Sekolah Rakyat Selamatkan Julio, Anak Yatim Putus Sekolah dari Lingkaran Tawuran

Kisah haru Ibu Welas dan cucunya, Julio, yang diselamatkan oleh Sekolah Rakyat. Setelah putus sekolah dan terlibat tawuran, Julio kini menemukan harapan baru di sekolah berasrama gratis ini.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sekolah Rakyat Selamatkan Julio, Anak Yatim Putus Sekolah dari Lingkaran Tawuran
Kisah haru Ibu Welas dan cucunya, Julio, yang diselamatkan oleh Sekolah Rakyat. Setelah putus sekolah dan terlibat tawuran, Julio kini menemukan harapan baru di sekolah berasrama gratis ini. (AntaraNews)

Di tengah keterbatasan ekonomi dan usia senja, harapan Ibu Welas untuk masa depan cucunya, Julio, sempat meredup. Julio adalah seorang anak yatim dari Kampung Kedung Tungkul, Mojosongo, Jebres, Surakarta. Ia harus menghadapi kerasnya hidup sejak dini setelah kehilangan ayahnya.

Perjalanan pendidikannya terhenti di bangku kelas 3 SD. Kondisi ini mendorong Julio terjerumus dalam pergaulan bebas dan kenakalan remaja, termasuk aksi tawuran. Kekhawatiran mendalam pun menyelimuti sang nenek yang terus berjuang mencari jalan keluar.

Titik balik harapan muncul ketika Julio didaftarkan ke Sekolah Rakyat, sebuah sekolah berasrama gratis. Sekolah ini diinisiasi oleh Presiden RI Prabowo Subianto. Sekolah Rakyat didirikan khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, menawarkan kesempatan kedua bagi Julio untuk meraih pendidikan.

Julio telah kehilangan ayahnya sejak berusia satu tahun akibat penyakit virus tikus setelah membersihkan selokan. Sejak saat itu, ia tumbuh dalam asuhan neneknya, Ibu Welas, di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Beban hidup yang berat ini membentuk masa kecil Julio dengan tantangan besar.

Keterbatasan ekonomi memaksa Julio untuk putus sekolah setelah kelas 3 SD. Hari-harinya kemudian lebih banyak dihabiskan di luar rumah, bergaul bebas tanpa pengawasan yang memadai. Lingkungan ini membawanya ke dalam perilaku kenakalan remaja yang meresahkan.

Ibu Welas menceritakan, “Dulu Julio nakal. Sama teman-temannya sering lempar-lemparan batu atau pisau (tawuran).” Kenakalan ini mencakup lempar-lemparan batu hingga membawa senjata tajam bersama teman-temannya. Situasi ini tentu saja membuat sang nenek sangat khawatir akan masa depan cucunya.

Dengan segala keterbatasan yang ada, Ibu Welas tidak menyerah untuk mencari jalan agar cucunya kembali ke bangku pendidikan. Ia bertekad untuk menyelamatkan Julio dari lingkaran kenakalan yang membahayakan masa depannya. Upaya gigih sang nenek akhirnya membuahkan hasil.

Julio akhirnya didaftarkan ke Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif mulia dari Presiden RI Prabowo Subianto. Sekolah berasrama gratis ini dirancang khusus untuk memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi jawaban atas doa dan harapan Ibu Welas.

Sejak bergabung dengan Sekolah Rakyat, perubahan positif mulai terlihat pada diri Julio. Ia yang dulu dikenal sulit diatur, kini menunjukkan sikap yang jauh lebih tenang dan fokus. Julio kembali menikmati proses belajar dan menunjukkan kedekatan emosional yang lebih hangat dengan neneknya.

Ibu Welas mengungkapkan kebahagiaannya, “Senang (Julio di Sekolah Rakyat) di bisa mendekap, merangkul, menciumi saya. Julio mengatakan, Mak aku senang, di sini (rumah) sering dimarahi. Di sekolah gak pernah dimarahi.” Pengalaman positif di sekolah membentuk karakter Julio menjadi lebih baik.

Bagi Ibu Welas, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang aman bagi cucunya untuk tumbuh dan berkembang. Ketiadaan biaya harian menjadi kelegaan tersendiri bagi keluarga. Sebelumnya, Julio kerap meminta uang Rp15.000 hingga Rp20.000 setiap hari, yang menjadi beban finansial.

Kini, harapan Ibu Welas kembali tumbuh untuk masa depan Julio. Ia tidak memiliki harapan yang muluk-muluk, hanya ingin cucunya menjadi anak yang baik dan mampu menjalani hidup dengan layak. Doa tulus ini terus ia panjatkan di tengah keterbatasan dan usia yang kian menua.

Dengan suara lirih, sang nenek menyampaikan harapannya, “Pengennya pinter dan cucu saya jadi orang baik. Tidak telantar. Saya sudah tua. Nanti sewaktu-waktu dipanggil yang maha Kuasa, nitip cucu saya Julio. Baik-baik di sana. Jadi orang yang baik.” Ini adalah ungkapan kasih sayang dan kepercayaan pada pendidikan.

Ibu Welas juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada inisiator sekolah tersebut. “Matur nuwun Pak Prabowo. Putu kulo pun sekolah teng Sekolah Rakyat. Matur sembah nuwun. Kadose pinter, dados tiang sing genah,” ujarnya. Bagi Julio dan neneknya, Sekolah Rakyat adalah titik balik yang menyelamatkan arah hidup sang cucu.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi