Warga Perumahan Tlogosari, Semarang, kembali menunjukkan kreativitasnya dalam menyambut malam takbiran Lebaran. Sebuah pawai bajaj hias yang meriah sukses digelar pada Jumat malam, 20 Maret, menjadi tradisi tahunan yang dinanti-nantikan oleh masyarakat setempat. Acara ini melibatkan anak-anak hingga ibu-ibu, menciptakan suasana penuh sukacita di seluruh lingkungan.
Pawai unik ini menempuh rute sejauh lima kilometer, diiringi oleh rombongan sepeda motor yang mengumandangkan takbir. Ketua Panitia Malam Takbiran Masjid Al Ikhlas Semarang, Arianto Wibowo, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan untuk menyemarakkan malam Lebaran. Inovasi penggunaan bajaj menjadi daya tarik utama tahun ini, menggantikan kereta odong-odong yang biasa digunakan sebelumnya.
Sebanyak 25 unit bajaj dihias dengan kembang manggar berwarna-warni serta ornamen khas Lebaran, menambah kemeriahan acara. Peserta pawai, yang didominasi oleh anak-anak dan remaja dari RW 14 Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Semarang, tampak antusias. Bahkan, ibu-ibu pun turut serta memeriahkan arak-arakan keliling kompleks perumahan.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Pawai Bajaj Hias Gantikan Odong-Odong
Tahun ini, panitia Pawai Bajaj Malam Takbiran Semarang memutuskan untuk menghadirkan konsep yang berbeda dan lebih segar. Arianto Wibowo mengungkapkan bahwa ide penggunaan bajaj muncul karena kendaraan roda tiga tersebut sedang menjadi tren di Semarang. "Biasanya, kami menyewa kereta odong-odong untuk malam takbiran. Namun, tahun ini kami ingin mencoba konsep yang lain. Arak-arakan bajaj," katanya.
Keputusan ini terbukti berhasil menarik perhatian dan antusiasme warga, terutama anak-anak dan remaja. Sebanyak 25 bajaj yang berpartisipasi dalam pawai dihias sedemikian rupa, menampilkan kembang manggar dan ornamen Lebaran yang semarak. Kendaraan-kendaraan ini menjadi pusat perhatian sepanjang rute pawai, membawa keceriaan bagi para penumpangnya.
Efan (10), salah satu peserta pawai, mengaku sangat senang bisa merasakan pengalaman baru ini. "Senang banget bisa naik bajaj. Kalau kemarin (Lebaran tahun lalu) kan naik odong-odong. Seru. Enak naik bajaj," ujarnya. Pengalaman ini menambah kesan tak terlupakan bagi anak-anak yang merayakan malam takbiran.
Advertisement
Advertisement
Semarak Tradisi Malam Takbiran di Tlogosari
Pawai bajaj hias ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi malam takbiran di Perumahan Tlogosari. Rute pawai dimulai dari Masjid Al-Ikhlas Kawung, melintasi Bundaran Tlogosari, menuju Jalan Woltermonginsidi, lalu masuk Jalan Kyai Syakir, Jalan Syuhada, dan Jalan Nogososro, sebelum akhirnya kembali ke titik awal. Sepanjang perjalanan, rombongan tak henti-hentinya mengumandangkan takbir, menciptakan gema syahdu menyambut hari kemenangan.
Antusiasme warga terlihat jelas dari banyaknya peserta yang ikut serta, mulai dari anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu. Arianto Wibowo menyampaikan rasa syukurnya atas kemeriahan acara tahun ini. "Alhamdulillah tahun ini sangat meriah. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih meriah dengan konsep yang baru lagi," harapnya.
Kemeriahan pawai bajaj ini juga berinteraksi dengan rombongan takbiran dari wilayah lain di sepanjang jalan. Rombongan lain tersebut juga turut memeriahkan malam takbiran dengan odong-odong, mobil hias, becak hias, maupun berjalan kaki. Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kegembiraan yang melingkupi seluruh warga Semarang dalam menyambut Idulfitri.
Advertisement
Sumber: AntaraNews