Annitho Aswaja Tegaskan Peran Vital Perempuan Tarekat dalam Spiritualitas dan Kemandirian Ekonomi

Annitho Aswaja menegaskan bahwa perempuan tarekat memiliki peran penting dalam mengembangkan spiritualitas dan kemandirian ekonomi, serta membuka pintu bagi siapa saja yang ingin mendalami ajaran tarekat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Annitho Aswaja Tegaskan Peran Vital Perempuan Tarekat dalam Spiritualitas dan Kemandirian Ekonomi
Annitho Aswaja menegaskan bahwa perempuan tarekat memiliki peran penting dalam mengembangkan spiritualitas dan kemandirian ekonomi, serta membuka pintu bagi siapa saja yang ingin mendalami ajaran tarekat. (AntaraNews)

Organisasi perempuan tarekat Annitho Aswaja baru-baru ini menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) di Wisma Perdamaian, Semarang, pada Sabtu (13/6), menjadi forum akbar pertama berskala nasional bagi seluruh anggota dan pengurus dari berbagai daerah di Indonesia. Acara ini menegaskan kembali peran krusial perempuan dalam pengamalan tarekat dan pengembangan kemandirian di berbagai aspek kehidupan. Ketua Pengurus Besar Annitho Aswaja, Sechah wal Afiah, menekankan bahwa pengamal tarekat bukan hanya kaum laki-laki, melainkan juga perempuan, yakni para ibu dan remaja putri yang telah berbaiat "thariqah".

Sechah wal Afiah menambahkan, "Kehadiran lembaga khusus pembimbing perempuan, seperti Annitho Aswaja menjadi sebuah keniscayaan." Organisasi ini bernaung di bawah Jam'iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah Ahlussunah Wal Jamaah (Jatman Aswaja) yang dipimpin oleh Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya. Silatnas ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga kesempatan penting untuk koordinasi dan konsolidasi organisasi yang menjadi rumah besar bagi para pengamal tarekat di seluruh Indonesia.

Annitho Aswaja secara tegas membuka diri bagi semua kalangan. Sechah wal Afiah menyatakan, "Annitho tak hanya untuk yang sudah berbaiat 'thariqah', tapi semua yang ingin tahu dan baru mempelajarinya. Siapapun yang ingin bergabung, kami persilakan belajar bersama." Hal ini menunjukkan komitmen Annitho Aswaja untuk menjadi wadah pembelajaran dan pengembangan diri yang luas, tidak terbatas pada mereka yang sudah mendalami tarekat.

Peran Vital Perempuan dalam Pengamalan Tarekat

Annitho Aswaja, sebagai organisasi perempuan tarekat, secara aktif mengadvokasi bahwa pengamalan thariqah tidak mengenal batasan gender. Ketua PB Annitho Aswaja, Sechah wal Afiah, menegaskan bahwa para ibu dan remaja putri yang telah berbaiat thariqah memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan kaum laki-laki dalam menjalankan ajaran tarekat. "Kehadiran lembaga khusus pembimbing perempuan, seperti Annitho Aswaja menjadi sebuah keniscayaan," ujarnya, menyoroti relevansi organisasi ini dalam membimbing dan memfasilitasi perempuan dalam perjalanan spiritual mereka.

Organisasi ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah mendalam dalam tarekat, tetapi juga menyambut baik siapa saja yang memiliki ketertarikan untuk belajar dan memahami lebih jauh. Sechah wal Afiah mengundang masyarakat luas dengan mengatakan, "Siapapun yang ingin bergabung, kami persilakan belajar bersama." Pendekatan inklusif ini bertujuan untuk memperluas pemahaman tentang tarekat di kalangan perempuan.

Melalui kegiatan seperti Silaturahmi Nasional, Annitho Aswaja berupaya memperkuat jaringan dan solidaritas di antara anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia. Forum ini menjadi platform penting untuk berbagi pengalaman, pengetahuan, dan mempererat tali silaturahmi. Ini mencerminkan komitmen Annitho Aswaja dalam membangun komunitas perempuan tarekat yang kuat dan saling mendukung.

Tarekat: Lebih dari Sekadar Ritual, Dorong Kemandirian Ekonomi dan Sosial

Sechah wal Afiah menekankan bahwa thariqah memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar ritual dzikir dan ibadah semata. Ia menyatakan, "'Thariqah' tak hanya memutar tasbih dan duduk di atas sajadah. Orang yang berthariqah bisa mandiri di dalam sosial, budaya, dan ekonomi. Segala bidang kehidupan manusia juga kami perhatikan." Pandangan ini menyoroti dimensi praktis dan transformatif dari ajaran tarekat dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam upaya mendukung kemandirian anggotanya, Annitho Aswaja berencana untuk bekerja sama dengan Jatman Aswaja dalam memfasilitasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) jamaah. Inisiatif ini akan menyediakan ruang jual dan promosi produk, sehingga tercipta interaksi ekonomi yang nyata. Diharapkan, langkah ini akan mendorong perekonomian jamaah untuk terus bergerak maju dan berkembang.

Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, pemimpin Jatman Aswaja, juga turut mengajak anggota Annitho untuk menjadi perempuan yang mandiri. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya kemandirian sebagai bagian integral dari pengamalan tarekat. Dengan demikian, tarekat tidak hanya membentuk individu yang saleh secara spiritual, tetapi juga individu yang berdaya secara ekonomi dan sosial, mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.

Konsolidasi Organisasi dan Semangat Cinta Tanah Air

Silaturahmi Nasional Annitho Aswaja menjadi momen penting untuk koordinasi dan konsolidasi organisasi, sebagaimana disampaikan oleh Wakil Sekjend Jatman Aswaja, Hasan Chabibie. Ia menyebut bahwa organisasi ini merupakan rumah besar bagi para pengamal tarekat di seluruh Indonesia. Saat ini, telah terbentuk kurang lebih 11 pengurus wilayah dan sekitar 100 pengurus cabang yang tersebar luas dari Aceh hingga Papua, menunjukkan jangkauan dan kekuatan organisasi.

Pembina Annitho Aswaja Jateng-DIY, Nawal Arafah Yasin, menambahkan bahwa silaturahmi ini merupakan bagian krusial dari perjalanan organisasi. Melalui pertemuan ini, diharapkan anggota dapat berkumpul dan mendapatkan berkah dari para ahli thoriqoh, habib, dan ulama, khususnya dari Habib Luthfi bin Yahya. Ini memperkuat ikatan spiritual dan keorganisasian di antara para anggota.

Baik Jatman Aswaja maupun Annitho Aswaja berkomitmen untuk menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan bangsa Indonesia, tidak hanya melalui aktivitas yang berkaitan dengan cinta tanah air, tetapi juga penguatan kemandirian ekonomi. Habib Luthfi bin Yahya secara khusus mengingatkan anggota tarekat untuk senantiasa menjaga semangat cinta kepada tanah air. Beliau berpesan, "Jangan sampai kita menjadi warga negara Indonesia yang memalukan kesepuhan-kesepuhan kita atau disebut para pendahulu."

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi