Ketua Umum Dewan Pembina Pengurus Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh kader perempuan di bawah naungan Muslimat NU untuk senantiasa merawat tradisi kegotongroyongan. Ajakan ini disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU yang digelar di Yogyakarta pada Minggu (12/4).
Dalam sambutannya, Khofifah menekankan pentingnya tiga pilar utama yang diusung pada Harlah ke-80 secara nasional, yaitu merawat tradisi, menguatkan kemandirian, dan meneduhkan peradaban. Ketiga poin ini menjadi fokus utama dalam setiap kegiatan Harlah yang telah dimulai sejak 29 Maret 2026.
Gubernur Jawa Timur ini berharap agar nilai-nilai kesantunan, persaudaraan, dan tradisi Ahlu Sunnah Wal Jamaah dapat terus dijaga serta diperkuat di tengah masyarakat. Pesan ini bertujuan untuk mengingatkan kembali pentingnya tradisi kebaikan yang harus terus dirawat dan dibudayakan oleh seluruh anggota Muslimat NU.
Advertisement
Advertisement
Merawat Tradisi dan Nilai Ahlu Sunnah Wal Jamaah
Khofifah Indar Parawansa secara khusus menyoroti pentingnya merawat tradisi kesantunan, kegotongroyongan, dan semangat persaudaraan di kalangan Muslimat NU. Menurutnya, tradisi ini merupakan bagian integral dari nilai-nilai Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang menjadi landasan organisasi.
Tradisi Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang dimaksud oleh Khofifah mencakup moderasi, toleransi, dan keadilan. Ia menegaskan bahwa pola-pola ini berfungsi sebagai pengingat untuk terus memperkuat dan merawat tradisi kebaikan yang telah ada.
Upaya merawat tradisi ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang harmonis dan penuh kedamaian, baik di tingkat komunitas maupun masyarakat luas. Muslimat NU diharapkan menjadi garda terdepan dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur tersebut.
Advertisement
Advertisement
Menguatkan Kemandirian Organisasi dengan Layanan Berbasis Anggota
Selain merawat tradisi, tema Harlah ke-80 Muslimat NU juga menekankan pada penguatan kemandirian organisasi. Khofifah menjelaskan bahwa kemandirian ini merupakan bagian dari kekuatan untuk membangun organisasi kemasyarakatan perempuan Islam sosial-keagamaan tersebut.
Dengan jumlah anggota sekitar 36 juta orang, Muslimat NU terus eksis dan berkembang melalui berbagai peningkatan layanan. Layanan tersebut mencakup pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-kanak (TK), yang merupakan bidang yang diizinkan oleh NU.
Tidak hanya itu, Muslimat NU juga aktif dalam layanan kesehatan, layanan ekonomi, dan layanan dakwah. Berbagai inisiatif ini menunjukkan komitmen organisasi dalam memberikan kontribusi nyata bagi anggotanya dan masyarakat secara lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Meneduhkan Peradaban dari Tingkat Rumah Tangga hingga Global
Tema ketiga Harlah Muslimat NU adalah meneduhkan peradaban, sebuah diskusi yang telah digaungkan sejak dua tahun lalu. Diskusi ini mencakup bagaimana peradaban dapat dibangun dan dijaga di berbagai tingkatan, mulai dari rumah tangga, komunitas, lokal, regional, nasional, hingga global.
Khofifah menyoroti isu kekerasan terhadap perempuan, anak, dan masyarakat sebagai sesuatu yang harus ditangani secara serius. Ia menekankan pentingnya membangun proses penetrasi bersama untuk menciptakan suasana yang teduh, sejuk, dan damai.
Melalui upaya ini, Muslimat NU berkomitmen untuk menciptakan peradaban yang lebih baik, di mana kekerasan dapat diminimalisir dan nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi. Pola-pola seperti ini diharapkan dapat diimplementasikan secara kolektif untuk mencapai tujuan tersebut.
Advertisement
Sumber: AntaraNews