Kemenkes Perluas CKG 2026: Skrining Kusta, Frambusia, Skabies, dan Imunisasi Jadi Prioritas

Kementerian Kesehatan memperluas Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 dengan menambahkan skrining kusta, frambusia, dan skabies, serta riwayat imunisasi, untuk menekan angka penyakit kulit dan meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Kemenkes Perluas CKG 2026: Skrining Kusta, Frambusia, Skabies, dan Imunisasi Jadi Prioritas
Kementerian Kesehatan memperluas Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2026 dengan menambahkan skrining kusta, frambusia, dan skabies, serta riwayat imunisasi, untuk menekan angka penyakit kulit dan meningkatkan cakupan imunisasi di Indonesia. (AntaraNews)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan memperluas Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada tahun 2026. Penambahan ini meliputi skrining tiga penyakit kulit utama, yakni kusta, frambusia, dan skabies, serta pengecekan riwayat imunisasi. Langkah ini diambil karena tingginya beban penyakit tersebut di Indonesia, yang masih menjadi masalah kesehatan serius dengan risiko kecacatan.

Direktur Tata Kelola Pelayanan Kesehatan Primer Kemenkes, dr. Elvieda Sariwati, mengumumkan perluasan ini di Jakarta pada Jumat. Ia menjelaskan bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga negara dengan kasus kusta tertinggi di dunia. Selain itu, Indonesia juga menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang masih melaporkan kasus frambusia.

Skabies juga merupakan penyakit kulit nomor satu di Indonesia, menunjukkan prevalensi yang sangat tinggi di masyarakat. Tingginya beban penyakit dan dampak kecacatan maupun penularannya menjadi dasar penting dilakukannya skrining secara lebih luas melalui CKG 2026.

Tingginya Beban Penyakit Kulit di Indonesia

Indonesia menghadapi tantangan besar terkait penyakit kulit menular yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat. Setiap tahun, ditemukan antara 14.000 hingga 17.000 kasus kusta di Indonesia, dengan distribusi terbesar di wilayah Pantura dan timur Indonesia. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi ketiga negara dengan kasus kusta tertinggi di dunia, sebuah fakta yang mengkhawatirkan.

Selain kusta, frambusia juga masih menjadi perhatian serius. Indonesia tercatat sebagai satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masih melaporkan kasus frambusia. Dalam lima tahun terakhir, sebanyak 60 hingga 160 kasus frambusia ditemukan setiap tahunnya, dengan konsentrasi di regional Papua.

Lebih lanjut, skabies merupakan penyakit kulit dengan prevalensi tertinggi di masyarakat Indonesia. Kasus skabies banyak ditemukan, terutama pada lingkungan dengan kepadatan tinggi, serta kondisi higiene perorangan dan sanitasi yang buruk. Beban penyakit yang berat, dampak kecacatan, serta potensi penularan dari ketiga penyakit ini menjadi alasan kuat bagi Kemenkes untuk memperluas cakupan skrining CKG 2026.

Fokus Eliminasi dan Surveilans Penyakit

Dalam upaya percepatan eliminasi kusta, Kemenkes telah menetapkan lima kabupaten dan kota sebagai fokus utama. Daerah-daerah tersebut meliputi Kabupaten Tangerang, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Brebes, Kabupaten Sampang, dan Kota Jayapura. Intervensi terarah di wilayah ini diharapkan dapat menekan angka kejadian kusta secara signifikan dan mencapai target eliminasi.

Untuk frambusia, meskipun 375 kabupaten dan kota telah mencapai status bebas frambusia, masih terdapat daerah yang memerlukan penguatan surveilans dan penemuan kasus aktif. Hal ini penting untuk mencegah munculnya kembali kasus dan memastikan Indonesia benar-benar bebas dari frambusia. Skrining CKG 2026 akan membantu mengidentifikasi kasus lebih awal dan mencegah penyebaran lebih lanjut.

Skabies, yang banyak ditemukan di masyarakat, memerlukan perhatian khusus dalam program skrining. Dengan melakukan skrining secara lebih luas, diharapkan kasus-kasus skabies dapat terdeteksi sejak dini. Deteksi dini ini krusial untuk penanganan yang cepat dan efektif, sekaligus memutus rantai penularan di komunitas, terutama di lingkungan yang rentan.

Integrasi Skrining dan Riwayat Imunisasi dalam CKG 2026

Pelaksanaan skrining kusta dan skabies akan menyasar seluruh kelompok usia, mulai dari balita hingga dewasa-lansia. Sementara itu, skrining frambusia akan dilaksanakan secara selektif pada masyarakat yang tinggal di daerah endemis frambusia. Pendekatan selektif ini bertujuan untuk mengoptimalkan sumber daya dan memastikan efektivitas program di wilayah yang paling membutuhkan.

Tenaga kesehatan telah mendapatkan sosialisasi pengenalan tanda dan gejala awal kusta, frambusia, dan skabies, serta alur pelaksanaan CKG. Proses skrining awal ketiga penyakit tersebut relatif sederhana dan tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium yang kompleks, sehingga memungkinkan untuk dilakukan secara massal dan efisien di berbagai fasilitas kesehatan.

Selain skrining penyakit kulit, Kementerian Kesehatan juga menambahkan pengecekan riwayat imunisasi. Pengecekan ini ditujukan untuk bayi baru lahir, balita usia 24-59 bulan, serta calon pengantin. Langkah ini penting untuk melengkapi imunisasi yang belum diambil, memastikan perlindungan kesehatan yang optimal bagi individu dan komunitas.

Nantinya, data CKG juga akan diintegrasikan dengan sistem pencatatan imunisasi yang sudah ada, seperti Aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK). Integrasi data ini tidak hanya mempermudah pemantauan status imunisasi, tetapi juga dapat kembali mengingatkan masyarakat sasaran bahwa status imunisasi merupakan bagian dari rapor kesehatan yang menjadi bagian dari status kesehatan sepanjang usia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi