman seangkatannya. Bukan tanpa alasan, identitas mahasiswa tersebut sukses bikin dahi berkerut penasaran. Namanya bukan singkatan, bukan pula inisial. Dia benar-benar hanya memiliki satu huruf yaitu Q.
"Nama saya memang cuma satu huruf, yaitu Q. Biasanya teman-teman memanggil saya Q, Qi, atau Qiu," kata Q melalui keterangan diterima pada Selasa (11/8).
Pemuda asal Desa Teguhan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur ini adalah alumnus SMAN 2 Kota Madiun. Dia berhasil menembus ketatnya persaingan masuk Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) ITB melalui jalur SNBT. Meski saat ini masih menjalani Tahap Persiapan Bersama (TPB), Q sudah memantapkan hati untuk menimba ilmu di Teknik Sipil.
Advertisement
Filosofi James Bond hingga Nuzulul Qur’an
Di balik namanya yang super singkat, ada doa dan ekspektasi besar dari sang ayah, Teguh Yunianto, dan ibunya, Sriyani.
Nama unik ini rupanya terinspirasi dari karakter Q dalam waralaba film legendaris, James Bond. Dalam film tersebut, Q adalah otak genius di balik layar yang meracik berbagai gawai dan teknologi canggih untuk sang agen 007.
"Ayah saya ingin saya bisa sepintar dan secerdik Q di film James Bond. Dia adalah kepala riset yang menciptakan berbagai teknologi canggih," tutur Q bangga.
Tak hanya urusan fiksi, ada makna spiritual dan nasionalis di balik namanya. Huruf Q adalah huruf ke-17 dalam alfabet. Angka 17 ini disematkan sebagai pengingat akan Hari Kemerdekaan Indonesia, sekaligus tanggal turunnya kitab suci Al-Qur’an. Tradisi nama singkat ini pun berlanjut ke dua adik perempuannya yang diberi nama Ayna dan An Nawa.
Advertisement
Bangkit dari Penolakan SNBP
Jalan Q menuju kampus Ganesha tidak dilewati dengan karpet merah. Meski langganan masuk peringkat tiga besar di sekolahnya hingga memenangi juara pertama kompetisi esai nasional teknik sipil di UNY, Q sempat menelan pil pahit saat ditolak di jalur tanpa tes (SNBP).
Namun, kegagalan itu justru menjadi bahan bakar utamanya. Q langsung 'tancap gas' belajar siang dan malam di tempat bimbingan belajar demi menembus UTBK-SNBT.
Strateginya tak main-main yaitu mencatat semua materi, try out berulang kali, dan mengevaluasi kelemahan. Sempat insecure melihat nilai teman-temannya yang lebih tinggi, Q memilih memakai 'kacamata kuda'.
"Saya mencoba tidak terlalu melihat nilai orang lain, agar tetap fokus memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kemampuan saya sendiri," ungkap dia.
Mental baja itu kembali diujinya saat kini resmi tinggal di Asrama ITB Jatinangor. Bertemu dengan teman sekamar yang merupakan juara olimpiade dengan skor UTBK selangit sempat membuatnya keder. Namun, alih-alih ciut, Q justru menjadikannya motivasi untuk berlari lebih kencang.
Kecintaan Q pada dunia teknik sipil dan sains sudah dipupuk sejak kecil. Benih itu ditanam oleh Pak Dian, guru IPA-nya di Madrasah Ibtidaiyah yang membuatnya jatuh cinta pada fisika. Sementara itu, ketertarikannya pada dunia konstruksi mengalir dari sang kakek yang dulunya adalah seorang pekerja bangunan.
Melihat banyak lahan dan bangunan terbengkalai di kampung halamannya, Madiun, Q bertekad untuk menyulapnya menjadi ruang produktif. Visinya tidak main-main. Bahkan, ia memiliki mimpi futuristis yang menembus batas bumi.
"Saya ingin tempat-tempat kosong di Madiun bisa dikembangkan jadi bangunan bermanfaat. Dan saya juga pernah berpikir mungkin suatu hari nanti, saya bisa ikut membangun rumah di bulan," kata dia.
Kini, sebagai mahasiswa ITB, Q memasang target lulus tepat waktu dengan IPK di atas 3,5. Ia juga berencana melanjutkan ke jenjang Magister atau mengambil Program Profesi Insinyur.
Lebih dari sekadar gelar, Q membawa idealisme yang kuat. Dia bertekad menciptakan inovasi infrastruktur yang inklusif yaitu teknologi yang bisa dinikmati oleh masyarakat kelas bawah, bukan hanya mereka yang berdompet tebal.
Namun, dari semua mimpi besar itu, ada satu impian paling sederhana namun paling emosional yang ingin ia wujudkan dalam waktu dekat.
"Saya tidak sabar memakaikan toga dan medali kelulusan ITB kepada ayah dan ibu saya. Dan untuk Madiun, nantikan inovasi dan pemikiran saya untuk infrastruktur di sana," tutup Q.
Sebaris nama yang hanya satu huruf, namun menyimpan ribuan asa, ketangguhan, dan mimpi besar untuk masa depan Indonesia.