Kiat Penanganan Darurat Anak Tersedak dari IDAI: Panduan Cepat Selamatkan Nyawa

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan kiat penting penanganan darurat anak tersedak, mulai dari mengenali tanda hingga melakukan RJP, demi menyelamatkan nyawa si kecil.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kiat Penanganan Darurat Anak Tersedak dari IDAI: Panduan Cepat Selamatkan Nyawa
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan kiat penting penanganan darurat anak tersedak, mulai dari mengenali tanda hingga melakukan RJP, demi menyelamatkan nyawa si kecil. (AntaraNews)

Tersedak merupakan kondisi gawat darurat yang sering terjadi pada anak-anak dan membutuhkan penanganan cepat serta tepat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah membeberkan panduan komprehensif untuk masyarakat umum mengenai cara memberikan pertolongan pertama pada anak yang tersedak. Penanganan yang sigap dapat menjadi kunci utama untuk mencegah risiko serius, termasuk kerusakan otak permanen akibat kekurangan oksigen.

Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subs. ETIA (K), penanganan darurat pada anak berbeda dengan orang dewasa. Jika pada dewasa menggunakan metode C-A-B (kompresi dada, jalan napas, pernapasan), pada anak prioritasnya adalah A-B-C, yaitu jalan napas, pernapasan, baru kemudian jantung.

Panduan ini menekankan pentingnya mengenali kondisi anak, membedakan antara sumbatan ringan dan berat, serta langkah-langkah spesifik yang harus diambil sesuai usia anak. Orang tua dan pengasuh diharapkan tidak ragu bertindak karena setiap detik sangat berharga dalam situasi gawat darurat ini.

Mengenali Tanda Anak Tersedak dan Langkah Awal

Langkah pertama dalam penanganan darurat anak tersedak adalah mengenali tanda-tanda yang muncul. Anak yang masih bisa menangis dengan keras atau batuk-batuk kuat menunjukkan bahwa jalan napasnya masih terbuka sebagian. Dalam kondisi ini, anak sebaiknya didudukkan dengan nyaman dan terus dipantau, serta segera periksa apakah ada benda asing di dalam mulutnya.

Namun, jika anak menunjukkan tanda sumbatan jalan napas yang lebih serius, seperti batuk melemah, sulit bernapas, bibir membiru, atau mengeluarkan suara rintihan, tindakan darurat harus segera dilakukan. Kondisi ini menandakan adanya sumbatan total atau mendekati total yang memerlukan intervensi cepat.

Sebelum melakukan tindakan fisik, pastikan situasi aman dan tenang. Segera panggil bantuan darurat melalui nomor 112 atau 119. Penting juga untuk meletakkan anak pada bidang datar untuk memaksimalkan efektivitas pemberian tekanan saat melakukan pertolongan.

Teknik Back Blow dan Chest Thrust untuk Anak Tersedak

Untuk anak yang menunjukkan sumbatan jalan napas serius namun masih sadar, orang tua dapat melakukan teknik kombinasi back blow dan chest thrust. Sebelum melakukan ini, posisikan kepala anak lebih rendah dari tubuhnya untuk memanfaatkan gravitasi dalam mengeluarkan benda asing.

Back blow dilakukan sebanyak lima kali dengan memberikan hentakan menggunakan bagian bawah telapak tangan di antara kedua tulang belikat. Hentakan harus cukup kuat untuk menciptakan efek kejut, sehingga benda asing dapat keluar dan terdengar hembusan udara dari mulut anak.

Jika benda asing belum keluar setelah back blow, lanjutkan dengan chest thrust sebanyak lima kali. Metode ini dapat diulang secara bergantian hingga jalan napas anak terbuka kembali. Setelah anak sadar dan mampu bernapas normal, tidak dianjurkan memberikan minum untuk mencegah tersedak kembali, dan segera bawa anak ke fasilitas kesehatan.

Penanganan Anak Tidak Sadar: Resusitasi Jantung Paru (RJP)

Apabila anak sudah tidak sadar akibat tersedak, penanganan harus dilanjutkan dengan metode Resusitasi Jantung Paru (RJP). Untuk orang awam, tidak disarankan meraba nadi karena sulit dan memakan waktu. Fokus pada tiga tanda kehidupan: bergerak, bernapas, dan batuk. Jika ketiga tanda ini tidak ada, langsung lakukan kompresi dada.

Kompresi dada dilakukan sebanyak 15 kali mengikuti irama detik, dengan menekan bagian tengah dada (setara garis puting turun sedikit) sedalam sekitar 4 sentimeter untuk bayi di bawah satu tahun. Jika tidak ada tanda pernapasan, berikan bantuan napas. Dulu menggunakan metode mouth-to-mouth, namun setelah COVID-19, disarankan menggunakan masker satu arah jika tersedia, atau mengadahkan kepala anak dengan satu tangan sambil menekan dada dengan tangan lain.

Dr. Tuti Rahayu, Sp.A, Subsp. ETIA (K) dari Unit Kerja Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI JAYA, menekankan bahwa kecepatan penanganan sangat krusial. Anak yang kekurangan oksigen selama tiga menit berisiko mengalami kerusakan otak permanen. Oleh karena itu, jangan ragu untuk memberikan penanganan darurat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi