Warga Desa Air Limau, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, secara aktif menggelar Tradisi Ceriak Kampung. Kegiatan ini dilakukan secara bergotong royong setelah panen raya usai. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Tradisi Ceriak Kampung menjadi wujud nyata rasa syukur masyarakat tani atas hasil panen melimpah. Selain itu, tradisi ini juga mengandung permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tujuannya adalah untuk keselamatan dan kelimpahan rezeki di masa mendatang.
Prosesi adat ini dipimpin oleh Ketua Adat Desa Air Limau, Rozali, generasi keempat penerus tradisi. Acara melibatkan puluhan warga dari berbagai kalangan usia yang berkumpul bersama. Mereka membawa sesaji dari hasil bumi sebagai bagian penting dari ritual.
Advertisement
Advertisement
Makna dan Filosofi Tradisi Ceriak Kampung
Tradisi Ceriak Kampung bukan sekadar perayaan biasa bagi masyarakat Bangka Barat. Kegiatan ini memiliki makna mendalam sebagai bentuk syukur atas karunia panen raya. Masyarakat meyakini bahwa tradisi ini juga berfungsi sebagai upaya tolak bala.
Muhammad Ferhad Irvan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, menjelaskan hal ini. Menurutnya, tradisi ini adalah permohonan agar hasil panen tahun berikutnya semakin baik. Tradisi Ceriak dilaksanakan di beberapa desa, bahkan dalam lingkup kampung yang lebih kecil.
Kepala Desa Air Limau, Mexsi Diansyah, menegaskan nilai positif tradisi ini. Ia menyatakan bahwa tradisi Ceriak Kampung mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik antarwarga. Selain itu, tradisi ini juga menekankan hubungan harmonis antara manusia dengan alam dan lingkungan sekitar.
Advertisement
Advertisement
Prosesi dan Pelestarian Warisan Budaya
Pelaksanaan Tradisi Ceriak Kampung di Desa Air Limau berpusat di rumah Ketua Adat Rozali. Beliau adalah pewaris keempat dari tradisi turun-temurun ini. Puluhan warga, termasuk tokoh desa, turut serta dalam acara sakral tersebut.
Prosesi dimulai pada sore hari, tepatnya 14 hari setelah panen raya. Warga bergotong royong membawa sesaji berupa hasil bumi, terutama beras dari padi ladang. Sesaji ini kemudian diserahkan kepada Ketua Adat sebagai bagian dari ritual penting.
Ritual diawali dengan pembacaan doa oleh Ketua Adat, lalu berlanjut ke hutan desa. Di sana, dilakukan pembacaan doa ketupat lepas dan "taber," yaitu memercikkan air menggunakan daun kepada warga. Acara diakhiri dengan makan bersama hidangan bubur beras, mempererat kebersamaan.
Advertisement
Mexsi Diansyah menambahkan bahwa tradisi ini telah dilaksanakan turun-temurun dan terus dilestarikan. Tradisi Ceriak Kampung memiliki nilai kearifan lokal yang patut diwariskan ke generasi mendatang. Upaya pelestarian ini penting untuk menjaga adat istiadat nenek moyang.
Advertisement
Apresiasi dan Dukungan Komunitas
Fachriansyah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, mengapresiasi partisipasi aktif warga. Masyarakat menunjukkan kesadaran tinggi dalam melestarikan tradisi warisan leluhur mereka. Banyak acara tradisi dan budaya diselenggarakan secara swadaya oleh warga setiap tahunnya.
Beliau menekankan bahwa tradisi ini tetap hidup karena warga memahami makna luhur di dalamnya. Antusiasme mereka dalam mengikuti prosesi menjaga tradisi tetap lestari. Ini merupakan aset kearifan lokal yang patut dilindungi dan dilestarikan bersama.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata terus mendukung upaya pelestarian ini. Mereka mengakui peran penting masyarakat dalam menjaga keberlangsungan budaya. Tradisi Ceriak Kampung menjadi contoh nyata bagaimana gotong royong memperkuat ikatan sosial dan spiritual.
Advertisement
Sumber: AntaraNews