Tim Kesehatan Haji Bengkulu Imbau Jemaah Risiko Tinggi Gunakan Skema Badal Jumrah

Jemaah haji lansia, disabilitas, dan berisiko tinggi dari Bengkulu diimbau memanfaatkan skema badal jumrah. Langkah ini penting mengingat suhu ekstrem di Tanah Suci dan kondisi kesehatan jemaah untuk ibadah haji yang aman.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tim Kesehatan Haji Bengkulu Imbau Jemaah Risiko Tinggi Gunakan Skema Badal Jumrah
Jemaah haji lansia, disabilitas, dan berisiko tinggi dari Bengkulu diimbau memanfaatkan skema badal jumrah. Langkah ini penting mengingat suhu ekstrem di Tanah Suci dan kondisi kesehatan jemaah untuk ibadah haji yang aman. (AntaraNews)

Tim Kesehatan Haji Kloter (TKHK) Provinsi Bengkulu mengeluarkan imbauan penting bagi jemaah calon haji mereka. Jemaah lansia, disabilitas, dan memiliki risiko kesehatan tinggi disarankan untuk menggunakan skema badal lontar jumrah. Imbauan ini bertujuan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan jemaah selama fase puncak ibadah haji di tengah kondisi cuaca ekstrem.

Penanggung jawab Program Kesehatan Haji Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Kurniawan Arianto Abdul Gani, menegaskan pentingnya badal jumrah. "Jamaah dengan risiko tinggi kesehatan, lansia, disabilitas, silakan titipkan (badal) lontar jumrahnya kepada petugas kloter masing-masing," ujarnya di Bengkulu pada Kamis. Hal ini menjadi solusi praktis agar jemaah dapat tetap menunaikan ibadah tanpa membahayakan diri.

Imbauan ini muncul mengingat suhu udara di Tanah Suci yang dapat mencapai 41 derajat Celsius pada siang hari. Kondisi ini sangat berisiko bagi jemaah dengan kondisi kesehatan rentan, terutama saat waktu terlarang melontar jumrah antara pukul 10.00 hingga 14.00 waktu Arab Saudi. Pembatasan aktivitas di luar tenda menjadi krusial untuk mencegah dampak paparan panas langsung.

Skema badal lontar jumrah adalah solusi yang sangat dianjurkan bagi jemaah haji dengan kondisi khusus. Ini termasuk mereka yang berusia lanjut, memiliki disabilitas, atau memiliki riwayat penyakit kronis yang berisiko tinggi. Dengan badal jumrah, ibadah melontar jumrah dapat diwakilkan oleh petugas kloter, memastikan jemaah tetap aman.

Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi fisik jemaah yang mungkin tidak memungkinkan untuk melakukan lontar jumrah secara langsung. Petugas kloter telah disiapkan untuk membantu jemaah dalam melaksanakan badal jumrah ini. Koordinasi yang baik antara jemaah dan petugas sangat diperlukan.

Tujuan utama dari imbauan badal jumrah ini adalah untuk meminimalkan risiko kesehatan yang mungkin timbul akibat kelelahan atau paparan panas ekstrem. Kesehatan dan keselamatan jemaah menjadi prioritas utama selama pelaksanaan ibadah haji. Jemaah diharapkan tidak memaksakan diri jika kondisi tubuh tidak memungkinkan.

Suhu udara di Tanah Suci saat ini menjadi perhatian serius, dengan prediksi mencapai 41 derajat Celsius pada siang hari. Kondisi cuaca ekstrem ini menuntut jemaah untuk sangat disiplin dalam menjaga kesehatan. Pembatasan aktivitas di luar tenda, terutama pada jam-jam puncak panas, adalah langkah pencegahan yang vital.

Petugas kesehatan haji juga menekankan pentingnya hidrasi yang cukup. Jemaah dianjurkan mengonsumsi oralit satu bungkus per hari dan minum air putih sekitar 200 cc setiap jam. Protokol ini dirancang untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk kondisi kesehatan jemaah.

Selain itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi keharusan ketika jemaah berada di luar tenda di Armuzna. APD ini berfungsi untuk meminimalkan dampak paparan panas langsung dan melindungi jemaah dari potensi masalah kesehatan lainnya. Kepatuhan terhadap protokol ini sangat penting bagi seluruh jemaah.

Laporan kesehatan haji Provinsi Bengkulu menunjukkan tingginya kebutuhan akan layanan medis selama operasional haji. Hingga Kamis, tercatat 88 layanan kesehatan di kloter, dengan akumulasi 3.822 layanan kesehatan secara keseluruhan. Ini mencerminkan upaya intensif tim medis dalam menjaga kesehatan jemaah.

Kunjungan jemaah prioritas risiko tinggi mencapai 95 orang, dengan total 4.273 kunjungan pemeriksaan kesehatan. Diagnosis terbanyak yang dialami jemaah Bengkulu meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hipertensi, kelelahan, diabetes melitus, dan faringitis. Data ini menggarisbawahi kerentanan jemaah terhadap berbagai penyakit di lingkungan yang berbeda.

Saat ini, dua jemaah Bengkulu masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi, dan satu jemaah dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Selain itu, satu jemaah haji Bengkulu atas nama Tukiman Sadi Kromo Karso, 54 tahun, asal Kota Bengkulu, dilaporkan meninggal dunia di Madinah pada 29 April 2026 dan dimakamkan di Baqi Madinah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi