Pemerintah telah menetapkan Lebaran 1477 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Momen ini selalu disambut antusias dengan beragam ucapan selamat Lebaran yang bertebaran di berbagai platform media sosial.
Ucapan selamat Lebaran ini memiliki fungsi ekspresif dan fatis dalam komunikasi, yakni sebagai satuan lingual untuk memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan interaksi. Rasanya kurang lengkap jika Lebaran tanpa saling berkirim pesan kepada kerabat dan handai tolan.
Seiring waktu, media penyampaian ucapan selamat Lebaran terus berevolusi, dari kartu pos di era 1980-an hingga pesan singkat dan media sosial saat ini. Namun, di tengah kemudahan tersebut, satu hal yang konsisten adalah masih banyaknya kesalahan penulisan dalam ucapan Lebaran.
Advertisement
Advertisement
Penulisan "Idulfitri" yang Tepat dan Redundansi Kata
Kesalahan penulisan ucapan Lebaran seringkali terlihat jelas, baik dalam pesan teks pribadi, grup WhatsApp, maupun spanduk di tempat umum. Salah satu kekeliruan yang paling sering dijumpai adalah penulisan "Idul Fitri" yang seharusnya "Idulfitri" tanpa spasi, sesuai kaidah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Fenomena ini bahkan terjadi di media massa yang seharusnya memiliki proses gatekeeping atau penyaringan informasi. Beberapa judul berita masih menulis "Idul Fitri" alih-alih "Idulfitri", menunjukkan konsistensi kesalahan ejaan. Proses gatekeeping yang seharusnya menyaring, memilih, dan mengendalikan akses informasi, tampaknya belum optimal dalam hal ini.
Selain kesalahan ejaan, sering terjadi redundansi atau pengulangan kata yang tidak perlu. Kata "Idul" atau 'id yang dipinjam dari bahasa Arab sendiri sudah bermakna hari raya, perayaan, atau pesta. Oleh karena itu, penulisan "Hari Raya Idulfitri" menjadi lewah karena "hari raya" sudah terkandung dalam makna "Idulfitri". Pengabaian ekonomi kata ini dapat membuat makna pesan lebih lama dipahami.
Advertisement
Secara etimologi, kata "idul" berasal dari akar kata 'aada yang berarti 'kembali', karena perayaan ini berulang setiap tahun. Sementara itu, "fitri" berasal dari kata iftar yang bermakna 'berbuka puasa' atau 'hal berbuka'. Jadi, "Idulfitri" secara bahasa sejatinya bermakna hari berbuka atau kembali makan setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.
Advertisement
Makna Fitrah dan Penulisan "Halalbihalal" yang Benar
KBBI juga mencatat bahwa "fitri" dapat berarti kembali ke fitrah atau sifat pembawaan yang ada sejak lahir, yaitu manusia yang bertauhid kepada Allah dan suci dari dosa. Dengan demikian, "Idulfitri" juga bermakna kembali pada kesucian, yaitu manusia yang taat kepada Allah dan bersih dari segala kesalahan.
Tradisi lain yang lekat dengan Lebaran di Indonesia adalah halalbihalal, sebuah prosesi bermaaf-maafan. Sama seperti "Idulfitri", penulisan "halalbihalal" juga sering keliru. Banyak yang menulis "halal bi halal" atau "halal bihalal" dengan spasi.
Padahal, penulisan baku yang benar menurut KBBI adalah "halalbihalal" tanpa spasi. Istilah ini bermakna hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, yang biasanya diadakan di suatu tempat oleh sekelompok orang. Secara harfiah, "halalbihalal" tersusun dari kata halal dan bi (dengan), yang berarti saling menghalalkan dalam menjalin relasi antarmanusia.
Advertisement
Kesalahan penulisan mungkin tidak tampak dalam komunikasi lisan karena pengucapannya sama. Namun, dalam komunikasi tulis, kesalahan tersebut akan terlihat nyata dan dapat merusak reputasi. Komunikasi tulis bersifat permanen, minim konteks nonverbal, dan mudah disalahartikan, sehingga menuntut kehati-hatian yang lebih tinggi.
Sumber: AntaraNews