Kasus Penyelundupan Pasir Timah ke Malaysia, Bareskrim Sita Kapal Diduga Digunakan Mengangkut

Kasus ini merupakan pengembangan dari pengungkapan penyelundupan pasir timah seberat 7,5 ton dikirim ilegal ke Malaysia pada 13 Oktober 2025.

Ady Anugrahadi
Oleh Ady Anugrahadi - Reporter
Kasus Penyelundupan Pasir Timah ke Malaysia, Bareskrim Sita Kapal Diduga Digunakan Mengangkut
Kasus Penyelundupan Pasir Timah ke Malaysia, Bareskrim Sita Kapal Diduga Digunakan Mengangkut (Merdeka.com)

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri menyita satu kapal berikut mesin tempel diduga digunakan untuk mengangkut pasir timah ilegal di wilayah Bangka Selatan. Kapal tersebut disita di Dermaga Kubu, Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.

Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen Pol Irhamni mengatakan, kapal itu diduga menjadi sarana awal pengangkutan pasir timah dari darat menuju tengah laut.

"Kapal ini merupakan barang bukti baru hasil pengembangan penyidikan. Fungsinya sebagai sarana pengangkut dari darat ke tengah laut, kemudian muatan dipindahkan ke kapal lain untuk diberangkatkan ke Malaysia," kata Irhamni dalam keterangannya, Jumat (20/2).

Duduk Perkara

Kasus ini merupakan pengembangan dari pengungkapan penyelundupan pasir timah seberat 7,5 ton dikirim ilegal ke Malaysia pada 13 Oktober 2025.

Dalam kasus tersebut, 11 Anak Buah Kapal (ABK) disita otoritas maritim Malaysia karena menggunakan perahu fiberglass tanpa nomor registrasi serta tidak dilengkapi dokumen perjalanan dan dokumen muatan. Kesebelas ABK itu dipulangkan ke Indonesia melalui Pelabuhan Ferry Internasional Batam Center pada 29 Januari 2026.

Selain kapal dan mesin tempel, Irhamni menerangkan, penyidik Bareskrim juga menyita barang bukti berupa pasir timah seberat 50 kilogram yang sebelumnya disisihkan oleh otoritas Malaysia.

"Barang bukti yang disisihkan sebanyak 50 kilogram, namun dalam sekali pengiriman jumlahnya mencapai 7,5 ton,” ucap Irhamni.

Tak hanya itu, sejumlah alat komunikasi milik para pelaku turut disita. "Saat ini masih dianalisis guna menelusuri jaringan serta mengungkap aktor utama yang diduga berada di wilayah Kabupaten Bangka Selatan," tandas dia.

Rekomendasi