Perempuan Nabire di Garis Depan Melawan Malaria: Kisah Inspiratif Siti Ismawati Made

Kenali Siti Ismawati Made, perempuan tangguh dari Nabire yang menjadi garda terdepan dalam upaya melawan malaria, TBC, dan HIV/AIDS. Kisahnya menyoroti pentingnya peran komunitas dalam kesehatan masyarakat, terutama dalam eliminasi malaria.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Perempuan Nabire di Garis Depan Melawan Malaria: Kisah Inspiratif Siti Ismawati Made
Kenali Siti Ismawati Made, perempuan tangguh dari Nabire yang menjadi garda terdepan dalam upaya melawan malaria, TBC, dan HIV/AIDS. Kisahnya menyoroti pentingnya peran komunitas dalam kesehatan masyarakat, terutama dalam eliminasi malaria. (AntaraNews)

Pagi yang cerah di Kampung Kalisusu, Kabupaten Nabire, menjadi saksi bisu perjuangan seorang perempuan berompi ungu bertuliskan "Kader Perkasa". Siti Ismawati Made, nama perempuan itu, dengan sigap menyusuri lorong-lorong sempit, membawa tas kecil berisi perlengkapan sederhana namun penuh makna. Ia adalah salah satu pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang di garis depan kesehatan masyarakat.

Kunjungan Siti kali ini membawanya ke sebuah rumah papan, di mana ia disambut oleh keluarga yang diliputi kecemasan. Salah satu anggota keluarga sedang sakit dengan gejala demam dan menggigil, yang segera menimbulkan dugaan malaria pada Siti. Tanpa ragu, ia menyarankan agar pasien segera dibawa ke puskesmas untuk penanganan lebih lanjut.

Sebelum berpamitan, Siti tak lupa mengingatkan keluarga untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan rumah, sebuah pesan sederhana namun krusial dalam pencegahan penyakit. Rutinitas seperti ini adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian Siti, yang selalu siap turun ke lapangan jika ada laporan dari warga, bahkan di luar jadwal posyandu.

Kader Kesehatan Gardu Terdepan

Siti Ismawati Made, perempuan kelahiran Nabire pada 23 Maret 1979, kini dikenal luas sebagai kader kesehatan di lingkungannya. Pengabdiannya dimulai pascapandemi COVID-19, setelah ia mengikuti pelatihan kader malaria di Nabire. Seiring waktu, perannya berkembang menjadi "Kader Perkasa" yang tidak hanya berfokus pada malaria, tetapi juga TBC dan HIV/AIDS.

Di Kampung Kalisusu, Siti tidak berjuang sendiri. Ia bekerja sama dengan tiga kader lainnya, memantau delapan Rukun Tetangga (RT) di wilayah tersebut. Mereka berkoordinasi erat dengan Puskesmas Karang Mulia, memastikan setiap laporan kasus ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat.

Tugas para kader ini tidak hanya mengobati, tetapi juga mencari sumber penularan penyakit di lingkungan sekitar pasien. Pendekatan proaktif ini menjadi kunci dalam memutus rantai penyebaran penyakit, terutama malaria yang masih menjadi ancaman serius di Papua Tengah.

Tantangan dan Ketekunan di Lapangan

Jalan yang ditempuh Siti sebagai kader kesehatan tidak selalu mulus. Di awal pengabdiannya, tidak semua warga dapat menerima kehadirannya, bahkan ada yang menolak dan tidak percaya. Namun, konsistensi dan ketekunan Siti perlahan mengubah stigma tersebut, membangun kepercayaan yang semakin besar di masyarakat.

Meskipun pemahaman warga tentang malaria mulai meningkat, tantangan lain muncul, terutama terkait kasus HIV/AIDS. "Kalau HIV/AIDS, banyak yang takut melapor. Mereka malu," kata Siti. Padahal, edukasi dan pengobatan sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini, mengingat kasus TBC dan HIV/AIDS di Nabire masih cukup tinggi.

Siti tetap gigih turun ke lapangan, meyakini bahwa perubahan tidak datang dalam sehari. Ia pernah memeriksa seorang pendulang di Kali Harapan yang awalnya mengaku tidak merasakan gejala malaria, namun setelah diperiksa, hasilnya positif malaria tropika. Kasus ini menegaskan pentingnya pemeriksaan dini, bahkan tanpa gejala yang jelas.

Di balik semangatnya, Siti mengakui adanya keterbatasan peralatan di lapangan, terutama untuk pemeriksaan lanjutan. Ia sangat berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan lebih bagi para kader kesehatan, yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat.

Kunci Pencegahan dan Kolaborasi Lintas Sektor

Bagi Siti, kunci utama melawan malaria bukan hanya obat, tetapi kebersihan lingkungan. Nyamuk Anopheles betina, vektor utama malaria, berkembang biak di genangan air kotor, seperti bak sampah yang tidak dibersihkan atau kolam terbengkalai. Solusinya sederhana, namun sering diabaikan: menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan kelambu, dan lotion anti nyamuk.

Ia juga selalu mengingatkan warga agar tidak takut berobat, baik untuk malaria, TBC, maupun HIV/AIDS. Siti meyakinkan bahwa tugas tenaga kesehatan adalah membantu, bukan menghakimi, sehingga masyarakat tidak perlu ragu mencari pertolongan.

Upaya Siti dan kader lainnya merupakan bagian dari perjuangan besar melawan malaria di Papua Tengah. Plt Kepala Dinas Kesehatan Papua Tengah, dr. Agus, menegaskan bahwa kolaborasi semua pihak menjadi kunci untuk menekan angka kasus dan memutus rantai penularan. Sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 204 ribu kasus malaria di delapan kabupaten di Papua Tengah. Nabire menempati urutan kedua terbanyak dengan 8.744 kasus, di bawah Kabupaten Mimika yang menyumbang 190.597 kasus. Pada Januari hingga Maret 2026, Nabire mencatat 776 kasus malaria.

Komitmen Pemerintah Daerah dan Dampak pada Kelompok Rentan

Penanggung jawab program malaria Dinas Kesehatan Papua Tengah, Yenice Derek, menyebut berbagai langkah terus dilakukan, mulai dari penguatan tenaga kesehatan, peningkatan diagnosis, hingga edukasi masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, Silas Elias Numobogre, juga menekankan pentingnya dukungan lintas sektor agar penanganan malaria dapat dilakukan secara terpadu dan menyasar berbagai faktor penyebab penularan.

Komitmen ini diperkuat dengan Surat Edaran Bupati Nabire Nomor 400.7.9.1/252/Sek Tahun 2026 tentang Percepatan Eliminasi Malaria. Surat edaran ini menegaskan kewajiban seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah distrik, Tim Penggerak PKK, hingga kepala kampung untuk terlibat aktif dalam pengendalian malaria di wilayah masing-masing.

Setiap unsur pemerintahan diminta mengambil peran melalui intervensi lingkungan, edukasi masyarakat, maupun penguatan pelayanan kesehatan. Penanggung Jawab Program Malaria Dinas Kesehatan Nabire, Novi, menekankan bahwa persoalan malaria berkaitan langsung dengan keselamatan generasi masa depan.

Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 790 bayi dan balita tertular malaria, serta 108 kasus terjadi pada ibu hamil. "Malaria sangat berbahaya, terutama bagi ibu hamil dan balita. Penyakit ini bisa menyebabkan anemia berat, pendarahan saat persalinan, keguguran, persalinan prematur, hingga bayi lahir dengan berat badan rendah," jelas Novi.

Oleh karena itu, pemerintah daerah berharap kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan aktif masyarakat dapat mempercepat upaya eliminasi malaria, sekaligus melindungi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, dan lansia. Di tengah angka kasus yang masih tinggi, Siti Ismawati Made tetap berjalan dari rumah ke rumah. Rompi ungu yang ia kenakan menjadi simbol sederhana dari perjuangan yang tidak banyak terlihat, demi masyarakat sehat dengan lingkungan yang bersih.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi