Ahmad Sahroni, yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR, mendesak agar Densus 88 Polri segera mengambil tindakan terkait ledakan bom rakitan yang terjadi di MAN 3 Padang, Sumatra Barat. Ia menekankan pentingnya penanganan cepat agar situasi ini tidak berlarut-larut dan menimbulkan masalah lebih lanjut.
"Densus segera menurunkan tim untuk bisa melakukan konsultasi terkait dengan yang dilakukan oleh siswa (korban) bullying yang menyebabkan sampai akhirnya membuat rakitan bom," kata Sahroni, Rabu (15/7).
Sahroni juga menegaskan agar pihak kepolisian tidak meremehkan insiden bom rakitan yang terjadi di Padang.
"Jangan dianggap sepele, dan segerakan tim Densus untuk terbang ke Sumbar untuk mengevaluasi dan menjajaki hal yang dilakukan oleh siswa tersebut."
Advertisement
Tuduhan Perundungan
Sebelumnya, polisi masih mendalami dugaan perundungan (bullying) yang diduga menjadi latar belakang aksi pelajar RGJ (17) meledakkan bom rakitan di sekolah. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Berdasarkan pemeriksaan awal, pelajar itu mengaku mengalami tekanan psikologis setelah sering menjadi korban perundungan oleh teman sekelasnya.
Kepala Bidang Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya mengatakan dugaan tersebut masih sebatas keterangan awal sehingga penyidik belum dapat menyimpulkan motif secara pasti.
“Ini dipicu oleh masalah psikologis yang mendalam akibat sering menjadi korban perundungan, bullying sesama temannya, teman sekelasnya,” kata Susmelawati saat dihubungi, Selasa (14/7/2026) malam.
Dari pemeriksaan sementara, polisi juga memperoleh keterangan bahwa sasaran rencana aksi diduga hanya satu orang yang merupakan teman sekelas pelaku. Namun, seluruh keterangan itu masih dalam proses pendalaman.
“Ada sih, satu itu teman sekelasnya,” ujarnya.
Meski demikian, ia belum dapat menjelaskan bentuk perundungan yang dialami RGJ. Sebab, pemeriksaan terhadap pelajar tersebut baru dilakukan setelah dibawa ke Polresta Padang.
“Belum mengarah ke sana. Pertanyaan-pertanyaan tadi baru pertanyaan-pertanyaan awal saja. Mungkin besok setelah pemeriksaan kami bisa memberikan informasi seperti apa perlakuan bully temannya,” ucap Susmelawati.
Ia mengatakan penanganan terhadap RGJ untuk sementara difokuskan pada pemulihan kondisi psikologis sebelum pemeriksaan dilakukan lebih mendalam.
“Kita masih fokus kepada pemulihan, pengamanan anak ini dulu. Kita juga lebih fokus kepada pemulihan si anak, jangan sampai terpapar hal-hal yang lebih jauh juga,” katanya.
Menurut Susmelawati, saat diamankan kondisi pelajar tersebut masih terlihat syok dan tertekan sehingga penyidik tidak langsung mengajukan banyak pertanyaan.
“Dia tertunduk-tunduk saja. Kita tenangkan dulu. Walaupun dia pelaku, dia anak-anak,” ujarnya.
Susmelawati juga menyebut pelajar tersebut masih tampak terguncang setelah kejadian. Ia menduga kondisi psikologisnya turut dipengaruhi oleh perundungan yang diakuinya dialami.
“Ini si anak mungkin juga terguncang. Mungkin korban psikologis juga dari teman-temannya. Terus dia berbuat seperti itu,” tuturnya.
Ia memastikan dugaan perundungan akan menjadi bagian penting dalam penyelidikan. Selain mengusut kasus tersebut, kepolisian juga akan memperkuat edukasi ke sekolah-sekolah di Sumatera Barat agar perundungan antarsiswa dapat dicegah.
“Besok akan dilakukan edukasi dan penyuluhan kepada sekolah-sekolah di Sumatera Barat supaya anak-anak menghormati temannya, tidak melakukan bullying terhadap sesama satu kelas,” kata Susmelawati.
Ia menambahkan, Polda Sumbar selama ini telah menjalankan program Police Goes to School melalui jajaran Binmas dan Bhabinkamtibmas yang akan terus dioptimalkan sebagai langkah pencegahan.