Surat penghargaan dari badan antariksa Amerika Serikat (NASA) menjadi kejutan besar bagi Ibrahim Al Abrar. Bocah 11 tahun asal Dukuh Genengsari, Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Boyolali itu mendapat Letter of Recognition (LOR) atas temuannya berupa celah keamanan di situs resmi NASA.
Penghargaan tersebut diterima Ibrahim pada 9 Juli 2026. Prestasi itu menjadi buah dari kegigihannya mempelajari coding dan cyber security secara mandiri sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Siswa kelas 6 SDN Geneng 3 Kecamatan Kemusu itu mengaku senang mendapat pengakuan dari NASA. Baginya, pencapaian tersebut menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya sebagai profesional di bidang keamanan siber.
"Senang ya. Cita-cita saya mau jadi cyber security profesional. Saya maunya kerja di Indonesia tapi kerjanya tuh daring di luar negeri," ujar Ibrahim kepada merdeka.com, Sabtu (18/7).
Ayah Ibrahim, Aminudin Salas (36), juga mengaku bangga atas pencapaian anaknya. Dia menyebut penghargaan dari NASA tersebut menjadi hasil dari proses panjang, setelah Ibrahim beberapa kali mengalami kegagalan saat melaporkan temuannya.
"Senang rasanya mas, anak saya dapat prestasi penghargaan. Sudah 4 kali gagal sebelumnya," kata Aminudin.
Advertisement
Belajar Otodidak dari YouTube dan AI
Ketertarikan Ibrahim pada dunia IT bermula sejak kelas 4 SD. Awalnya dia hanya iseng belajar dasar coding lewat YouTube. Inspirasi datang setelah melihat pemberitaan ada anak SMP yang juga mendapat penghargaan dari NASA.
"Ibrahim itu kan melihat pemberitaan di media, ada anak SMP yang dapat NASA ngoten. Nah, anaknya terus tertarik pengin juga nyoba nyari. Akhirnya iseng-iseng nyari-nyari di NASA buat akun di Bugcrowd melaporkan di VDP-nya itu," ungkap Aminudin.
"Terus di awal 2026 kemarin itu mulai tertarik belajar cyber security," imbuhnya.
Aminudin yang sehari-hari mengajar program keahlian TKJ di SMKN Kemusu mengaku tidak menguasai bidang tersebut. Seluruh proses belajar Ibrahim berjalan otodidak, dibantu tutorial dari "kakak-kakak online".
"Kalau saya background-nya jaringan, network IT. Kalau coding sama cyber security saya kurang menguasai. Jadi dia benar-benar otodidak," jelasnya.
Dukungan orang tua pun mengalir. Awalnya Ibrahim hanya menggunakan smartphone. Karena layarnya terlalu kecil, Aminudin kemudian membelikan PC bekas dengan spek lebih tinggi.
"Terus karena kebutuhan cyber security itu butuh spek yang lumayan besar nggih, saya coba carikan laptop yang speknya juga agak tinggi. Jadi saya sebagai orang tua nggih semaksimal mungkin akan men-support selama itu hal-hal yang positif," ucapnya.
Advertisement
Temukan Celah di Situs NASA
Selama sekitar 6 bulan menekuni cyber security, anak pasangan Aminudin Salas dan Hanisa Al Tafiyani ini rutin melakukan open working. Dia membuka satu per satu halaman website yang memiliki external link, lalu memindainya untuk mencari celah.
Kerentanan yang dia temukan adalah jenis broken link hijacking pada situs resmi milik NASA. Jika tidak ditambal, celah itu bisa disalahgunakan menjadi link phishing untuk menipu orang dengan mengatasnamakan NASA.
Laporan pertama dan kedua Ibrahim sempat ditolak atau dianggap duplikat oleh sistem Bugcrowd, platform resmi NASA Vulnerability Disclosure Policy.
"Saya masih berusaha agar mendapatkan balasan yang disetujui. Gitu," ucap Ibrahim.
Baru pada laporan ketiga, pada 9 Juli 2026, tim NASA menyatakan temuannya valid dan mengirimkan surat penghargaan bertempel resmi.
"Lapornya sudah hampir 2 bulan. Tapi baru dibalas kemarin tanggal 9 Juli, dapat sertifikat lolosnya," imbuh Aminudin.
Advertisement
Impian Besar dari Desa
Ibrahim adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Yakni Yaselona yang masih SMP dan adik bungsunya Sabina. Meski tinggal di desa dengan akses terbatas, semangatnya tidak surut. Saat ini dia bahkan rutin membagikan konten edukasi coding lewat akun Instagram pribadinya.
"Cita-cita saya yang mau jadi cyber security profesional. Saya maunya di Indonesia tapi kerjanya tuh daring di luar negeri," ucapnya lagi.
Satu lagi cita-cita mulia Ibrahim adalah ingin mengajak kedua orang tua dan keluarganya naik haji ke tanah suci. "Harapannya saya, saya mau bersama-sama dengan orang tua saya naik haji bersama," katanya.
Advertisement
Ingin Sekolah Tinggi
Aminudin berharap ke depan anaknya mendapatkan pendidikan sesuai bakatnya, syukur-syukur mendapat beasiswa hingga jenjang tertinggi.
"Mungkin kalau ada kesempatan penginnya nggih di sekolah, kalau ada bantuan atau beasiswa ke anak saya. Saya penginnya yang sekolah yang ada khusus untuk IT-nya karena saya pengin anaknya itu fokus ke IT," jelas dia.
Aminudin mengaku belum mendapatkan apresiasi maksimal dari pemerintah. Meski Wakil Bupati Boyolali sudah datang ke sekolah memberikan paket alat tulis.
"Kayaknya enggak ada info kaitan beasiswa seperti itu, Mas. Tapi nggih belum tahu nanti. Muga-muga ada. Saya sebagai orang tua nggih, senang," tutur dia.